Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Rahasia pesta.


__ADS_3

Happy Reading...


Flashback on.


"Om, Cintya capek gaunnya berat banget." keluh Cintya karena berat yang gaun pengantin yang di kenakan nya membuat tubuhnya lelah.


"Mau istirahat sekarang?" tawar Dewa, tangannya mengusap pipi Cintya dengan ibu jarinya penuh kasih.


"Tapi tamunya masih banyak, gak enak kalo kita kabur."


"Iya sih, tapi Lo kan capek, gak mau aja gue elu keok sebelum duet."


"Hah, kita mau nyanyi? gak usah deh Om. Cintya malu suara Cintya jelek."


"Emang yang mau ngajakin ngamen siapa?"


"Itu tadi Om bilang duet, apalagi kalo gak nyanyi."


Dewa hampir terbahak jika saja di sana tidak banyak tamu penting yang hadir.


Pria itu merasa lucu karena Cintya yang terkadang tampak polos. padahal gadis itulah yang sering membuatnya terjebak dalam ucapannya sendiri. sangat pandai mendebat namun dalam kosakata tertentu dia salah mengartikan.


"Gue gak akan ngajak elu duet di panggung. udah ada mereka yang gue bayar untuk hibur para tamu."


"Terus?" tanya gadis yang baru berstatus istrinya itu membuat Dewa gemes ingin segera melucuti pakaian nya.


"Apa nanti Cintya juga di bayar?"


Ya Tuhan gadisnya benar memberikan lampu hijau untuk segera di terkam.


"Iya gue bakal bayar elu."


"Berapa?"


"Dengan seluruh kekayaan gue. gue beri semuanya sama elu."


"Emang kita duet dimana?" Tanya Cintya dengan mata berbinar


"Di atas ranjang."


"Cih!"


"Jangan bilang najis, gue udah halalin elu."


Cintya mingkem tak berkomentar lagi. ucapan Dewa tak salah. dia sudah di sah kan oleh pria bernama Dewa Herlambang.


"Yok gue anter ke kamar,"


"Apa tidak apa?" tanya Cintya memastikan.


"Gue habis ini balik lagi kesini, elu istirahat saja kumpulin tenaga buat entar malem"


Dewa menggamit pinggang Cintya dengan mesra. merasa kasihan karena Cintya yang kesulitan melangkah, akhirnya Dewa memutuskan untuk menggendongnya bridal style.


"Om" pekik Cintya merasa tubuhnya melayang.


"Bisa taon depan sampenya kalo elu jalannya mirip keong."


"Berat tau ini gaunnya!"


"Elu juga berat, gue minta ongkos habis ini."


"Dih tukang palak!"


Dewa tergelak bersamaan dengan tabokan di punggungnya."

__ADS_1


Perdebatan masih terjadi saat keduanya sampai di dalam kamar. Dewa menurunkan tubuh Cintya di atas Sofa. lantas pria itu berjongkok di hadapannya. membuka Hells yang di kenakan Cintya dan mengusap kaki gadis itu sebentar dan mengurutnya untuk merilekskan kakinya yang sedikit memucat.


"Om ngapain?"


"Kaki elu pegel, ya udah sini gue bantu buka baju elu."


Dewa mengangkat tubuh Cintya agar berdiri membelakanginya.


"Gak perlu Om." cegah ya cepat.


"Kenapa?"


"Bukan muhrim." Celetuknya konyol.


"Bukan muhrim pala Lo, gue udah susah ngucapin qobiltu elu masih bilang bukan muhrim. lagian elu udah pernah telanjang di depan gue." ujar Dewa dengan terus membuka satu persatu kancing yang berderet di punggung gadis itu.


"Kapan?' Cintya mengernyit hingga dahinya berkerut dalam sedikit marah.


Sepertinya gadis itu lupa tentang kejadian di hotel yang membuatnya menangis.


"Di hotel, elu lupa?"


Wajah Cintya menunduk menahan malu. pasti wajahnya saat ini Semerah kepiting rebus.


Dewa membuka kancing gaun itu dengan perlahan, semakin mendekati selesai, semakin terpampang punggung mulus istrinya.


Dewa dengan cepat merampungkannya hingga gaun pengantin tersebut lolos dari tubuh Cintya dan teronggok di lantai.


Kini tubuh atas Cintya hanya terbungkus kemben dalaman. sesuatu yang menyembul dan bahu putih mulus membuat sang Casanova bergejolak.


Tanpa meminta persetujuan dari gadisnya, dengan cepat tangan kekarnya memeluk pinggang ramping itu. dan merambat naik meremas dengan gemas dan mencium pundak telanjang serta mendusel di perpotongan lehernya. menghirup aroma khas gadisnya.


"Om!"


"Stop!"


Cintya mencegah Dewa melanjutkan aksinya lebih jauh. membuat pria itu mendongak dan mendesah kecewa.


