
Happy Reading....
Prank...
Suara yang berasal dari dalam kamar yang tertutup rapat dan terkunci itu cukup membuat orang-orang yang berada di luar kamar sedikit berjingkit. suara pecahan kaca dan barang-barang yang berhamburan menunjukkan seberapa kuat lemparan itu dan seberapa bear kemarahan orang yang melakukannya.
Berbeda dengan yang terjadi di lantai atas, orang-orang yang berada di lantai bawah tampak tak terganggu sama sekali. tak ada satupun dari mereka yang menyesali a yang telah terjadi. justru mereka menganggap ini sebagai hiburan dan akhir di sebuah pertikaian.
Beberapa jam yang lalu.
Leo mematut diri di depan kaca besar. yang menampakkan seluruh bagian tubuhnya. Dengan balutan tuksedo mewah dan dasi kupu-kupu, pria itu terlihat sangat tampan sebagai calon mempelai Pria. hari ini, Leo akan datang ke sebuah acara pernikahan sebagai calon pengantin pria. dan yang saat ini berada di rumah keluarga besar Herlambang adalah sesosok perempuan yang akan menjadi mempelai wanita dalam acara pernikahan yang sengaja di ada kan dengan sederhana. seorang wanita dengan kesempurnaan paras yang terbalut dalam kebaya moderen nan mewah dan elegan.
Acara pernikahan yang di sepakati hanya di hadiri oleh dua keluarga inti ini akan terjadi dalam satu jam ke depan.
"Udah siap bang?" Dewa muncul di belakang Leo. senyum meledek tampak dari bayangan kaca yang memantulkan wajah keduanya.
"Ck, Sialan, berani ledekin gue lo?"
"Gue tadi cuma nanya, lo siap apa belom. kalo belom perlu gue bantuin di bagian mananya?" masih dengan senyum ledekan yang menyebalkan, Dewa saingan senang menggoda iparnya yang lebih sering tersulut emosi saat berbicara dengannya.
"Pergi lo sana, pastiin acara ini bakal sukses." Leo membenahi letak dasi kupu-kupu nya dan di susul dengan merapikan rambutnya. "awas kalo gagal, gue gantung lo."
"Idih ngancem."
"Masa depan gue sama anak gue di pertaruhkan di sini."
"Anak lo aman, daddy_nya masih hidup kok! jadi jangan khawatir." Dewa menepuk dadanya dua kali dengan pongahnya. menunjukkan bertapa kuasanya dirinya atas Delon. apalagi anak kecil itu belum tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Selama ada gue, gak akan gue biarin siapapun nyuri perhatian anak gue."
"Telat baaang,, selama lima tahun gue udah jadi bapaknya," sengaja Dewa menyulut emosi Leo, karena tak ada yang lebih menyenangkan selain membuat pria yang tak banyak omong itu merasa kesal, "Gue jadi ragu, jangan-jangan setelah kalian nikah nanti, Delon tetep maunya gue yang jadi bapaknya." Dewa semakin senang membuat Leo, si kepala batu itu merasa kalah."beruntung banget gue dapet anak sekaligus tiga, makin kaya gue_ wadaaw, sakit bang!" Dewa meringis di buat-buat meski tendangan Leo pada tulang keringnya tak sesakit yang di tampilkan.
"Serakah lo!"
Dewa mengangkat bahu cuek, lalu dusuk di sofa masih berada di kamar Leo. memerhatikan kakak iparnya yang menyelesaikan tatanan rambutnya.
"Ini bukannya Tuksedo yang lo pake di pernikahan gue?" Tanya Dewa menelisik penampilan Leo, memindai dari ujung kepala hingga kaki.
"Emang!"
"Emang lo gak mampu beli, ini kan hari besar."
"Ngapain, kita kan cuma mau nonton Cirkus." jawab Leo dengan kekehan ringan yang di ikuti Dewa dengan tawa yang sama.
"Jadi gak sabar pengen liat badut. pasti Cinta terhibur banget."
"Satu unit apartement sama mobil gue rasa cukup jadi jaminan. Alex udah urus semuanya. lo terima beres."
"Oke, kita berangkat." Leo melangkah keluar dari kamar, di ikuti Dewa di belakangnya.
"Buru-buru amat bang?"
"Lebih cepat lebih baik kalo kata bini lo." Dewa tergelak lepas mendengar ucapan Leo. memang benar jika dalam acara ini, Cintya lah yang paling bersemangat. semuanya harus cepat dan tepat. tanpa menunda-nunda waktu.
Tepat pukul delapan pagi, Leo beserta keluarga telah berangkat menuju tempat di dadakannya acara. dua mobil yang membawa mereka beriringan dengan kendaraan lain di tengah jalanan pagi yang sefikit lenggang.
__ADS_1
Selama satu jam berkendara yang melewati jalanan berkelok di antara bukit-bukit yang menghijau dan pohon-pohon pinus yang menjulang, akhirnya kereta besi mereka telah sampai di Villa yang Dewa sulap menjadi sebagai tempat pernikahan.
Di villa itu pula segala persiapan telah di lakukan oleh Alex dan asisten Leo. satu meja besar dengan kain penutup berwarna putih dan berenda, sebagai tempat untuk acara akad.
Semua berkas pernikahan yang di perlukan pun telah tersedia, termasuk cincin pernikahan. dan sekarang hanya menunggu sang ratu yang masih di persiapkan.
*
*
*
Isabel berjalan dengan papa Rendra dan mama Graciela di sisi kanan dan kirinya. sedangkan lilian di belakangnya dengan menuntun Delon di tangan kirinya. dan tangan kanannya membawa sebuket bunga milik isabel. wajahnya masih sedatar biasanya. tak menampilkan raut kesedihan ataupun gusar. ia sangat yakin setelah semua ini berakhir, ia akan baik-baik saja.
Di depan sana, Dewa berdiri dengan Cintya di sampingnya. dan di sisi yang lainnya Leo tampak tersenyum, bersiap untuk menyambutnya.
Senyum bahagia penuh kemenangan tersungging di bibir Isabel. wajahnya tampak sangat puas karena apa yang ia harapkan akan segera terwujud.
Leo mengulurkan tangan, menyambut kedatangan Isabel yang hanya satu langkah di depannya.
"Welcome to the Party." sambut Leo dengan maksud tersirat. pria itu membawa Isabel ke depan meja akad. di sana juga telah hadir petugas pencatatan sipil dan pengadilan agama.
Wajah Isabel merona karena merasa sangat bahagia. namun itu hanya sementara sebelum satu pandangan meruntuhkan segala kebahagiaan yang telah terbayang di benaknya. senyum indahnya dan terganti dengan wajah pias dan memucat.
Isabel hendak mundur, namun ia hanya mampu mengeram karena tangannya tercekal oleh jemari kecil Cintya.
"Tak ada jeda untuk mundur Isabel." bisik Cintya di telinga isabel. "lakukan dengan cepat atau_" Cintya menyeringai, tersenyum penuh kelicikan.
__ADS_1
***
jejaaak, Sorry Dorry Dumory, telaat ya,,,, maapkeun, si bocil lagi pengen di manjah, mendadak demam.