Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Fitting.


__ADS_3

Syut... syut..


Suara siulan sumbang tak begitu nyaring tertangkap pendengaran


Dewa. pria itu tak bergeming, menoleh pun enggan.


"Om... Om.."


Dewa tak hirau, matanya tak beralih sedikitpun dari layar bercahaya di depannya.


Cicak... cicak... di dinding.


Diam.. diam... merayap...


Datang seekor..


Cintya iseng karena Dewa menghukumnya, tak memberi pekerjaan. sengaja membuat gadis itu kebosanan tanpa melakukan apapun.


Dewa melirik sebentar lalu kembali fokus menatap layar.


Hai sayangku,,,


Hari ini aku Cantik,,,


Cantik bagai bidadari,,,


Bidadari di hatimu..


Hai Sayangku,,,


Perlakukan lah diriku,,


Seperti seorang ratu,,,


Ku ingin di manja kamu,,,


Aku lagi cantik,,,


Memang lagi Cantik,,,


Aku lagi seksi,,,


Memang lagi seksi,,,


Cintya Nyanyi dengan riang meski liriknya salah gadis itu tetap mengeraskan suaranya. tak peduli Dewa yang sedang kesal menatapnya horor.


Cintya nyengir kuda. wajah tampan. Dewa terlihat sangat menakutkan.


Hari ini ujian pertama, memancing ***** Dewa dan membuat Dewa kesal. tapi Dewa belum lolos. terbukti pria itu masih bertekuk wajah.


Dahulu kau mencintaiku,,,


Dahulu kau menginginkanku,,,


Meskipun tak pernah ada jawabku,,,


Tak berniat kau tinggalkan aku,,,


Sekarang kau pergi menjauh,,,


Sekarang kau tinggalkan aku,,,


Di saat ku mulai mengharapkan mu,,,


Dan ku mohon maafkan aku,,,


Aku menyesal telah membuatmu menangis, dan biarkan memilih yang lain...


Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu,,


Pasti itu terbaik untukmu...


Kali ini lagu dari Rosa yang menjadi korban kemerduan suara Cintya yang entahlah, cukup mengganggu dan menggelitik telinga sang pria yang sejak tadi mati-matian menahan agar tak tergoda.


Dewa tak tahan, namun ia harus bertahan. pura-pura kuat agar tak menjadi korban dari calon istrinya yang keisengannya setara dengannya.


"Berisik!"


Bentak Dewa dari kejauhan, melempar Cintya dengan tatapan bengis. Cintya memaksa mulutnya untuk mingkem.

__ADS_1


Jangan pernah katakan bahwa cintamu hanyalah untukku,


karena kini kau telah menyakitiku...


Maafkan jika memang kini harus ku tinggalkan dirimu, karena hatiku selalu kau dustai...


Tak ada lagi yang bisa ku lakukan untukmu, hanya bisa mengatakan apa yang ku rasa...


Ku menangis...


Membayangkan...


Betapa kejamnya dirimu atas diriku, Kau duakan cinta ini...


Kau pergi bersama nya...


Ku menangis...


"Bociiil.... lu bener-bener buat kosentarasi gue ilang, sini lu!"


Dewa berdiri meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri Cintya yang bersiap kabur.


"Mau kemana lu?" Dewa menggamit pinggang gadis itu yang sudah berada di depan pintu.


"Mau kabur lah!"


"Setelah ganggu konsentrasi gue?"


"Siapa juga yang gangguin Om, Cintya cuma nyanyi kok dari tadi."


"Iya suara elu bikin gue puyeng" Namun jarinya menunjuk arah bawah.


"He..he" Cintya tertawa garing


"Tanggung jawab lu,"


"Caranya?"


"Elus-elus lah!"


"Ogah, dosa banget." Cintya menarik keatas sebelah bibirnya. mencibir jijik.


"Idih, ngomong apa?"


Cintya hendak melangkah pergi namun dengan cepat Dewa menariknya kembali sehingga jatuh di pangkuannya. duduk di kursi kerja Cintya.


Ceklek,


Selalu orang yang sama, Alex di Asisten durjana dan tak tau diri.


"Gak pagi gak siang, kalian udah buat mata gue sepet." umpat Alex.


"Lu itu cuma iri Lex,"


"Dasar bos gak ada akhlak, di kantor pun masih sempet-sempetnya mesra-mesraan, kagak mikirin nasib gue." Alex pasang muka sendu.