Cintya tak sempat merasakan sensasinya. karena dari pantulan kaca, ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit.


"Apa tadi om gak kunci pintunya?" tanya Cintya memastikan jika penglihatannya tak salah.


"Elu mau sekarang? biar gue kunci pintunya."


Ya Tuhan, kenapa mesumnya selalu datang di waktu yang tak tepat.


"Tak perlu, Om kembali saja ke pesta. biar Cintya istirahat." ujarnya sambil mendorong dada Dewa yang terus menempel.


"Oke gue balik, elu tidur aja biar fresh entar malem."


"Iya Cintya mau tiduran dulu, entar Cintya kasih Fresh care buat Om."


"Gue gak lagi sakit ngapain rlu kadih freshcare, tanduk gue yang sakit."


"Iya ngerti buruan pergi."


Cintya terus mendorong Dewa agar cepat pergi karena ia harus tahu siapa orang yang baru saja mengintai mereka.


"Cium dulu boleh?"


Sebenarnya Cintya ingin menolak, namun melihat daun pintu yang sedikit tergerak membuatnya menuruti keinginan suami mesumnya.


Cintya mengangguk mengiyakan. Dengan cepat Dewa memagut bibir yang masih berpoles lipstik pink itu. menikmati dengan seluruh cinta dan desiran di hatinya. gejolak yang ia rasakan dalam dadanya membuat sesuatu di bawah sana protes tak terima.


Cintya menikmati permainan Dewa. tubuhnya yang hanya setinggi dagu pria itu menyulitkan pandangannya pada daun pintu yang terdengar berderit terbuka.

__ADS_1


Dewa menyudahi ciuman panasnya dengan mengusap bibir yang masih basah karena ulahnya.


"Manis, gue suka."


Sebenarnya ada niat untuk mendebat pria itu karena kata-kata menyebalkan yang selalu ia ucapkan. namun tidak, Cintya masih ingin bermain-main


Tangan Cintya justru merambat naik ke leher Dewa dan memeluknya erat yang di sambut dengan tak kalah hangat oleh sang suami.


Dari balik dada Dewa, Cintya melirik ke arah pintu. dengan jelas sang pengantin yang setengah telanjang itu melihat wajah yang sedang bertekuk dengan tangan terkepal.


Cintya tersenyum smirk. karena dengan melihat gaunnya saja gadis itu dapat mengenali siapa yang sedang mencoba mengantikan CCTV di kamar mereka.


"Gue balik ya?" Cintya mengangguk dengan senyum termanisnya.


Saat Dewa beranjak pergi, di saat itu pula tangan Cintya menahan jari pria itu.


"Kenapa?"


"Cintya percaya sama Om." ujarnya membuat Dewa tersenyum lebar.


Setelah kepergian Dewa, Cintya segera membersihkan tubuhnya. dengan mengenakan bathrobe gadis itu melangkah keluar kamar untuk mendatangi seseorang yang ia curigai.


Cintya mengetuk pintu pelan dan tepat seperti dugaannya, orang yag di maksud masih mengenakan gaun pesta yang sama membuka 0intu dengan wajah yang kesal.


Isabel segera merubah raut wajah juteknya saat tahu Cintya yang menghampirinya.


"Kenapa Cintya?" tanya gadis itu basa-basi.


"Apa kakak punya pembalut?" ujarnya malu-malu.


"Kamu lagi dapet!" Cintya mengangguk.


"Yah, Dewa gagal dong unboxing malam ini." Sambarnya membuat Cintya terperangah.


"Gampang itu mah, masih banyak waktu." ujarnya polos tanpa mengundang kecurigaan.


Bibir Isabel mengulas senyum jahat, Cintya dapat melihatnya. di situlah drama tamu bulanan di mulai. untuk menguji seberapa kuat Dewa menahan hasrat apalagi ada pengganggu di sekitar mereka. bahkan saat selama satu Minggu mereka tinggal bersama di kediaman Herlambang Cintya dapat melihat Isabel yang diam-diam mencoba menarik perhatian Dewa.


Flashback off.


Masih berada dalam selimut yang sama.


"Jadi kamu bohongin kakak selama seminggu?" tanya Dewa dengan tatapan tak percaya.


Manik abu-abunya menatap tajam ke dalam manik bening mata bulat istrinya.


Dengan manisnya Cintya mengangguk tanpa Dosa membuat Dewa ingin marah tapi tak bisa.


Bagaimana pria itu akan marah sedangkan ia telah di butakan oleh cinta yang semakin menguat karena kebahagiaannya yang mampu memiliki gadis impiannya.


"Cinta... kau kejam!"


***


Dewa bucin...


Cintya isengnya kebangetan...


Cintya di hukum gak ya sama Dewa. apa kalian aja yang hukum si ceriwis.🤣🤣🤣


Jejaaaaak


Like komen and vote..


Lots of luv, Chanda. 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2