
Happy Reading...
Beberapa hari sejak kejadian motor hilang dan kiriman surat misterius itu, kini Dewa lebih banyak tinggal di rumah dari pada di apartemen. dengan alasan keamanan, dan juga tak dingin kecolongan. apalagi jika bukan tentang masa lalunya.
Penyelidikan Alex tak membuahkan hasil. begitupun Zack tak mampu melakukan apapun. tak ada petunjuk apapun tentang siapa yang menulis surat kaleng itu.
Hingga kini kehamilan Cintya telah memasuki minggu ke dua puluh, tak pernah ada lagi drama mual di pagi hari yang Dewa alami. tapi ia masih harus melewati drama istrinya yang kelewat cerewet.
Harusnya Alex senang dengan keadaan Dewa yang membaik, tapi Dewa tetaplah Dewa, akan sangat rugi jika mulutnya tak memberikan perintah yang menyulitkan Alex.
"Lex, kok gue ngerasa rugi gaji elo?" masih dengan kebiasaan barunya, yang sebenarnya tak perlu ia lakukan lagi. mengunyah biji jagung goreng.
"Rugi gimana, gue kan rajin?" kebiasaan memang menular entah itu baik atau buruk. yang pasti saat ini Alex pun ikut-ikutan gemar ngemil jagung goreng.
"Lo banyakan ngelayapnya dari pada duduknya."
"Gue ngelayap juga karena perintah elo?" sanggah Alex tak terima. lalu melempar Dewa dengan butiran di tangannya.
"Ngeles mulu mulut lo." Dewa mendengus sebal.
"Ya udah sih, gue anteng aja di kantor. biar lo gak rugi bayar gue. lo aja sendiri yang pontang-panting siapin kado buat anak elo?"
Dewa tersenyum sumringah, tentu saja ia tak serius memarahi Alex. ia tahu seberapa keras usaha Alex untuk membuatnya puas dalam pekerjaan di tengah tugas aneh yang Dewa perintah kan juga bulan kemarin ini.
"Gue maunya saat twins lahir, semuanya sudah siap."
Dewa memang sedang menyiapkan dua proyek sekaligus untuk menyambut kelahiran buah hatinya. sebuah hunian pribadi yang di bangun dengan desain impiannya dan Cintya. dan satu lagi sebuah proyek perumahan elit yang mengusung tema sederhana namun elegan dan tetap mengedepankan kenyamanan serta kehangatan.
"Emang anak lu cewek apa cowok sih Wa?" tanya Alex penasaran karena sering melihat Dewa sedang memandang foto hasil USG.
"Gue gak tau, biar jadi kejutan. pasti seru."
"Ya udah gue juga do'ain anak Lo cewek."
"Kenapa cewek?"
"Biar lo makin pusing ngadepin tiga mulut sekaligus." Alex terbahak dengan pemikirannya sendiri. membayangkan Dewa di buat pusing dengan kecerewetan istri dan puteri kembarnya pasti sangat menyenangkan.
"Sialan lo, beresin meja gue. gue kangen bini."
Dewa beranjak menyambar jas dan kunci mobilnya dan bergegas meninggal kan Alex yang turut bergerak.
Hari sudah larut, Dewa sering pulang terlambat akhir-akhir ini. itu sengaja ia lakukan agar bisa memiliki waktu lebih saat hari persalinan mulai dekat. pekerjaan yang banyak menyita waktu dan memangkas jam bersama istrinya.
Biasanya sore hari saat ia pulang, Cintya akan selalu menunggunya. dan menyambut kedatangannya dengan senyum tercantiknya. wajah segar serta perut membuncit nya merupakan pemandangan yang mampu merontokkan segala lelah dan penatnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera saja masuk. ia yakin Cintya sudah menunggunya di atas tempat tidur dan terlelap di bawah selimut. meski begitu, Dewa tetap ingin cepat-cepat memeluk tubuh dan menghirup wanginya.
__ADS_1
Ceklek.
Padahal sudah sangat pelan, kenapa kunci pintu ini tidak dapat bekerja sama.
Dewa terdiam di ambang pintu melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Cintya dengan lingerie merahnya. entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu, sehingga ia bisa mendapatkan kejutan yang luar biasa ini.
"Kok belum tidur, nungguin ya?" Dewa menghampiri setelah meletakkan jas dan tas kerjanya di sofa.
"Belum ngantuk." melihat pakaian yang Cintya kenaikan, Dewa yakin istrinya sedang menunggu nya.
" Kakak kelamaan ya?" Cintya mengangguk lesu.
Cintya memang berinisiatif menunggu Dewa dengan pakaian tak beradabnya, namun sayang ketidak tahuan Dewa membuatnya kesal sendiri.
