
Happy Reading...
"Jangan pergi jauh dari gue cil, gue belum bisa kehilangan untuk yang kedua kali."
"Tapi jika suatu saat ada seseorang yang mampu ngasih lebih dari yang gue miliki dan kasih ke elu, gue bakal lepas elu. tapi gue juga gak bisa janji untuk itu."
"Dan untuk Leo, gue gak akan peduli apapun syarat yang dia kasih ke gue, sebelum dia sendiri yang mewujudkan syarat itu. dia harus bertanggung jawab atas perasaan seseorang yang udah dia bikin kecewa.
Glek!
Cintya menulan lidah, pertama kalinya dia melihat Dewa seserius ini dalam berkata.
"Jadi karena masalah itu Om gak ingin terlibat dengan masalah perasaan?" Cintya menegaskan.
"Bukan."
"Lalu?"
"Ada hal lain yang buat gue tak ingin tercebur di dalamnya,"
"Apa Om punya pengalaman pahit dalam percintaan?"
"Bisa di bilang begitu."
"Kenapa gak cerita sekalian?"
"Lu masih kecil, gak boleh banyak nanya."
"Tuh kan, mulai." Cintya cemberut kesal.
"Kan tadi udah di bilangi, suatu saat gue bakal cerita semua nya?"
"Sekarang aja bisa gak?"
"Nih bocah, keponya selangit."
"Ayolah, beneran kepo akuh."
"Udah ih, bawel!" Dewa memukul pelan bibir yang masih ngoceh itu.
"Please..!" Usaha terakhir.
"Gue cium dulu boleh gak?"
"Dih, modus!"
"Makanya berenti nanya-nanya, emang lu gak capek apa dari tadi ngoceh mulu, gue aja dengernya capek kuping." Cintya mencebik.
"Oh, jadi kuping Om capek?" Dewa dengan konyolnya mengangguk.
"Sini, Tya ilangin capeknya,"
__ADS_1
"Emang lu bisa?" Cintya mengangguk.
"Gimana caranya?" Pertanyaan bodoh yang mengundang otak kecil Cintya merespon dengan cepat.
Dengan isyarat matanya, gadis itu meminta Dewa untuk lebih mendekat ke arah wajah gadis manis yang masih anteng di pangkuannya.
Dewa dengan kemesuman tingkat tinggi malah berfikir yang tidak-tidak. jiwa penjelajahnya seketika seketika itu bereaksi cepat. otaknya langsung mensinkron bahwa akan ada adegan yang melenakan setelah ini.
Dengan angan yang masih membumbung tinggi, Dewa menurut pada perintah sang gadis. bayangan berpeluh bersama menikmati dinginnya ruang ber AC temperatur tinggi, dengan adegan panas berkelebat bagai angin yang memberikan kesegaran di musim semi.
Dewa sungguh bersemangat hingga sifat jahil yang dimiliki si gadis tak mampu membuka fikirannya yang tertutup oleh fikiran gilanya. Dewa terjebak dalam kegilaannya sendiri!
Kini bibir Cintya telah berada tepat di sebelah leher Dewa. Hembusan nafas hangat itu membuat Dewa seketika meremang.
Cintya pun tak kalah gugupnya, melihat jakun Dewa yang naik turun saat empunya menelan ludah hampir membuat pertahanannya roboh. namun ia segera tersadar, ia tak boleh terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.
Jarak mereka semakin dekat, hanya berjarak kurang dari satu inci. dan...
"Aaaaah...!" Jerit Dewa menggelegar mengisi ruangan yang hanya ada mereka berdua.
Dewa meringis sambil mengusap-usap daun telinga yang berhasil di gigit oleh si cantik.
"Peace," dengan mengacung dua jari membentuk huruf V Cintya berkata.
Tawa renyah yang terdengar membuat Dewa yang ingin marah karena kejahilan gadis itu menguap entah kemana. berganti dengan sebuah kekaguman yang hanya di mengerti olehnya.
Dewa penuh misteri.
"Om liat deh, muka Om merah."
"Kuping gue sakit bociiil" Cintya kembali terpingkal hingga airmatanya keluar.
