
Happy Reading...
Terhitung tiga puluh empat jam lima puluh sembilan menit tujuh belas detik lamanya, Dewa tak melihat sang pujaan hati. sungguh rentang waktu yang sangat menyiksa.
Apalagi tiga belas jam yang lalu saat acara seserahan di malam Midodareni Dewa sama sekali tak diijinkan untuk melihat Cintya, karena gadis itu sedang dalam masa pingitan di dalam kamar.
Sedangkan Leo hanya memperlihatkan foto gadis itu dalam balutan kebaya berwarna jingga yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang bersih. sungguh pemandangan yang merusak mata. membuat kesehatan hati dan jantung Dewa di uji dalam waktu bersamaan.
Dan pagi ini puncaknya, seluruh keluarga termasuk dirinya sudah berada di dalam hotel milik keluarga Herlambang untuk acara akad nikah sekaligus Resepsi awal.
Dewa semakin gusar di kungkung rindu karena dia belum melihat sang pujaan hatinya. bahkan untuk menelponnya pun tak di ijinkan.
Leo dengan sengaja menyiksanya, membawa Ponsel Cintya agar ia tak dapat berbicara dengan Cintya.
Di dalam kamar Cintya tengah melakukan sesi periasan di dampingi oleh ibu dan beberapa sanak saudara.
Acara akad yang mengusung tema Jawa kuno, membuat Cintya yang jauh dari make up tebal membuatnya tampak berbeda.
Dalam balutan kebaya berbahan bludru berwarna hitam dengan pinggiran warna emas khas Jawa, lipstik merah merona dan paesan di kening. dan jangan lupakan sanggul besar bertahtakan melati asli. dengan ronce bunga melati berselip anggrek berwarna ungu menjuntai hingga bawah dada, mampu menyembunyikan keaslian wajah Cintya.
Siapapun tak akan mengenali siapa pemilik wajah yang tersembunyi di balik make up tebal itu.
"Apa sudah selesai? penghulunya sudah siap di depan." Leo datang untuk melihat persiapan pengantin.
"Bu, Cintya mana kok dari tadi aku belum melihatnya " dengan sengaja Leo mengucapkan itu, sebuah kalimat yang sebenarnya ingin di ucapkan untuk menggantikan pujiannya karena kecantikan Cintya.
"Issh.." Cintya mendesis kesal. ia tahu Leo sedang meledeknya saat ini.
__ADS_1
"Tau kenapa tuh anak ngilang gak jelas, ya udah karena kasihan sama si sableng, ibu bawa aja nih anak orang" timpal ibu menanggapi candaan Leo.
"Tapi dia lebih cantik kok Bu dari anak monyet, pantaslah buat dampingi si sableng. gak malu-maluin buat di pajang."
Candaan Leo membuat Cintya berdecih, pasang muka jijik. membuat semua orang tergelak renyah.
"Ya udah, Leo ke depan dulu. oh ya dek, setelah ini bilang sama laki lu, suruh baek-baek sama gue.karena buat jadi wali elu itu gak gratis." Keo terkekeh sambil berlalu meninggalkan Cintya dengan kedongkolannya.
Kini Cintya hanya menunggu untuk di jemput menuju meja akad
Di Balroom hotel, Dewa sudah bersiap dengan pakaian khas pernikahan warna senada dengan yang di pakai Cintya.
Keris yang terselip di punggungnya menegaskan aura kejawen dalam darahnya kendati wajahnya yang dominan Eropa, garis wajah yang di turunkan dari sang mama.
Pria itu tampak gelisah menanti, terlihat dari gestur tubuhnya yang bergerak resah.
Dewa dapat merasakan, setelah ini Leo pasti akan mengerjai habis-habisan. karena Dewa tak berhasil membantunya membuat Lilian luluh.
"Lu tau, semua ini gak gratis. gue gak akan mulusin gerakan elu buat miliki adek gue." ancamnya membuat Dewa ingin meninju wajah tampan leo.
"Bukan salah gue kalo Lilian gak mau balik ke elu, elu aja yang oon gak bisa rayu wanita." ejeknya pada Leo, membuat pria bertuxedo hitam itu mendengus.
"Gue bukan elu si mulut gula, dasar gudang gombal receh."
Tolong di garis bawahi di bagian gudang gombal receh, itu adalah julukan Dewa semasa sekolah.
Dewa tergelak, ternyata Leo masih ingat julukan itu.
__ADS_1
Leo berlalu meninggalkan Dewa yang saat itu di apit oleh dua sahabat sablengnya.
Lalu datanglah sang kakek, pria tua pencetus ide perjodohan tak masuk akal yang berakhir sebuah kisah yang manis.
"Kau gugup?" ledeknya pada sang cucu.
Dewa tak menjawab, gerakan tangannya menggaruk tengkuknya sudah menjawab pertanyaan Kakek.
Kakek Wisnu terkekeh di samping pria paruh baya yang sedang memandang ke arah satu titik yang jauh di sana.
Graciela yang adalah ibu dari mempelai pria menyadari itu dan mengikuti arah pandang suaminya."
"Tiga puluh tahun berlalu dan kau masih terpaku padanya " lirih wanita itu.
"Kau tahu bukan, bagaimana hubungan kami dulu." Ujar pria itu lirih.
"Maafkan aku Ren, ini semua karena aku."
"Sudahlah, semua sudah berlalu "
Rendra berlalu menjauh saat sang pengantin semakin mendekat ke arah altar pernikahan.
Pria itu memasukkan sebelah tangan ke dalam kantong celananya, berdiri agak menjauh dari kerumunan sepasang pengantin namun pandangannya masih pada satu titik yaitu wanita yang berstatus calon besannya.
***
Ada apa denganmu???
__ADS_1
jeng... jeng.. jeng...