
Happy Reading...
Hujan di tengah hari, menambah satu lagi daftar penderitaan Dewa. Selain pekerjaan yang menumpuk dan rasa rindu yang tak tertahankan kepada Cintya, di tambah dengan udara yang dingin serta perut yang melilit. karena mual yang tiba-tiba datang tak di jemput pulang tak di antar persis nyonya kunti.
Tak luput juga rasa lapar yang membuat takut. bukan takut untuk memakannya tapi takut akan apa yang terjadi setelah memakannya.
Rasa dingin yang menyapa kulit mengantarkan angan pada sebuah kenikmatan. ah, betapa inginnya saat ini ia menyantap sesuatu yang tak biasa.
Tapi apa bisa ia mendapatkan keinginannya sekarang, sedangkan ia berada di kantor sedangkan Cintya berada di tempat yang berbeda.
Sungguh siksaan yang berat. sampai dobel-dobel.
"Lex, lo hubungi Zack, suruh secepatnya ia kesini bawa pesenan gue." titahnya pada Asisten yang saat ini sedang melakukan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
Makan siang yang ketiga, sekaligus menggantikan mulut Dewa untuk mengunyah lontong sate miliknya.
Setelah adegan olok-olokan karena nasi goreng putih, Alex bisa di katakan beruntung atau justru apes. Dewa menghukumnya dengan memakan semua makanan yang telah di beli namun tak di sentuh oleh Dewa sama sekali.
Satu mangkuk lontong balap khas surabaya yang sudah tersaji dalam mangkuk mendadak membuat Dewa mulas dan dua puluh tusuk sate ayam pedas plus lontong mendadak membuat Dewa bergidik. dan semuanya berakhir di dalam perut Alex.
"Jeki gak ada, dia lagi otewe keluar kota." Jawab Alex cuek tanpa menoleh sedikitpun, ia terus saja memakan satenya dengan khusuk. dinginnya udara membuat pria itu dengan cepat menghabiskan makanannya.
Seperti acara mukbang saja. siapa suruh Alex makan. tinggal makan gak perlu bayar. yang gratis paling enak. salah kan saja Dewa yang sesumbar seenaknye lidahnya.
"Ini udah siang Lex, masa iya belum balik." Dewa menghentikan jari-jarinya yang menari di atas kertas putih. beralih menatap Alex yang menyantap sate tinggal beberapa tusuk.
"Udah, lo mau makan apa biar gue yang cari. dari tadi lo cuma ngemil jagung goreng mulu." tawar Alex yang merasa kasihan.
"Gimana lagi Lex, cuma itu yang bikin gue gak merasa pengen muntah." Dewa mengambil sejumput jagung goreng dalam toples di atas meja kerja nya dan memakannya.
"Tapi lo tetep harus makan Wa, kalo gini terus bisa-bisa elo tumbang sebelom anak lo lahir." jujur Alex, meski di akhiri dengan cengiran setelahnya.
__ADS_1
Candaan yang sama sekali tidak lucu.
"Dasar Kampret emang lo?" Dewa melempar Alex dengan beberapa butir jagung di tangannya.
"Cepetan bilang lo mau apa sekarang?" tawar Alex lagi.
"Gudeg enak kali ya Lex, ujan-ujan gini." Dewa tiba-tiba saja membayangkan lezatnya makanan berkuah santen itu. air liurnya hampir menetes hanya dengan membayangkannya saja.
"Yakin mau gudeg?"
Seolah-olah Dewa yang sedang mengandung dan Alex yang bertindak sebagai suami siaga.
"Yakin lo mau beliin gue?"
Dewa terus saja melemparkan butiran-butiran jagung berwarna kuning kecoklatan itu ke dalam mulutnya dengan gerakan dramatis. seolah itu adalah makanan ternikmat di dunia.
Tentu saja itu makanan ternikmat di dunia Versi Dewa. karena selama hidup, ia belum pernah merasakan makanan rakyat jelata tersebut. yang proses pembuatannya saja memerlukan waktu hampir seminggu.
"Iya, gue cariin. demi lo calon papi baru. gue takut lo mampus. bonus gue belom lo tandatangani. gaji gue belom cair apartemen gue belom elo lunasi." Ujar Alex dramatis.
"Sialan lo, kok banyak banget tanggung jawab gue sama elo."
"Ya gimana lagi, kita kan sohiban dari lama, ya kita sehati lah."
"Ogah, gue udah gak mau sealiran sama lo. sesat."
"Idih, yang sudah jadi alim. percaya gue."
"Udah ribet lo, jadi gak lo cariin gue gudeg."
"Iya gue cari." pamit Alex undur diri.
__ADS_1
"Tiketnya masukin cash bon aja."
Mendengar Dewa menyebut tiket, sontak Alex berbalik dengan raut bingung.
"Tiket? tiket apa maksud lo?" Wajah Alex tampak sangat kebingungan. dalam hati pria itu sudah merasa kekhawatiran yang luar biasa.
"Lo beli gudegnya di jogja. tempat kita dulu pernah mampir."
"****!"
"Sialan!"
Alex mengumpat kasar. betapa ia sangat menyesal menawarkan diri membelikan Dewa makanan khas jogja tersebut. dan lihatlah ini sudah hampir sore dan dia masih harus urus keberangkatan.
Boleh tidak jika saat ini Alex menimpuk muka Dewa dengan pantofel nya yang tidak semahal punya Dewa.
Sebaliknya Dewa di beri obat tidur saja agar tidak terlalu menyusahkannya.
"Lo itu emang cocok sama bini lo. sama-sama suka aneh. plus nyusahin. bikin gue hampir gila."
Tak tahu saja Alex, jika Dewa tak benar-benar menginginkan makanan yang terbuat dari buah nangka muda itu.
Agaknya membuat susah Alex menjadi hiburan tersendiri buat Dewa.
***
Untungnya Si sableng punya asisten Durjana, apa mungkin si Alex yang lebih beruntung???
Ada yang mau bikinin Dewa gudeg, monggo, di persilahkan...
Dewaaaa awas nanti anaknya jail, apalagi mirip Alex, wkkk
__ADS_1