
Happy Reading...
Acara sepasar yang lebih pada acara kumpul keluarga telah selesai di lakukan. acara yang hanya di hadiri keluarga dekat untuk memberikan do'a agar pasangan baru itu langgeng dalam menghadapai babak baru kehidupan mereka. dan kini mereka tinggal menikmati acara santai. berkumpul dengan keluarga di pinggir pantai adalah momen yang siapa pun tak ada yang tak menyukainya.
"Cinta." rengek Dewa manja.
"Apa sih?"
"Loh kamu kok gitu sih mentang-mentang sekarang ada ibu, kakak di cuekin. potek hati Abang dek." rengek Dewa berhasil membuat para wanita tergelak.
"Duh pah, itu anak kamu bukan sih kok aneh gitu?" Mama graciella bergidik lucu dengan tingkah Dewa.
"Tau Deh Ma, dulu aja nolak keras. gak mungkin gue bakalan suka sama anak kecil itu, bla bla bla" Lilian mencibir mengingatkan Dewa akan ucapannya sendiri.
"Ya itu yang di namakan Tulah, kualat dia." timpal Papa Rendra sembari tersenyum. entah apa yang di rasakan pria paruh baya itu sehingga di tengah aktifitasnya membakar ikan dan jagung ia tersenyum sambil melirik ke satu titik.
"Manja Lo." Leo melempar Dewa dengan arang yang akan di gunakan untuk membakar jagung.
"Apa sih ini, lagian zaman udah moderen masih aja pake cara begituan." Ujar Dewa melempar kembali kayu arang yang membuat kemeja yang di pakainya bernoda hitam.
"Maklum gue yang hidupnya cuma keluar masuk klub. jadi Lo gak pernah tau kalo yang alami lebih sehat. iya kan dokter" ujar Leo lagi melirik ke arah Lilian.
Lilian yang merasa terpanggil pun hanya tersenyum kaku. tak tahu harus menjawab apa. apalagi di sana ada eyang dan juga papa Rendra. apa kata mereka jika Lilian mudah akrab jika bertemu dengan orang baru. apalagi dengan status nya yang single parent.
"Lilian itu dokter anak, bukan ahli gizi bego." umpat Dewa, sebenarnya itu untuk mematahkan usaha Leo untuk mendekati Lilian kembali.
Sepertinya mengerjai Singa ganas tak ada ruginya. mumpung lagi jinak.
"Leo, Lo gak pengen nikah gitu kayak gue, enak Lo ada yang di belai ada yang di sayang gak kayak elo cuma mimpi doang." ucapan Dewa berhasil membuat dua orang yang berada di sana membeliak.
"Bener tuh, nih Leo tante Grace masih punya satu anak perempuan cantik, apa mau yang di sana itu, ponakan Tante tak kalah cantik." ujar mama Graciella sambil menunjuk ke arah gadis yang berwajah bule.
"Boleh Tante, dua-duanya juga boleh" Leo nyengir setelah itu melirik ke arah Lilian yang juga sedang memandangnya benci.
"Maruk lo, gak rela gue kalo adek gue di mangsa singa, apalagi Delon panggil elo papa, ogah. gak Sudi." seloroh Dewa.
"Kalo orangnya mau, terus elo mau apa?" tantang Leo tak ingin kalah.
__ADS_1
"Gue kasih paket bulan madu ke Mesir." seloroh Dewa.
"Oke, siapa takut."
"Kakak ih, kita bahkan belum bulan madu kok udah nawarin kak Leo?" Cintya berceletuk sambil cemberut.
"Emang kamu mau bulan madu kemana?" Cintya beralih duduk di sebelah Dewa dan di sambut dengan pelukan di pinggangnya.
"Nanti deh, Cintya pikir dulu, tapi gimana kalo kita barengan sama mereka. pasti seru deh kak." Cintya memainkan mata memberi isyarat.
"Ide yang bagus."
Cahaya bulan yang semakin memucat dan desingan angin pantai yang mulai berhembus menjadi saksi kedua keluarga dalam kehangatan.
Obrolan masih bergulir dan hanya di dominasi oleh Dewa dan Leo. Namun mereka tak tahu jika ada dua hati di sana yang sedang merasa tak nyaman.
