Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Hubungan yang rumit.


__ADS_3

Happy Reading...


Bertanggung jawablah atas rasa yang gue pendam selama enam belas tahun saat gue nungguin elu."


***


Cintya bimbang. Pria di depannya adalah mantan Play boy jadi harus di waspadai.


"Lilian adalah adik gue."


"Apa?" Cintya tak mempercayai pendengarannya.


"Lilian adek gue," Dewa mengulangi kata-katanya.


Cintya terkesiap. bahkan dirinya juga mengira bahwa Lilian dan Dewa adalah mantan kekasih seperti yang ia bilang waktu itu.


Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi, tentunya siapa saja dapat mengartikan lain pada hubungan mereka.


Sangat akrab dan terbuka.


"Apa kak Leo tidak tahu tentang hubungan kalian?"


Dewa menggeleng, "Hanya keluarga dekat saja yang mengetahuinya."


Cintya semakin membulatkan matanya.


"Maksud Om, dokter Lilian lahir dari sebuah kesalahan?" Cintya bertanya sangat pelan, takut menyinggung perasaan Dewa.


"Lilian lahir dari hati yang salah memilih tempat."


"Aku kok makin bingung sih Om?"


"Sudahlah, ada hal-hal yang tak perlu kau fahami. cukup mengerti dan semuanya beres. gue sama Lilian bisa saja menikah layaknya pasangan lain. tapi kami sudah berjanji untuk saling memiliki lebih dari pasangan. dia milik gue, begitu juga sebaliknya. kita sudah berjanji tak ada yang boleh memisahkan kami sebagai seorang saudara."


"Itulah sebabnya Lilian sangat kecewa saat Leo mengira kami memiliki hubungan."

__ADS_1


Dewa merendahkan intonasi suaranya, seolah ia sedang mengalunkan melodi suara hatinya.


Cintya tercengang, seperkian detik gadis itu terdiam, mematung. menatap pria yang biasanya tak pernah terlihat bersedih kini wajah pria itu lain. tampak berbeda dari Dewa yang mesum dan menyebalkan.


"Gue tampan kan?" Tembak Dewa saat memergoki Cintya menelisik wajahnya.


"Pe de." cibir gadis itu.


"Elah tinggal bilang iya doang susah amat Neng "


Cintya tak menghiraukan ucapan Dewa, rasa penasarannya harus mendapatkan penawarnya. saat ini juga.


"Om harus menjelaskan semuanya sekarang!" pinta Cintya tak ingin ada penolakan.


"Buat apa? lu nanti makin bingung kalo denger cerita yang sebenarnya."


"Tapi Cintya kepo!" gadis itu memasang wajah keingin tahuan yang kuat.


Dewa tersenyum menunduk sambil memainkan jemari dalam kepalan tangannya. hingga akhirnya kembali menatap Cintya yamg masih memperhatikan wajahnya.


"Yang jelas Tante Maria sengaja menyembunyikan keberadaan Lilian hingga akhirnya eyang menemukannya. tapi Tante Maria menolak keras jika Lilian menyandang nama Herlambang. meski itu tidak adil buat Lilian, eyang terpaksa menurutinya." Dewa menjelaskan.


"Bukankah eyang hanya memiliki satu orang anak?" Cintya semakin bingung dengan cerita Dewa.


"Eyang pernah memiliki hubungan dengan wanita lain sebelum menikah dengan eyang putri. cinta pertama eyang, dan lahirlah om Panji dari perkawinan di bawah tangan. tapi Om Panji lahir setelah papa. dan ibunya meninggal sewaktu melahirkan. lalu eyang membawa om Panji pulang. tapi eyang putri menolaknya sehingga om Panji hanya berstatus sebagai anak angkat Eyang."


"Kenapa rumit sekali? lalu kenapa Tante Maria tidak mau menerima nama belakang Herlambang?"


"Tante Maria tidak ingin nama itu melekat pada dirinya karena Lilian lahir tanpa pernikahan."


"Kenapa mereka tidak menikah? Cintya makin kepo.


"Tante Maria adalah wanita bebas sedangkan Om Panji adakah pria pasif, yang hanya mau menerima tanpa memperjuangkan."


"Kenapa seperti itu? kok Cintya jadi takut?"

__ADS_1


"Takut kenapa?"


"Sepertinya sifat buaya yang ada dalam diri Om adalah penyakit turun menurun"


Dewa tergelak, Cintya benar-benar mematahkan suasana melow yang tercipta.


"Tapi elu nyaman kan sama buaya cap cicak ini?" senyum menyebalkan kembali menghiasi wajah tampan Dewa.


"Terpaksa!" Ucap Cintya lantang tanpa ragu.


.


"Kok gitu?" Dewa terlihat kecewa.


"Ya gak lucu aja kalo Cintya nolak lamaran Om yang udah bersujud di depan kakek" Ucapan Cintya membuat jantung Dewa mencelos.


"Pasti bohong, sebenarnya elu suka kan sana gue?" Senyum narsis terlukis di wajah Dewa.


"Suka dari Hongkong, orang om nyebelin gitu?"


"Elah Cil, tinggal ngaku doang apa susahnya sih?"


"Enggak!" Jawab gadis itu ketus tapi bibirnya menyembunyikan senyuman.


"Tapi elu tetep harus tanggung jawab." Dewa berkata serius. memandang intens ke wajah gadis di depannya.


"Untuk!" Cintya mengangkat kepala dari yang semula menunduk saat merasakan Dewa mengenggam tangannya.


"Untuk rasa yang udah elu gores dan elu tinggalkan di hati gue."


"Bertanggung jawablah atas rasa yang gue pendam selama enam belas tahun saat gue nungguin elu."


***


Ehem...ehem....

__ADS_1


__ADS_2