Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Demi daster bolong.


__ADS_3

Happy Reading...


"Ya udah deh, kita beli dasternya di Mesir saja!" ucap Cintya asal.


"Gak bisa,,, gak bisa,,," Cepat-cepat Dewa menolak.


"Kenapa emang?" Cintya merengut.


"Gue cuma takut elu minta jubahnya Anck Suk Namun." Jawab Dewa Asal.


"Anck Suk Namun, udah rundingan sama Imhotep mereka udah damai di pojokkan piramid" jawab Cintya Som tahu.


"Kok lu tahu kalo mereka lagi rundingan sekarang?"


"Ya kan mereka sepasang kekasih,'


"Sok tahu kamu cil,"


"Udah ih, Kok malah bahas mummy, jadi beliin daster gak?"


"Iya jadi, tapi setelah elo gue gagahin,"


"Emang apa hubungannya gagah sama daster?"


"Gagahin Cil, bukan gagah?"


"Emang beda? kok aku jadi gagal faham gini sih?"


"Gue gagahin elu biar elu hamil terus elu pake daster sepuas-puas elu."


"Lah kok jadi kemana-mana ngomongnya?"


"Kan bener tuh, gue gagahin elu dulu, terus elu hamil baru elu pake daster"


"Tuh kan. makin ngelantur, buntut nya pasti mesum, dasar."


"Lama deh, yuk gue gagahin elu, habis itu gue beliin daster satu truk," Ucap Dewa sambil menarik tangan Cintya pelan ke arah kamar pribadinya di ruang itu.


"Om!"


"Ya Cinta,"


"Lepasin" Cintya memberontak, ia tahu bahwa Dewa semakin berani sekarang, seperti kejadian di hotel itu.


Mulai saat ini Dewa harus diwaspadai.


"Aku teriak nih," Ancamnya basi.


"Teriak aja, gue pecat yang berani ganggu kita." Ancam balik Dewa.

__ADS_1


"Om, Ini kantor,"


"Oh, maunya di Hotel?"


"Pak Dewa, ini tindak kekerasan, anda bisa di pidana." ancamnya sambil terus berusaha menarik tangan dari genggaman tangan besar Dewa.


"Duit gue banyak, gue beli mulut Ara saksi atau gue sewa pengacara handal."


"Tolong...Tolong..."


Cintya berteriak, meski ia sadar jika Ruang Dewa lengkapi dengan peredam Suara.


Ceklek.


"Kalian buat mata gue perih pagi-pagi." Sang Asisten durjana masuk,seperti biasa tanpa mengetuk pintu.


"Mau apa lagi?" Bentak Dewa.


Alex nyengir, "cuma mau ngingetin duit Lima juta udah gue masukin ke cash bon."


Mendengar Alex bicara angka lima juta, Cintya kembali teringat dengan Lucia kang seblak yang memakai daster berlengan pendek hingga memperlihatkan ketiaknya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


Seketika Emosinya kembali naik ke ubun-ubun. apalagi saat mengingat dia di samakan dengan wanita gendut yang lebih menyerupai tong dengan gelambir lemak di perutnya.


Cintya merasa terhina!


Dan apa tadi, duit Lima juta?, enak bener, itu duit mubadzir amat. mending buat gue. batin Cintya memprovokasi.


"Eh tidak bisa, itu sesuai perintah anda," Alex menolak keras untuk di persalahkan.


Dewa mendelik, memberi kode pada Alex lewat agar menutup mulut. kebiasaannya ngoceh bisa membuat rahasia mereka terbongkar.


Alex yang pintar langsung dapat menangkap kode itu. tapi bukan Alex namanya jika tak membawa Dewa pada masalah.


"Ngapain komat-kamit bos, lagi baca mantra?"


Cintya langsung melihat ke arah mulut Dewa, seketika Dewa menghentikan gerakan mulutnya.


"Pergi gak!" bentak Dewa.


"Gak!" Alex justru menantang.


"Gue cekek juga lu," Alex lari tunggang langgang, Dewa mengejarnya sampai pintu.


"Bisa kita lanjutkan?" Tanya Cintya tapi suaranya berubah intonasi. lebih menekankan kata.


"Siap,," Dewa sumringah.


Cintya masuk terlebih dulu ke kamar pribadi Dewa, Pria itu mengikuti langkah cepat gadis semampai bertubuh mungil yang menjadi pujaannya.

__ADS_1


Dewa tersenyum lebar, tak merasa curiga sedikitpun. pikirannya di penuhi dengan adegan hot meski ia tahu tak akan ada adegan ehem ehem yang menguras peluh.


Berkeringat pagi-pagi,


Batin Dewa sumringah.


Sampai dalam kamar Dewa terperangah dengan apa yang di lakukan Cintya. pria itu sampai menelan ludah berkali-kali.


Cintya dengan gerakan pelan membuka satu persatu kancing Dewa sehingga menampakkan kulit putih Dewa dengan tonjolan otot yang sangat keras.


Dewa terbuai dalam sentuhan jemari lembut gadis itu. angannya melambung, tak apalah untuk hari ini ia mangkir dari meeting. bahkan kehilangan tender pun it's oke.


Kemeja Dewa teronggok tak berdaya di lantai, Dewa semakin belingsatan apalagi saat jari telunjuk Cintya berulah nakal, menyentuh jakun pria itu menurun dan berhenti di atas perut Dewa.


"Cin," Dewa tercekat. pria itu tak mampu menahan geli. lebih tepatnya hampir on.


"Nikmati saja om," Suara Cintya di buat sesensual mungkin.


"Kamu yakin?" Dewa hampir terlena.


"Kenapa enggak, demi daster bolong yang om janjikan," Cintya berkata lirih.


Dewa mendadak merasakan kejanggalan, apa tadi dia bilang? Demi daster? kok aneh bukannya minta batu turquoise seperti yang ia absen Kemarin.


Tapi angan yang melambung menutup logika Dewa yang memang berotak mesum.


Cintya mundur selangkah, dengan gerakan sensual membuka kancing kemejanya yang paling atas, sehingga leher jenjangnya terpampang menggiurkan.


Dewa semakin terbakar, dengan langkah bak seorang model pria itu melangkah mendekati Cintya yang duduk di tepian ranjang dengan menyilang kan kaki. paha mulusnya terlihat sungguh menggoda, merontokkan iman sang Casanova yang hanya seujung kuku.


Cintya mengusap-usap lehernya, menirukan gerakan iklan minuman kaleng di televisi. Tapi Dewa melihatnya dengan berbeda. Cintya lebih tampak melakukan gerakan menggoda.


Posisi Dewa tepat di depan Cintya, mendekatkan mulut ke leher di bawah telinga, mengendus dengan rakus.


Cintya sengaja mendesah untuk membakar Dewa lebih hebat lagi. Dewa semakin bersemangat.adik kecilnya mulai resah bergerak menggeliat di bawah sana.


"Gue gak napsu maen pagi-pagi." Cintya berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Dewa di puncak gairahnya.


Demi Daster bolong, dewa merasa terhina lebih tepatnya tersiksa.


"Cinta,,, Kau menghajarku dengan sangat kejam!" Suara Dewa menggelegar di dalam kamar.


Cintya cekikikan penuh kemenangan, duduk anteng di meja kerjanya setelah membenarkan kancing kemejanya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.


***


Mood booster buat yang lagi malas masak, sama dengan akuuuh yang lagi nyiapain amunisi siang...


Next kita kupas masa lalu...

__ADS_1


Komen kalian yang menentukan,,,


__ADS_2