Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Don't be Ribet!!!


__ADS_3

Happy reading...


"Berisik!"


Dewa kembali mengendarai mobilnya saat matahari tepat dia


atas kepala.


"Elu ngasih gue persyaratan segitu ribetnya, gue penasaran sebenarnya elu itu udah pernah jatuh cinta belum sih?"


"Ya belum lah!" sungguh jawaban yang membuat Dewa ingin sekali ******* bibir mungil itu. dan bila perlu dia akan memakannya habis-habisan.


"Baik banget lu ngasih keribetan di hidup gue, sedangkan elu sendiri belum pernah ngalami. gak terima gue!" kesal Dewa. kesabaran pria dengan level kesabaran yang tinggi hanya di depan gadis yang notabene adalah pengendali kekayaannya itu mulai terkikis dan hampir habis.


"DON'T BE RIbet!!! terima oke, gak terima ya sudah. kita end." Ucap gadis itu tanpa merasa berdosa sedikit pun telah melukai harga diri Dewa yang tak sebanyak kekayaan keluarganya.


"Kita bahkan belum mulai,dan elu bilang 'End''. dan apa itu tadi? 'don't be ribet' pinter banget lu ubah bahasa." Cintya nyengir.


Entah apa yang sebenarnya membuat Dewa begitu kesal, permintaan Cintya yang sederhana namun sangat memberatkan Dewa atau bahasa gadis itu yang sedikit nyeleneh dan tak biasa.


Dewa terus saja mendumbreng tak jelas sepanjang perjalanan, namun sayang suaranya yang sering ia gunakan untuk merayu para gadis itu tak berlaku di telinga si gadis ceriwis. bahkan dengan cantiknya ia duduk anteng sambil memainkan ponselnya. di sertai tawa kecil dan senyum tak jelas. kadang terkikik sendiri membuat Dewa merinding diantara rasa kesalnya.


Hingga akhirnya mobilnya telah benar-benar keluar dari area kompleks villa mewah yang hanya mampu di miliki oleh kaum Taipan.

__ADS_1


Jalanan begitu padat dan panas. matahari tampak begitu gagah menyinari seantero bumi hingga membuat benda gelap pun menjadi terang dan menyilaukan.


Aspal hitam yang mereka lewati tak nampak hitam lagi, panas telah merubahnya menjadi abu-abu pudar dan hampir memutih. bayang-bayang seperti air nampak di depan mobil berjarak beberapa meter. mengingatkan Dewa akan rasa yang ada di tenggorokannya.


**Haus**!!


Apalagi beberapa saat yang lalu ia telah terbakar oleh luapan emosi yang tak terbendung namun sayangnya tak ada yang bisa ia lakukan kecuali meredamnya sendiri. sehingga banyak kalori yang harus ia keluarkan yang membuatnya terasa sangat haus.


Cintya baru menyadari jika pria disampingnya ini tak lagi mengeluarkan suara. Cintya menoleh menelisik wajah yang beberapa saat lalu mengoceh entah apa. cintya tak begitu mendengarnya.


"Om!' panggil gadis itu dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Dewa.


"Mau apa lo?" sengit Dewa kaget karena Cintya tiba-tiba merusak konsentrasi mengemudinya.


"Kok marah?" Cintya melongo, tumben Dewa terjingkit saat mendengar suara cicitannya


"Busyet! Cintya ini anak ibu yang paling cantik malah di katain nakutin. wah, penghinaan ini namanya." Cintya memasang wajah seolah dirinya benar-benar di hina.


"Lagian elu gak biasanya deket-deket kek tadi. biasanya juga elu kabur-kaburan mulu."


"Cintya tadi cuma mau nanya, kenapa om tadi tiba-tiba berenti ngomong. kehabisan batrei kah?" Cintya nyengir.


"Batrei gue masih full, masih kuat gue ladenin elu." sama sekali jawaban yang tak ada hubungan dengan inti permasalahan.

__ADS_1


"Oh kirain. kalau habis nih Cintya punya power Bank." ucap gadis itu semakin memancing otak cerdas Dewa untuk memproduksi kata-kata yang bisa membuat gadis bawel itu diam.


Oke, Dewa cukup pusing hari ini.


"Yang ada elu yang mau gue charge. ngerti lu!" Dewa mendelik tajam.


"Gak jelas banget." gadis itu benar-benar terdiam kembali fokus pada benda pipih di tangannya. dan baru mengangkat kepalanya saat merasakan mobil Dewa berbelok.


"Kok belok, bukannya kita harus cepet balik ke kantor. habis ini kita ada meeting penting loh Om.


"Ya cil, tau gue. tapi gue butuh makan butuh minum. gue butuh energi buat meeting nanti. gue butuh energi buat ladrnin elu, energi gue habis gara-gara elu."


"Kok sepertinya Cintya terus yang di salahin. perasaan dari tadi kita naik mobil. gimana ceritanya bisa kehabisan energi." Cintya sewot tak terima begitu saja.


"Udah diem lu, berisik tau gak lu."


Dewa dan cintya berjalan bersisisan memasuki restoran dan mengambil tempat duduk paling pojok agar mereka bisa sedikit merileksasikan otak dan mulutnya. bertengkar dengan gadis bermulut ceriwis cukup membuat Dewa stress. dan sama sekali tak ada keuntungan yang di dapatnya.


"Om mau makan apa?" tawar Cintya sambil membuka buku menu.


Kali ini sepertinya setan baik yang menghinggapi pikiran gadis ini, sehingga dengan manisnya ia menawarkan menu yang ingin Dewa makan sebagai santap siangnya.


"Gue pengen makan Elu!"

__ADS_1


***


Terima kasih yang sudah mampir


__ADS_2