
Happy Reading...
Dewa masuk ke dalam kamar apartemennya setelah ia mengantarkan Cintya pulang kerumahnya.
Dan sialnya di sana dia mendapatkan sambutan yang tidak terlalu ia suka.
Leo sengaja menunggu kedatangan Cintya di halaman samping rumahnya, tepatnya di jalan tikus yang sering ia gunakan untuk kabur tengah malam.
Seperti maling yang tertangkap, Dewa tak bisa menghindari tatapan tajam yang menghunus tajam ke arahnya.
Dengan membuang nafas kasar Dewa melempar tubuhnya ke Atas tempat tidur king Size nya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
Hatinya masih kesal teramat kesal karena tudingan Leo terhadapnya beberapa saat lalu.
"Jadi dia orangnya, yang kamu bilang adalah teman yang selalu menemanimu dalam kegiatan sialan mu itu?" pertanyaan yang di tujukan untuk Cintya tapi tatapannya mengintimidasi Dewa yang hanya bisa pasrah dengan asumsi sialan Leo.
"Bu- bukan dia kak!" Cintya membeo.
Cintya sudah terbiasa jika hanya dimarahi. tapi dia tak biasa jika Leo menyalahkan orang lain karena kesalahannya. Cintya tidak suka itu.
"Lalu kenapa dia bisa bersamamu, dan pakaiannya itu tak bisa berbohong." ucapan Leo masih terdengar menghakimi.
"Kebetulan aku juga sering berada di sana. dan kebetulan malam ini aku melihatnya memenangkan pertandingan di sana. dan sialnya akulah yang menjadi lawan tandingnya." Tak ada gunanya menutupi kesalahannya. meski bukan sepenuhnya itu kesalahannya.
Mata Leo membulat. tak menyangka jika adiknya sejauh itu. selain jadi penonton ia juga seorang pemain.
Cintya tak lagi gugup karena nyatanya Dewa tak menutupi apapun dari kakak cerewetnya itu
"Dan apa kini kau semakin bangga setelah mengetahui jika calon istrimu ini memiliki kebiasaan yang sama denganmu." Leo mengeram menahan kekesalan yang berlipat.
"Selain bajingan, brengsek dan kurang ajar, gue juga berandalan. tapi gue tak akan suka jika nona kecil ini juga betah berada di sana."
"Sama seperti elo yang gak suka dengan kebiasaannya, gue juga kurang setuju. dan gue akan pastikan jika ini terakhir kali dia bawa motor di sirkuit. jadi jangan khawatir. seperti yang gue janji ke elo, wanita-wanita elo akan aman si samping gue."
"Gue pamit." Dewa menaiki moge hitam itu kembali dan memasang helm fullface nya "Cil, langsung istirahat. gue gak mau bayar karyawan yang kerjanya cuma molor." Dewa melesat meninggalkan kakak beradik itu berdua yang kemungkinan akan bersitegang malam ini.
Dewa beringsut membuka pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sudah sangat terlambat jika saat ini di sebut dengan malam. namun masih terlalu dini jika ia harus membiarkan matanya terbuka hingga waktunya ia harus berangkat ke kantor.
__ADS_1
Dengan memakai celana pendek berbahan katun dan kaos oblong berwarna putih ia naik ke atas ranjangnya. bukan untuk tidur tapi untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang siang tadi sempat ia tinggalkan.
Bukannya fokus berkerja ia malah mengingat Cintya dengan pakaian khas balapnya. sangat keren.
Selain cantik imut dan suka rusuh ternyata kamu juga liar. menarik. kau penuh kejutan.
Dewa terkekeh sendiri di atas tempat tidurnya. sambil bersandar di kepala ranjang, jari-jarinya lincah berlompatan di atas keyboard berwarna hitam itu.
Sementara di kamar Cintya, Leo tak bisa menahan untuk tidak tertawa setelah mendengar Cintya bercerita tentang kegiatannya beberapa jam lalu.
"Jadi beneran Dewa kalah sama elu yang kecil begini, ototnya asli bukan? apa ia banci?" Leo menghentikan tawanya meski sedikit terisa kekehan kecil.
"Issh kakak, kau kejam sekali mengatai calon suamiku." Cintya berpura-pura merajuk.
"Kan sudah terbukti dia kalah sama elu, badan doang gede ototnya palsu."
"Kak dewa bukan kalah, kita malah beriringan sampai finish."
"Terus apa maksudnya lu menang dari dia?"
"Cintya cuma menang taruhannya doang tapi bukan gelarnya." Cintya cemberut kecewa.
"Seratus Ribu Dolar." Cintya tersenyum bangga hingga binar matanya nampak menunjukkan logo dolar bertaburan.
"Ccck..." Langsung tajir elu dek. Leo menggeleng."Traktir gue ya?"
"Tadi aja marah-marah, giliran denger duit minta traktir. ogah banget!!" suara Cintya melengking.
"Pelit lu dasar!" Leo menonyor pipi Cintya pelan.
"Aduh! aset gue nih!" Cintya mengusap pipinya yang tak terasa sakit. lalu kedua tangannya bertaut di depan dada sambil tersenyum membayangkan banyaknya nol yang mengalir ke rekeningnya.
"Duit segitu mah kagak ada apa-apanya buat tuh monyet, dia kan tajir melintir tujuh puluh tujuh turunan tuju tanjakan delapan tikungan."
"Lengkap amat bang!" Cintya terkekeh.
"Kak Dewa juga mau ngasih sepuluh kali lipat jika Tya gak datang ke tempat itu lagi." ucap gadis itu antusias.
"Widiiih.. enak bener gue."
__ADS_1
"Kok gue sih kak?" Cintya menoleh ke arah Leo yang duduk di sampingnya.
"Ya iyalah gue, kan gue gak harus jatah jajan kamu tiap bulan yang lebih gede dari kebutuhan makan kita sebulan. ibu aja sampai ngiri." Leo membual.
"Bohong banget deh, orang jajan Cintya cuma cukup buat beli sandal doang." Cintya ngoceh morang maring.
"Itu karena elu beli sandal ke Dubai berlapis emas."
Cintya terbahak karena bualan Leo yang tak biasa.
"Udah lah, kakak pergi Sono. Cintya mau tidur mimpiin calon imam tajir melintir." usirnya pada Leo.
"Duileh, bocah! lu udah jatuh cinta sama play boy itu dek?" Leo terdengar tak suka.
"Iya kali, cinta sama duitnya, sama janji manisnya. duh manis banget pokoknya!"
"Janji apaan emang?"
"Kepo!"
"Dek!"
"Pergi Sono, besok gue traktir beli somay!"
"Masak somay sih dek?"
"Ya udah cilok!"
"Kok malah cilok?"
"Kan gue dapet duitnya dari cinlok kak!"
"Eitdah! parah lu! Bistik Napa!"
"Gak usah nawar."
"Pelit lu!"
Leo keluar dari kamar Cintya dengan dongkol yang ia ciptakan sendiri.
__ADS_1