"Eyang, gimana kalo perjodohannya di lanjutkan saja, kan kemarin Dewa sama dek Tya udah batalin perjodohan kita. berarti kakek Hendra masih punya hutang satu perjodohan sama eyang. gimana?" Ide yang sebelumnya di rancang oleh pasangan sableng itu si sambut baik oleh pria yang paling tua di antara mereka.
Dewa dan Cintya saling lempar senyum. Leo terlihat santai. justru Lilian yang terlihat gusar. sesekali wanita itu terlihat membenahi letak duduknya dan tak jarang pula tangannya menggaruk leher yang tak gatal.
"Sepertinya cucu perempuanmu itu memberikan pengaruh yang baik untuk cucu laki-laki ku yang bodoh itu. gimana dengan ide mereka Hendra, apa kau juga setuju?" Pria tua itu berujar.
"Rendra bagaimana?" suara eyang membangunkan papa Rendra dari lamunannya.
"Terserah ayah saja." ujarnya pasrah.
"Tunggu, kita bahkan belum menanyakan pada orangnya. kalau Leo setuju siapa yang akan di pilihnya?" mama Graciella ikut memberikan suara.
"Leo, kamu mau pilih ponakan Tante itu?" tunjuknya pada gadis yang mengikutinya kemana-mana. "Atau sama Lilian?"
"Sama Isabell saja." sambar Dewa cepat dan cukup membuat ketiga orang yang di maksud menoleh ke arahnya.
Dewa memperhatikan ketiga wajah itu bergantian. tak ada raut protes atau keberatan pada dua orang yang menjadi target mereka. hanya satu orang yang di maksud mama Graciella yang menunjukkan raut tak suka.
"Elu pilih yang mana bang?" Leo mengedik cuek, ia tahu saat ini Dewa tengah meledeknya.
"Elu gimana Lian, mau gak Lo sama kakak ipar gue?"
__ADS_1
"Dewa apa sih?" Wajah Lilian memerah. antara malu dan kesal. andai tak ada orang lain di sana pasti Lilian akan mengejar dan menjambak rambutnya seperti yang sering ia lakukan.
"Kok apa sih, elu mau gak di jodohkan sama kakak ipar gue?"
"Enggak, aku udah ada Delon. gak mau mikir kesana dulu." jawab Lilian berhasil menggores seonggok daging yang di namakan hati.
Hati Leo mencelos. ia tahu Lilian pasti lebih membencinya sekarang karena pelecehan yang ia lakukan malam itu.
Entah kenapa Leo melakukan itu padahal ia tahu bahwa perbuatannya akan sangat melukai semua wanita. apakah cinta yang menjadi alasan, ataukah rindu yang harus di persalahkan. sepertinya Leo harus memulai dari awal lagi untuk memperbaiki hubungan dengan Lian meski itu terdengar sulit.
Terlihat gurat kesedihan di wajah dingin Leo.
"Leo sama Lilian saja Tante, Isabell masih belum memikirkannya." Ujar gadis itu.
Tentu saja ia tak menyetujui ide konyol Dewa karena tujuannya kembali ke tanah air untuk mendapatkan simpati Dewa kembali. namun sayangnya ia terlambat. justru ia datang di saat Dewa menikah.
Dan sepertinya Isabell tak akan menyerah begitu saja.
"Emang mau sampe kapan lo mau sendiri, gue aja udah nikah. sama yayang gue yang cantik, pinter, imut, hot dan," Cintya mesam mesem karena ucapan Dewa yang memujinya tapi gadis itu juga masih penasaran karena Dewa menggantung ucapannya.
"Dan apa kak?"
"Dan, matre." Dewa tergelak setelah itu meringis karena Capitan maut berlabuh di pinggangnya.
"AW, sakit sayang." Dewa masih meringis perih.
"Kok bilang Cintya matre sih? bilangnya kemarin oke aja tuh." Cintya melayangkan protes.
"Iya, iya kamu gak matre cuma..."
"Kok kedengarannya gak ikhlas gitu?" Dewa bahkan belum merampungkan kalimatnya.
"Ikhlas, gue ikhlas." Dewa sadar telah berucap salah.
"Kak Leo, malam ini si sableng tidur sama kakak."
Mati gue...
__ADS_1
***
'Jejaaak....