
Siapkan tisu daster kain lap atau apapun. pokoknya harus!
Happy Reading...
Dewa menggeram frustasi dengan tangan terikat di atas kepala oleh dasinya sendiri. sesekali terdengar lenguhan dan desisan penuh penderitaan. raut wajahnya terlihat sangat memohon penuh kesakitan. namun sorot matanya menunjukkan bahwa ga*rahnya sedang berada di puncaknya.
Dadanya tampak mengkilap karena raga yang terbakar oleh na*su. seluruh tubuhnya terasa panas dengan darah yang mengalir cepat dan berpusat pada satu titik.
Tubuh kekarnya terekspos tanpa sehelai benangpun. tonjolan otot-otot di lengan, bahu dan perutnya mengerat seiring tubuhnya yang meronta dan berusaha untuk membebaskan kedua tangannya yang terikat berat.
Dewa menggelepar di atas ranjang king sizenya. dan di sana adiknya sedang menderita hingga ia pun merasakan sakitnya sampai ke ubun-ubun.
"Damn!" umpatnya. membuat seseorang yang di sana tertawa penuh kemenangan.
"Kau bicara buruk kakak, kau harus di hukum." Cintya menelusuri telapak kaki Dewa dengan ujung telunjuknya.
"Oh No baby please." setelah umpatan kini permohonan yang terdengar. pria itu tak tahan, lebih baik ia mendapatkan tinju dari pada gelitikan jemari istrinya.
Cintya semakin menjadi-jadi. sekarang bukan lagi telapak kaki sang suami yang menjadi korban. melainkan tubuh yang lain.
Hey, honey."... Dewa menyapa dengan menampilkan senyum paling manis.
" Kakak, kau lama sekali." suara manja itu yang sangat di sukai oleh Dewa.
"Apa si cantik ini merindukanku?" dengan hati yang berbunga-bunga pria itu bertanya.
Di raihnya tubuh sang istri dan membawanya ke atas pangkuannya.
"Bisakah kita pulang ke villa sekarang?"
Dewa mengerutkan dahi. merasa aneh, bukankah kemarin Cintya sendiri yang mengusulkan untuk tinggal di rumah, tapi kenapa sekarang meminta kembali villa.
"Bukankah baru kemarin kita dari villa, kok mau balik aja kenapa?"
"Atau kita ke apartemennya kakak saja." ide yang membuat Dewa semakin heran. bahkan mungkin sekarang ia merasa resah dan sedikit curiga.
"Kamu gak lagi ngerencanain sesuatu kan?"
Entah kemana ucapan manis yang yang mengalun indah memanjat yang Dewa ucapkan barusan.
"Ngerencanain apa?" sengit sang nyonya.
"Tau!" Dewa mengetikkan bahu.
"Ishh, negatif thingking mulu sama aku."
"Bukannya begitu, tapi... kok kakak jadi curiga." Dewa menelisik wajah wanita yang sedang di pangkunya. sama sekali tak menunjukkan apapun. yang patut di curigai di sana.
"Curiga apa, ya udah kalo gak mau. gak rugi juga."
__ADS_1
"Ya udah, nanti kita ke apartemen tapi ini makan dulu, katanya mau."
Cintya membuka paper bag yang Dewa letakkan di atas meja. namun hanya di lihat tanpa minat.
"Gak mau, udah gak minat."
Fix Cintya memang aneh.
"Ya udah kita pulang, kita makan di apartemen."
Dalam tiga puluh menit mobil Dewa sampai di basement kantor.
Hal pertama yang Cintya lakukan setelah sampai di apartemen adalah membersihkan diri. di susul Dewa setelahnya. dan betapa terkejutnya Dewa mendapati istrinya sedang bertengger di atas ranjang dengan pakaian tak beradab yang langsung membakar dirinya.
Dewa mendekat tanpa banyak kata dan langsung menubruk tubuh yang jauh lebih kecil darinya itu. dan di sanalah semuanya berawal.
Dewa menindih tubuh Cintya dan mengendus rakus penuh minat. dan dengan cepat pula Cintya membalikan tubuh sehingga dirinya yang berada di atas.
"Women on top." di tangkupkan kedua tangan Dewa dan menyatukannya di atas kepala lalu mengikatnya dengan dasi yang ia ambil di atas nakas.
