
"Elu lihat itu?" Dewa menunjuk pada sudut kamar yang membuat mata Cintya membulat sempurna.
"Jadi Om mau pake rekaman itu buat tekan Cintya?" tanya Cintya dengan raut wajah tak suka.
"Anggap saja itu benar, tanpa itu pun gue bisa lakuin apapun sama elu." ujar Dewa tenang.
"Cintya makin benci sama Om," sengit Cintya makin pedas.
"Gue udah bilang, benci gue semau elu, asal jangan pernah pergi dari gue" Dewa berkata lembut, manik abu-abu nya menembus mata bening Cintya dengan pandangan tak biasa.
"Tapi kenapa, berikan Alasan yang logis kenapa Om gak mau lepasin Cintya, sakit banget tau di lecehin kayak gini." gadis itu terlihat kecewa dan tanpa sadar menjatuhkan kepalanya di bahu Dewa.
"Sorry, Gue gak bisa jelasin apa-apa sama elu sekarang, tapi gue janji bakalan cerita semua sama elu." Dewa reflek mengelus kepala gadis itu.
Tetap dalam posisi yang tak menguntungkan bagi Cintya, Dewa masih membelit pinggang Cintya yang terbungkus selimut tebal dengan sebelah tangannya. tapi anehnya gadis itu masih tak menyadari dimana keberadaan tubuhnya berada.
Cintya kembali menegakkan tubuhnya. "Cintya rasa pembicaraan ini tak ada gunanya. kita putuskan saja semua saat ini." Cintya balas memandang, pertama kalinya bagi gadis itu berkata tegas terhadap pria sableng di depannya.
"Maksud lu?"
"Seperti yang Om denger, kita berhenti disini."
"Jangan bilang lu juga sangat mengharapkan perjodohan ini tetep terjadi,?" wajah menyebalkan Dewa kembali hadir.
"Cintya gak pernah bilang begitu, Cintya cuma berusaha jadi anak yang patuh." mode on debat kembali terjadi. bahkan matanya sampai melotot.
"Tapi kan elu seneng kalo lagi sama gue." mode jahil kembali on.
"Cih, siapa juga yang betah sama tua bangka bangkotan kayak Om," cicit gadis itu tak terima
"Buktinya Elu anteng gue pangku, nyaman banget ya?" Dewa dengan senyum khasnya, me-nye-bal-kan.
Cintya menoleh ke arah bawah, ia sadar masih berada di atas paha Dewa.
"Ya udah lepasin ini," tunjuknya pada tangan yang masih membelitnya.
"Udah, di sini aja dulu,"
."Om, lepas ih,"
"Ogah;"
"Cintya nangis nih,"
"Emang belum puas lu nangis seharian?
"Cintya teriak aja,"
"Kamar ini kedap suara, yang ada entar lu capek sendiri."
"Cintya ngamuk nih,
__ADS_1
"Emang dari tadi ngapain aja?
"Om, lepas ih," usaha terakhir, jurus merengek.
"Ogah, gue nyaman elu di sini,"
"Cintya gerah!"
"Sapa suruh elu jadi kepompong?"
"Om!"
"Iya sayang,"
"Pulang yuk, Tya lapar," alasan tak masuk akal.
"Emang tadi lu gak makan?"
"Ya lapar lagi, kan tenaganya di pake buat kerja,"
"Emang dari tadi elu kerja? elu mah molooor, sampe pegel tangan gue "
"Yang suruh siapa?" keadaan berbalik.
"Elu lah!"
"Kapan emang?"
"Jadi,"
"jadi dong,"
"Apa emang?"
"Berakhir kan?"
"Elu gak takut gue sebarin tuh video ke media?
"Gak!"
"Yakin,?"
"Yakinlah,"
"Elu gak takut di ghibahin?"
Baiklah Dewa sangat konyol.
"Cintya lebih takut hidup sama manusia yang gak cinta sama Cintya tapi tetep gak mau lepasin Cintya. pasti entar bawaannya sakit mata mulu." cicit gadis itu tanpa mau menjeda ucapannya.
"Kan gue udah janji sama elu, bakal bikin elu bahagia."
__ADS_1
"Dengan apa?"
"Semua yang gue miliki,"
"Tapi Om gak punya cinta, sedangkan Tya butuh Cinta."
"Kenapa sih elu masih bahas itu?"
"Selama om belum bisa kasih penjelasan yang logis, Cintya tetep pada pendirian Cintya. kita akhiri sekarang!"
"Oke biar gue jelasin sekarang sama elu, biar elu puas, tapi ada syaratnya?
"Apaan?"
"Sini bersandar ke gue,"
"Ogah!"
"Gue butuh pegangan cil,"
"Tuh ada meja"
"Gue butuh dukungan, kasih gue support napa?
"Dih, modus!"
"Kelamaan lu!"
Dewa menarik pinggang Cintya kembali lebih mendekat dan menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya. memeluk sangat erat.
Pria itu tanpa segan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis yang tengah ia peluk, mengendus dan mengecupnya sekilas.
"Om!"
"Oke kita mulai!"
Cintya mulai memasang telinga dalam mode siap dengar, siaga satu. bersiap apapun yang akan Dewa katakan harus tertangkap oleh pendengarannya dengan sangat baik.
"Kita mulai?" Dewa mengulangi, Cintya mengangguk sebagai isyarat.
"Pada Zaman dahulu, hiduplah pangeran tampan yang di beri nama Dewa Herlamb..."
Dewa tak meneruskan ucapannya karena gadis yang tengah di peluknya sedang menatapnya dengan pandangan siap menerkam.
"Dewa.....!"
****
Somplak!!!
Selamat pagi Readers, selamat beraktifitas, jemput Rizky dengan di awali kata bismillah...
__ADS_1
jejaknya gess..