"Sini Lu gue gigit balik,"
"Eit, tidak boleh! Cintya ini seorang wanita yang harus di perlakukan dengan sangat lembut" ujar Cintya dengan gaya drama.
Melihat Cintya yang tak henti mentertawakan ya membuat otak jahil sang Casanova bangkit. ide yang tak sekeren penampilannya pun mencuat.
"Gue juga bisa lembut sama elu," ujarnya dengan senyum khasnya, senyuman mesum yang sangat menyebalkan.
"Akan sedikit sakit di awal, tapi pastinya akan membuat lu merem melek keenakan,"
Cintya menelan ludah, otaknya sudah dapat menjangkau kemana arah pembicaraan pria Dewasa yang sedang memandangnya dengan tatapan siap menerkam. apa lagi dengan posisinya yang masih bertengger manis di atas pangkuan sang pemburu.
Oh tidak! Cintya kalang kabut, harus secepatnya kabur dari sang pemangsa.
"Om, sadar,, om, sadar!" Gadis itu berusaha membuat sang pemburu mengurungkan niatnya.
Tapi tidak, Dewa sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. mengintimidasi lawan sudah menjadi hal yang biasa baginya.
Cintya merasakan tubuhnya terjatuh di atas benda empuk dan dingin.
__ADS_1
"Ah!"
Seketika ruangan menjadi gelap. tak ada secercah Cahaya yang tertangkap oleh Indra penglihatan. tak ada yang dapat di lakukan kecuali menunggu.
***
Di sudut Ruang yang lain, Leo tampak meremas benda pipih kesayangan sejuta umat. bagaimana tidak, rencana yang ia rancang dengan sangat matang ternyata justru memukulnya telak.
Matanya nanar menatap gambar di ponselnya. seorang gadis terbungkus selimut berada dalam pelukan pemuda bertelanjang dada. dan yang lebih membuatnya marah adalah dua orang gadis dengan wajah yang berbeda berada dalam satu selimut yang sama bersama pria berwajah sama.
"Brengsek!" umpatnya marah dengan wajah memerah.
"Beneran cari mati dia," Leo hampir membanting benda tak berdosa itu jika saja tak terdengar teriakan di dalamnya. sebuah balasan pesan.
Leo melirik benda yang melingkar di tangan kirinya. sudah waktunya pemuda itu menemui seseorang yang ia ajak untuk bertemu.
Kemarahannya teralihkan oleh degup jantungnya yang tak biasa. meski perasaan gugup menyergapnya, ia tetap memaksakan senyum yang sebenarnya tak bisa ia sembunyikan.
Setelah berkendara selama beberapa menit, pria itu telah sampai di sebuah restoran siap saji. benar-benar jauh dari kata romantis untuk seorang pria yang sedang makan dengan kekasihnya.
"Maaf ya,aku hanya punya waktu sebentar karena setelah ini aku harus kembali." ucap gadis itu lembut. tak kalah dengan Leo, sebenarnya dirinya juga tengah di rundung kegelisahan.
"Ya aku mengerti, kau pun cukup sibuk." Leo tak mengalihkan pandangannya sedikitpun sejak mereka bertemu sesaat lalu.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Siapa?" gadis itu menjawab.
"Kau sangat tahu siapa yang ku maksud.' Ucap Leo datar. tak ada nada romantis sedikitpun dalam tiap bait katanya.
"Oh dia, ya dia sangat baik." ujarnya lagi sambil tersenyum.
Leo memandang lekat ke arah gadis yang sedang duduk gelisah di hadapannya. sesekali ia mengambil gelas lemon ice tea nya dan meminumnya perlahan. terlihat sekali jika dia belum menguasai keadaan. terlihat dari gesturnya yang berkali kali membenarkan letak duduknya.
"Bagaimana hubungan kalian selama ini?"
"Hah, apa?"
"Bagaimana hubungan kalian selama ini." Ulang Leo.
"Kami baik-baik saja, tak ada yang spesial."
"Maksudmu?"
"Ya, seperti yang kau tahu, bagaimana selama ini kami menjalani hubungan ini."
"Bisa kau jelaskan ini?" Leo menunjukkan Foto yang di terimanya lewat aplikasi warna hijau.
Degh!
"Bagaiman kau mendapatkan foto itu?"
__ADS_1
***