
Happy Reading...
Matahari menyelinap melalui kaca jendela, tirai yang tak tertutup sempurna membuat pemuda yang sedang terlelap itu mengerjap.
Leo mengerjapkan mata, lalu duduk bersandar di kepala ranjang. ia baru tersadar bahwa saat ini dia tak berada di kamarnya sendiri.
Bibirnya tersenyum, pagi yang cerah Solah menggambarkan perasaannya yang seperti terbebas dari himpitan batu selama bertahun-tahun.
Kakinya melangkah keluar dari kamar saat tak mendapati Dewa di tempat yang semalam pemuda itu tempati untuk tidur.
"Apa lu buatin sarapan buat gue," Leo bersuara dari pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.
"Kalo mau makan cari sendiri, gue bukan pengasuh elu?"
"Pelit lu, gue tamu di sini harusnya elu ngasih pelayanan yang baik buat gue," Leo menyambar semangkuk oat yang telah Dewa persiapkan.
"Oat gue itu." Bentaknya kesal.
"Emang lu udah miskin ya sampe sarapan aja bikin sendiri gak pesen di luar." sambil menikmati sarapan gratisnya Leo berucap.
"Lu kira gue seperti ini karena apa? Nooh ada pengawasan dua puluh empat jam yang mengintai gue." tunjuknya pada kamera yang berada di pojok atas tembok dapur.
"Wah, adek gue selain bakat bikin onar ternyata dia berbakat juga jadi pawang buaya." Leo tersenyum miring.
Dewa angkat bahu cuek, tangannya masih lincah menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.
"Gue pergi, makasih atas penginapan sama sarapan gratisnya, elu dapet sepersepuluh restu gue." Leo melenggang meninggalkan Dewa yang masih berkutat dengan area dapur mininya.
"Gila, bener juga tuh si mulut ketus, kenapa juga gue mau di atur sama tuh bocah. untung cinta kalo enggak, udah gue terkam tuh anak" Dewa bermonolog.
"Cinta emang bikin gila, karena dia gue jadi pria brengsek dan karena dia juga gue berenti jajan oral."
Dewa terkekeh menyadari kegilaannya bermonolog sendiri.
__ADS_1
***
Kesibukan mulai terasa menjelang perhelatan Akbar seorang pewaris kerajaan bisnis Herlambang Corp dan pemilik beberapa hotel bintang lima yang tersebar di beberapa kota besar.
Terhitung dua puluh hari lagi, acara yang di gelar besar-besaran dengan mengangkat tema Garden party sama sekali tak membuat kedua calon mempelai sibuk, semuanya di serahkan kepada tangan-tangan profesional.
Tak urung juga sang Asisten yang kelimpungan mengatur ulang dari rencana semula yang mengangkat tema Mermaid menjadi pesta kebun.
"Bos, lu bener-bener antek Belanda, gue lo jajah sampe segininya." Keluh Alex saat kembali dari pertemuannya dengan WO yang akan mengatur ***** bengek pernikahan Dewa.
"Ngeluh aja lu kerjaannya, gue kasih bonus besar lu masih bilang jajah sama gue,"
"Lagian ngapain sih lo tiba-tiba alih jalur kayak gini, bikin repot gue aja." protesnya tanpa rasa takut.
Alex memang lelah bahkan sangat lelah. tak hanya Dewa yang memarahinya namun juga orang-orang WO yang merasa kesal karena saat semuanya sudah di persiapkan mendekati sempurna namun tiba-tiba Dewa meminta mereka merubah tema pernikahannya.
"Bukan gue yang minta, tuh ibu negara yang pengen." tunjuknya pada gadis yang anteng duduk bersandar di meja kerja Dewa.
Alex dan Dewa saling pandang heran, tak biasanya si putri kehilangan kicaunya.
"Sepertinya akan ada drama lagi, gue pergi aja sebelum jadi korban lagi," pamitnya pada Dewa.
Dewa beralih menatap sang ratu yang tengah tenggelam dalam lamunannya.
"Lu kenapa sih?" tanya Dewa, yang di tanya cuma menatap sekilas. lalu kembali ke mode melamun.
Dewa mengambil alih kursi yang sedang di tempati oleh Cintya dan memindahkan gadis itu di atas pangkuannya.
"Hey, kenapa?" Dewa menelisik wajah yang tak menampilkan senyum sama sekali itu dengan sangat intens.
"Om, bisa tidak kita undur pernikahan kita." ucapnya sambil menatap Dewa yang juga tengah memandangnya dengan wajah penuh pertanyaan.
Cintya menunduk, tak berani membalas tatapan Dewa yang menghujam langsung ke dasar hatinya.
__ADS_1
Jantung Cintya berdetak dengan cepat antara rasa takut, resah dan juga tak rela.
Takut karena tatapan Dewa yang seperti hendak mengulitinya.
Resah karena ada masa lalu yang mengganjal dan Cintya merasa belum menuntaskannya.
Tak Rela jika Dewa tiba-tiba menuruti keinginannya, karena sejujurnya Cintya pun sudah merasa nyaman bersama Si Sableng yang tak pernah berkata tidak pada titahnya.
Tapi masa lalu yang masih tersimpan di dalam hati gadis itu membuatnya merasa berat untuk melangkah lebih jauh. seperti ada tangan panjang yang menyeretnya untuk menoleh kembali kepada masa lalunya.
"Jangan bercanda deh, pernikahan kita tinggal dua Minggu lagi." Ucap Dewa menaikkan intonasi suaranya.
"Dua puluh hari lagi," Koreksi gadis itu.
"Berikan gue alasan yang tepat kenapa lu minta kita undur pernikahan kita."
"Cintya gak Cinta sama Om."
Jedarrr...
***
Nah loo Cintya kok gitu sich???
Nungguin yah???
Maafkeun diriku yang di sibukkan dengan acara nguli , 😂😂😂
Semoga entar malam di kecil gak rewel dan si emak tidak ketiduran
🤣🤣🤣🤣
Butuh kopi geees, Wkkkk
__ADS_1