Ciuman panas yang Cintya lakukan membuat Dewa tak menyadari jika Cintya menjebaknya dengan memasukkan satu tablet berwarna biru melalui mulutnya
Dewa mengernyit mendapati rasa pahit dalam mulutnya. tapi ia tak dapat berbuat apa karena Cintya membungkam mulutnya dengan ciuman yang semakin melumpuhkan otaknya. sehingga tablet itu larut dan masuk ke tenggorokannya tanpa ampun. dan pagutan mereka terlepas setelah Dewa merasakan keanehan dalam tubuhnya.
"Cinta,," rengeknya setelah menyadari apa yang telah Cintya lakukan padanya.
Cintya semakin gila dengan aksinya, menduduki perut Dewa tepat di atas bagiaan yang paling menonjol dan memainkan pusar pria itu dengan membuat lingkaran dengan ujung jarinya secara berulang.
"Dasar buaya cap cicak, berani-beraninya menyimpan foto-foto tak beradab itu."
"Bukan milik kakak cinta." kilahnya dengan suara yang mulai memberat.
"Oh ya, benarkah? termasuk obat gila itu?" Cintya masih melakukannya, menggambar motif abstrak di atas perut dengan delapan tonjolan itu.
"Itu Alex yang bawa sayang "
"Terserah, kalian memang sama. Kali ini, Om yang akan Cintya buat frustasi."
Cintya menggerakkan tubuhnya di tempat yang sama, membuat Dewa semakin tersiksa.
"Oh ****! Kau membuatku gila" Dewa meracau karena ulah istrinya yang memainkan bawah batangnya.
Jari lembutnya menelusuri tanpa menyentuh bagian yang berdiri tegak tapi bukan kebenaran.
Cintya diam saja, sama sekali tak tertarik dengan umpatan Dewa. ia lebih tertarik untuk membuat pria itu semakin tersiksa. mencium dan meraba.
"Nikmati saja." mata indahnya mengerling menggoda.
"Dari mana kamu belajar itu." tanya Dewa berusaha menarik simpul talinya.
__ADS_1
"Fifty shades" Cintya nyengir lucu.
"Jangan menonton itu tanpa kakak Cinta."
"Bosen sendirian di kantor."
Namun tangannya tak bosan untuk merambah kemana-mana.
Dewa melenguh semakin tersiksa. "Touch him Cinta" ucap Dewa dengan suara serak.
"Kakak ingin di sentuh di bagian mana? di sini?" ucapnya tersenyum menang.
"Oh ****!" Do it." pintanya semakin frustasi.
"Memohonlah!" Cintya mendominasi.
"Ah, please do it."
Dewa meronta berusaha melepaskan ikatan tangannya karena gemes dengan ulah Cintya.
Cintya menggerakkan ujung jarinya dengan sangat pelan menuju puncaknya membuat Dewa semakin frustasi dan tersiksa.
"I want more, honey "
Cintya tak mempedulikan rengekan Dewa, ia masih betah berlama-lama bermain dengan pucuk kepala itu.hingga akhirnya tali pengikat tangan Dewa mengendor dan terlepas.
"Masih ingin bermain-main gadis nakal?" Suara di belakang telinganya menyentak pendengaran Cintya.
Di lihatnya Dewa tengah menyeringai, tanpa mempunyai waktu untuk kabur Dewa terlebih dahulu menyambar tubuh mungil itu dan mengobrak-abrik pakaian tak beradab yang di kenakannya.
"Ini tak akan sebentar sayang, kau harus menuntaskannya."
Dewa mengungkung Cintya di bawahnya dan mulai menghujaninya dengan gigitan-gigitan lembut di leher dada dan perut hingga meninggalkan tanda. lalu beralih ke bawah di bagian dalam dan memporak-porandakan semuanya hingga gadis itu meledak dengan nafas tersengal.
Lenguhan desisan dan desa*an terdengar bersahutan dari insan sang pemilik cinta.
"Ah,"
Lenguh keduanya bersama saat daerah inti itu mendapatkan serangan mendadak.
Dinginnya malam tak mampu membuat keduanya menggigil justru mereka semakin memanas dengan olahraga malam yang mereka lakukan.
Hentakan demi hentakan mengantarkan keduanya ke gerbang kenikmatan tiada tara. hingga erangan keduanya menutup pertemuan dua jenis kelamin yang bertaut karena cinta.
***
Banyak typo, kurang greget gak dapet feel-nya, maapin aye, mak othor keburu ngantuk.
Jejaak
__ADS_1