"Kangen?" Cintya kembali mengangguk.
"Sini peluk." Dewa merentangkan kedua tangannya yang langsung di serbu oleh Cintya.
"Kok malem banget?"
"Maaf, tadi ngobrol pekerjaan sebentar sama Alex. tadi kan kakak sudah bilang mau pulang telat." Cintya mengangguk dalam pelukan Dewa.
"Ini kenapa pake beginian? mau goda siapa?" Dewa menarik tali spageti di bahu Cintya.
"Enggak." Cintya menggeleng malu dan semakin menyerukan wajahnya di dada bidang Dewa.
"Kakak mandi dulu, setelah itu kita main-main." meski lelah, tapi jika mendapatkan pemandangan seperti itu tentu saja sesuatu di bagian bawah sana merasa terusik.
Dewa melepas kan pelukannya dan berlalu ke kamar mandi untuk mandi singkat. untuk apa bersih-bersih, setelah ini ia akan mandi lagi.
Lima belas menit kemudian, Dewa keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk di bagian bawah. tubuhnya yang masih menyisakan basah dari tetesan rambut melalui kulit putihnya tampak begitu menggoda. Cintya sampai menggigit bibir bawahnya.
Melangkah lebih dekat ke arah ranjang, Cintya memundurkan tubuhnya. melihat Dewa dan tatapannya, ia sadar telah melakukan kesalahan.membangunkan singa lapar bukan pilihan bagus.
"Kak, gak jadi deh, aku kok ngeri?" ujarnya konyol.
"Setelah bikin dia kaku begini, enak aja."
"Tapi,, tapi,,"
"Gak ada tapi-tapi, sini lu tanggung jawab."
Entah setan apa yang menyapa Dewa dalam kamar mandi, bukankah sebelum masuk pria itu baik-baik saja. tapi kenapa dia seperti kesetanan setelah keluar. pasti ada yang terjadi.
"Ogah, ngeri."
"Sini bocil, gue bakal puasin elu."
__ADS_1
"Bocil,, bocil, di dalem sini ada bocil." Cintya mendelik tak mengerti dengan sikap Dewa.
"Iya gue lupa, ada dua bocil gue di sana." Dewa menyergap Cintya tanpa ada perlawanan.
Dewa mulai mengelus perut Cintya yang sudah sebesar bola sepak. menciumnya di atas kain tipis dan menggerak-gerakkan wajahnya di sana.
"Hai twins, papi kangen pengen jenguk kalian." ujarnya manis membuat Cintya lupa akan ketakutannya.
Srekkk!
Dewa merobek bahan transparan itu dengan sangat kasar. Cintya yang tak memakai apapun di baliknya merasakan udara dingin yang langsung menyergapnya.
Dewa memulai ritualnya dengan ciuman di bibir dan berangsur turun ke tempat favoritnya. yaitu dua bagian yang menonjol dan semakin membesar seiring dengan perut Cintya yang membesar.
Mencecap dan meninggalkan jejak di sana dan sepanjang jalan yang ia lalui hingga ia sampai di tempat tujuan utama. yaitu lembah yang hangat dan basah.
Di sanalah ia berlama-lama. mengubur miliknya ke bagian yang paling dalam.
"Cinta.. cinta... " racaunya penuh kefrustasian. bagaimanapun ia tak dapat menuruti nafsunya, bergerak liar. ia masih ingat jika ada dua nyawa yang harus ia jaga di dalam sana.
"Kak!" tak kalah, Cintya sama gilanya. libidonya yang semakin tinggi membuatnya sangat menikmati permainan Dewa.
Keduanya harus bersabar dengan gerakan yang lembut namun intens. merasakan miliknya yang di remas kuat dan ekspresi wajah Cintya yang menegang, Dewa tahu jika Cintya akan segera sampai.
"Bersama Honey,"
Dewa memacu lebih cepat, hingga ranjang mereka berdecit. udara dingin malam kini menjadi panas oleh gerakan mereka yang semakin lama semakin brutal. tak ada lagi gerakan lembut. yang ada hanyalah hujaman kuat dan dalam. hingga ia merasakan lelehan hangat dan di ikuti oleh semburannya yang tak kalah kuat.
Keduanya mengeram bersama dengan pelukan yang saling mengeratkan.
Dewa menjatuhkan tubuhnya kesamping agar tak mendindih perut Cintya.
"Dia gak papa kan?" Dewa mengelus lembut dan menciumnya gemes.
Cintya menggeleng, tangannya menyusup di antara helaian rambut legam Dewa dan mengelusnya.
"Makasih sayang."
***
Aku lama gak muncul ya???
kalian rindu gak sih
Alex Otewe.
__ADS_1