
Happy Reading ..
Mobil Dewa telah masuk ke pelataran rumah keluarga Mahendra. Suasana temaram karena hari beranjak malam.
Baru saja Dewa dan Cintya keluar dari mobil dan,
Bugh!
Satu pukulan mendarat mulus di rahang yang sedang berbulu halus itu. membuat empunya terhuyung dan hampir terjerembab. Untung saja Cintya menahannya, meski dirinya juga hampir roboh karena bobot tubuh Dewa yang tak sebanding dengan tenaga Cintya yang hanya seorang wanita.
Leo memandang penuh amarah, apalagi melihat penampilan Cintya yang mengenakan kemeja putih milik Dewa. membuat Darah Leo semakin mendidih.
"Apa yang udah lu lakuin ke adek gue?" cerca Leo penuh emosi.
Dewa menyeringai, "Menurut Lo?" Dewa berkata santai.
Rahang Leo mengetat, kepalan tangannya menguat hingga buku-buku jarinya tampak memutih.
Cintya gemetar, ia tahu bahwa Leo sedang berada di puncak emosinya saat ini. bahkan bibir pria itu bergetar dan giginya bergemeretuk menahan luapan emosi.
Tangan Cintya semakin erat mencengkram lengan atas Dewa. mencari perlindungan.
Dewa mengusap tangan lembut itu, memberikan seulas senyum untuk menenangankan Cintya yang terlihat memucat karena takut.
Bagaimanapun ini pertama kalinya Cintya melihat saudara laki-lakinya teramat sangat marah.
"Brengsek!, lu bener-bener cari mati sama gue!" umpat Leo garang.
Matanya awas memandang Dewa penuh kebencian. kebencian Leo pada Dewa yang sedikit terkikis kini seolah kembali menggunung.
"Dek, masuk!" titah Leo tanpa mau di bantah.
Cintya tak bergeming, masih berada di tempatnya. ia dapat merasakan pasti akan terjadi baku hantam di antar dua pria dewasa itu.
"Dek," Leo merendahkan nada namun menekankan kata-katanya.
"Tapi kak." Cintya hendak protes, namun tatapan tajam Leo membuat nyalinya mengerdil.
__ADS_1
"Masuk! kakak bilang," bentak Leo makin keras. matanya sama sekali tak beralih dari pria yang sedang berdiri dengan tenang tanpa menampilkan wajah takut.
Cintya mendongak, matanya mengisyaratkan permintaan persetujuan. Dewa hanya melirik sebentar kemudian kembali membalas tatapan tajam Leo.
Dengan berat hati Cintya berjalan masuk meninggalkan Leo dan Dewa yang siap beradu siapa yang Paling kuat, sesekali gadis itu menoleh ke arah Dewa dengan pandangan khawatir, dan Dewa memberi isyarat agar tak mengkhawatirkannya dengan anggukan dan seulas senyum namun tetap saja hatinya risau.
Kini Dewa dan Leo saling berhadapan bagaikan dua ekor singa memperebutkan daerah teritorial.
"Ternyata kamu sepicik itu, berani gunakan Cintya untuk membuat posisimu aman." tuduh Leo menggebu. Dewa hanya tersenyum miring.
"Jadi ini yang kamu bilang akan menjaga wanita-wanita yang dekat denganku dengan sangat baik. kau bahkan memperlakukannya seperti barang murahan." tuduhan Leo seketika membuat Dewa naik darah.
Dewa mengeratkan rahangnya. tangannya mengepal penuh emosi yang ia tahan mati-matian.
"Jaga ucapan Lo, kita ini sama. gue brengsek tapi elo juga bukan manusia yang bisa di katakan baik." Dewa berkata tenang. pria itu masih bisa menguasai dirinya.
"Jangan pernah melempar tuduhan, aku tak pernah memperlakukan wanita seperti kamu. kau sangat menjijikkan, kau mengambil kesempatan hanya untuk mencari aman." balas Leo tak mau kalah.