"Gak peduli, no reken, ayo cinta kita buat adegan hot biar manusia kotor ini makin terbakar."


Cintya mendelik mengernyitkan hidung.


"Sesama orang kotor harus saling mengingatkan." Celetuk Alex membalas ucapan Dewa.


"Jam dua nanti ada meeting dengan klien kita dari Pesona Corp jangan telat kalo mau makan siang di luar." Alex mengingatkan.


Dewa mengangguk, tanpa protes.


"Mau makan di luar?" tanya nya pada gadis yang masih anteng di pangkuannya.


"Kita belum fitting baju pengantin loh Om, udah Telat tiga hari dari jadwal."


"Lu kok gak ngingetin gue sih, ya udah kita pergi sekarang."


"Tapi kan ada meeting penting habis ini."


"Emang lama ya? cuma fitting kan?" Cintya mengangguk.


"Yakin?" Dewa bertanya karena Cintya masih belum beranjak. Cintya masih terdiam.


"Eh," Cintya tersentak karena merasakan tubuhnya melayang. Dewa mengangkat tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Turunin Om!"


"Gue kira lu minta di gendong, kok masih diem."


"Ishh!"


Dewa menurunkan Cintya lalu mereka berjalan bersisian keluar dari kantornya.


Beberapa menit perjalanan mereka telah sampai di butik khusus baju pengantin.


Cintya masuk ke ruang ganti bersama dengan seorang pelayan yang akan membantunya mencoba baju pengantinnya.


Beberapa menit kemudian Cintya keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun berwarna putih lengkap dengan Crown di atas kepala, minus make up pengantinnya. meski begitu Cintya terlihat bagai seorang ratu.


Dewa terkesima melihat Cintya dalam balutan gown mewah bertabur batu Swarovski dengan potongan. sederhana.


"Gimana om?" Dewa tak berkomentar. pria itu hanya tersenyum yang mengartikan bahwa ia setuju dengan pilihan gadis yang akan menyandang nama belakangnya.


Setelah dari butik, mereka berdua melanjutkan makan siang di restoran cepat saji untuk menghemat waktu.


"Om, boleh Cintya bertanya sesuatu?"


"Mau nanya apa? soal mahar?"


Cintya menggeleng, "Bukan itu."


"Lalu?"


"Apa sebenarnya masalah Om dengan kak Leo?" Cintya ragu namun gadis itu sangat penasaran.


"Kenapa lu tiba-tiba nanya masalah itu?"


"Apa sangat rahasia hingga Cintya gak boleh tau?"


"Leo ngira gue ambil Lilian dari dia."


"Lilian? Dokter Lilian?" Dewa mengangguk.


"Kok bisa?"


"Kakak elu aja yang oon, gak ada angin gak ada hujan langsung nuduh kita ada hubungan."


"Gak mungkin kak Leo asal tuduh, pasti ada yang buat kak Leo berfikir seperti itu."


"Kakak elu liat gue peluk Lilian."


"Nah kan!"


"Emang kenapa kalo gue peluk Lilian, gak ada yang salah kan?"


"Ya jelas salah, laki-laki dan perempuan berpelukan, yang lihat pasti mengira mereka ada hubungan khusus." Cintya meninggikan intonasi suaranya.


"Gue emang ada hubungan khusus sama Lilian."


"Tuh kan ngaku?" Cintya manyun.


"Cie, yang lagi cemburu," Dewa menampilkan senyum menyebalkan seperti biasa. penyakit isengnya kumat.


"Siapa juga yang cemburu,"


"Tapi kok manyun, bikin gemes pengen gigit"


"Apa sih." Cintya menepis tangan Dewa yang mencubit gemes dagunya.


"Gue sama Lilian ada hubungan yang lebih dari persahabatan" Cintya diam mendengarkan. meski hatinya sedikit merasa tak nyaman.


"Dia itu spesial." hati Cintya mencelos.


"Gue sayang sama dia" Cintya merasa sedikit nyeri dalam hati. namun mulutnya tetap diam.


"Dia adalah teman dan sahabat terbaik gue," Sedikit mempercayai, tapi hatinya masih menolak untuk percaya.


Cintya bimbang. Pria di depannya adalah mantan Play boy jadi harus di waspadai.


"Lilian adalah adik gue."


"Apa?"


***

__ADS_1


Lanjut gak malem???


__ADS_2