Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Sebuah penawaran.


__ADS_3

Happy Reading...


Cintya juga akan berusaha, tapi om harus lebih keras karena Cintya ini cukup sulit buat di bikin terkesan."


Dewa menelan ludah. ia seperti di paksa untuk meminum jus pare.


Pahit!!!


Dan sesuatu yang di minta Cintya seperti tender yang ingin ia menangkan tanpa modal.


Gak mungkin!!!


Kembali Dewa menelan ludah. ini adalah tantangan tersulit dalam hidupnya. lebih baik ia bersaing bisnis. itu cukup mudah baginya. otaknya sudah cukup terbiasa untuk memecahkan masalah bisnis.tapi cinta, oh tidak Dewa tak memiliki pengalaman apapun dengan kata yang bernama cinta itu. pria itu bahkan belum pernah bertemu atau berkenalan dengan yang namanya cinta.


Lalu apa Dewa ingin menyerah? tentu saja tidak. jawabannya akan tetap sama. dia tak ingin miskin menjadi gelandangan dengan wajah tampan yang ia gandang-gandang kan bak Dewa Yunani. bisa hancur reputasinya di mata wanita-wanita yang pernah di kencaninya. apa kata dunia jika mengetahui Dewa Herlambang sang Casanova kaya raya tinggal di rumah kontrak dalam gang dan kesana kemari tanpa Black card yang tak pernah sendirian bertengger di dalam dompetnya. dan jangan lupakan kuda besi yang menjadi tunggangannya sudah barang tentu hanya akan tinggal gambar.


"Cil apa gak ada pilihan lain gitu?" jiwa bisnis Dewa kembali bergejolak melakukan negosiasi.

__ADS_1


"Apa om punya penawaran lain?" si gadis balik menantang.


"Gimana kalau kesepakatannya kita ganti." Dewa masih menawar, manik coklat terangnya memandang lekat ke arah gadis bermata bulat di depannya. berusaha menghipnotis dengan tatapan lembut namun sangat menggetarkan. berusaha meluluhkan hati gadis keras kepala di depannya.


Cintya balik menatap manik mata coklat itu dengan hati tak karuan rasa. melihat tatapan iba itu hatinya sedikit bergetar, ada rasa kasihan yang yang mendera. namun keegoisan tetap mendominasi kepalanya. untuk apa mengalah pada sesuatu yang tak menguntungkannya.


"Oke kalau itu menguntungkan, jika tidak lupakan saja. pasti ide om konyol seperti biasanya." Cintya membuang muka. tak mau ia berlama-lama bertukar pandangan. ia tak boleh sampai luluh hingga ia kalah dan menjadi alat untuk kemapanan orang lain sedangkan dirinya masih sama. menjadi gadis dengan pengawasan.


"Gimana kalau villa ini buat elu, bukannya elo suka sama nih villa." tawar Dewa.


"Buat apa, jika rumah kakek masih sanggup buat nampung Cintya." jawab Cintya santai.


"Ogah! kak Leo masih sanggup kok jajanin Cintya." gadis itu masih menolak.


"Gimana kalau 30% saham Herlambang Corp?" tawar Dewa lagi dan sepertinya ini adalah tawaran terakhir yang mampu ia berikan.


Cintya menaikkan sebelah alisnya. tawaran yang cukup menggiurkan sebenarnya. meski kekayaan keluarganya tak dapat di bandingkan dengan harta keluarga Herlambang namun gadis yang terbiasa tercukupi itu tak akan mudah tergiur. karena keinginannya sangat sederhana. bebas melakukan hal yang ia mau selagi ia mampu. dan tentang tantangan cinta itu sebenarnya ia pun tak pernah berfikir sebelumnya.

__ADS_1


"Jika Cintya bisa miliki semuanya, kenapa harus 30%? bukankah jika menjadi nyonya Herlambang cukup mudah untuk membuat eyang Herlambang melimpahkan seluruh aset atas nama Cintya." jawaban gadis berbibir mungil itu cukup membuat Dewa kicep. mingkem seketika.


"Apalagi jika Cintya mampu memberi penerus, akan semakin mulus bukan?" Cintya tersenyum menang,


Dewa mendengus sebal. dia yang sudah terlatih untuk mengalahkan lawan bisnis kini harus mengaku kalah di depan gadis yang baru berusia 23 tahun.


Sungguh memalukan!!


"Kalau begitu kita lakukan sekarang. lebih cepat lebih baik." tegas Dewa.


"Apanya?" Cintya berkerut bingung.


"Bikin penerus Herlambang." Dewa mengerling nakal.


"Najisss!!!"


***

__ADS_1


Terima kasih udah mampir.


__ADS_2