"Ya gue memang brengsek dan elu orang baik sehingga bisa langsung melukai musuh hanya dengan ucapan saja."
"Gue memang bejat, berani menyentuh tubuh untuk mencari aman. dan elu orang baik karena mampu melukai tanpa menyentuh ."
"Gue memang bajingan karena suka bermain wanita sedang elu suka menyakiti wanita."
"Jangan ajarkan gue tentang cinta karena elu sendiri tak tau bagaimana cara mencintai"
Begitu banyak kata-kata yang keluar dari mulut Dewa, dan itu cukup untuk membuat Leo bungkam.
Seperti tertampar oleh kenyataan yang ada, Leo menyadari jika ucapan Dewa pun tak salah. ia memang pernah berada di posisi yang Dewa katakan.
"Setidaknya gue tak pernah mempermainkan perasaan orang lain. seperti elu."
"Elu menuntut gue untuk mencintai Cintya, lalu bagaimana jika gue juga minta elu melakukan hal yang sama."
"Jadi jangan pernah ajarkan gue tentang cinta karena elu sendiri tak tahu apa itu cinta."
Ucapan Dewa telah memukul telak perasaan Leo, namun Ego tetaplah ego. pria itu bahkan tak merasakan apapun yang menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Tak perlu banyak omong, kita selesaikan masalah ini sekarang juga," bentak Leo, pria itu semakin garang tatkala merasakan lawannya tak terintimidasi sedikitpun.
Leo mencengkeram kerah kemeja Dewa dengan mata memerah dan kepalan siap pukul. Dewa masih setenang semula tak gentar sedikitpun. bahkan bibirnya tersungging sebuah senyum meremehkan.
"Apa kalian masih ingin bermain?" Suara pria tua itu membuat Leo dan Dewa sontak menoleh. kepalan tangan Leo yang sudah bersiap menghantam lawannya pun terpaksa di turunkan.
"Leo, Dewa masuk!" Titah kakek Mahendra tegas.
Leo menarik tangan yang mencengkram kemeja Dewa dengan kasar dan sedikit mendorongnya membuat pria itu mengambil satu langkah kebelakang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Leo melangkah masuk di ikuti Dewa di belakangnya. air wajah Dewa tetap tenang tak menampilkan raut ketakutan sedikitpun.
"Dewa, bisa kau jelaskan ini?" Kakek menyerahkan gawai di tangannya yang memperlihatkan foto yang ia kirimkan pada Leo beberapa jam yang lalu.
Dewa menerimanya dan melihatnya sekilas. masih dengan raut tenang dan sedikit senyuman.
"Saya tak perlu menjelaskan apapun. yang terlihat itulah yang terjadi." dengan tenangnya Dewa berkata. bahkan Cintya sampai melotot.
Cintya menelan ludahnya, jawaban Dewa sama sekali tak sesuai dengan yang terjadi.
Namun melihat wajah Dewa yang masih tenang, membuat Cintya berfikir pasti Dewa telah menyusun sebuah rencana.
Leo memandang Dewa dengan tajam. kilatan amarah tampak di mata pria itu. Leo semakin geram karena Dewa sama sekali tak menampilkan wajah penyesalan ataupun takut.
"Bagus kalau kau mengakuinya, lalu bagaimana pertanggung jawabanmu sekarang?" ujar kakek dengan logat biasa saja tanpa ada nada emosi di dalamnya.
Cintya kembali menelan ludahnya, tak sabar menunggu bos sableng itu menjawab pertanyaan kakek sesuai kondisi.
"Seperti yang di inginkan Cintya dan juga permintaan Leo, saya akan membatalkan perjodohan ini."
"Apa?"
***
Maaf telah membuat kalian menunggu, tapi percayalah Dewa memang suka jika banyak yang menunggu. Karena Dewa juga menunggu like komen dan Vote dari kalian.
Author kabooor...
__ADS_1
Lots of luv Chanda 💕💕💕