Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Kebenaran 2


__ADS_3

Happy Reading...


Dewa beranjak dari duduknya, mendekat ke arah isabel yang tengah ketakutan.


"Dan bukan hanya itu, dia_"


"Kak!"


"Cinta..., Kenapa sayang?" Dewa kembali duduk di samping Cintya yang sedikit meringis sambil memegang perutnya.


"Gak pa pa," Cintya menggeleng menyenangkan. "sepertinya hanya kram saja." Cintya mengusap pelan untuk menenangkan Twins yang menendang lebih keras dari biasanya.


"Jangan bikin mami susah ya sayang, Papi harus selesaikan masalah ini." Dewa mengusapa perut Cintya dan memberikan kecupan kecil di luar baju hamil Cintya.


Dewa kembali berdiri, dan berjalan ke hadapan Papa Rendra yang masih menanti penjelasan Dewa.


Tampak Isabel sedang gelisah, kedua tangannya berpaut saling meremat. ia sangat yakin jika Dewa tak akan melepaskannya kali ini. sejak dulu, Dewa tak pernah benar-benar menegurnya dan karena itulah Isabel berpikir bahwa Dewa tak keberatan dengan apa yang di lakukannya.dengan membiarkannya menggoda, Isabel menganggap Dewa adalah pria bebas yang sangat mudah ia takhlukan.


"Mungkin sudah saatnya kalian tahu siapa Delon sebenarnya."


"Delon?" Graciella mengernyit.


"Ya, Delon. anakku yang kalian tahu, benarkan?" Dewa tersenyum miring. mungkin terlihat tidak sopan jika seorang anak menampilkan senyum penuh ejekan di hadapan orang taunya. tapi itulah Dewa yang tak ingin menutupi apapun lagi. terlebih di hadapan mamanya yang lebih mementingkan keponakannya daripada anaknya.


"Delon adalah anak yang lahir dari kegilaan Isabel."


Semua orang tampak tercenung, terlambat untuk menelaah makna dari ucapan Dewa.


"Kegilaan isabel?" Rendra bertanya penuh keraguan. "apa maksudmu?"


"Isabel memasukkan obat ke minuman, namun sialnya ia salah sasaran. minuman itu di ambil orang lain dan yah selanjutnya, papa bisa bayangin apa yang terjadi karena di villa itu hanya ada pemuda itu dan Lilian."


Isabel menggeleng kuat, berusaha untuk menyangakal tuduhan Dewa terhadapnya. lagi pula tidak tak ada bukti yang membenarkan ucapan Dewa.


"Kau hanya mengarang Dewa," isabel mencoba melakukan pembelaan meskipun ia sendiri ragu itu akan berhasil. "mana mungkin aku melakukannya. lagi pula saat itu aku masih terlalu muda untuk berbuat itu."


"Jangan mencoba menyebar kebohongan Dewa, jelas-jelas kau maupun Lilian tak bisa memberitahu siapa ayah Delon." Graciella berucap murka, membuat Isabel merasa sedikit memiliki keberuntungan.


"Kami memiliki alasan untuk tidak membahas apapun tentang Delon."


"Kalau begitu apa alasanmu menutupi semuanya dari kami."


"Papa yakin ingin tahu?"

__ADS_1


"Katakan!"


"Karena terjadi ke salah pahaman antara Kami." Dewa menghembuskan nafas lega. ia merasa bahwa ia sudah melakukan hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. "Leo adalah teman Lilian kuliah dan kami bertiga cukup dekat. namun karena satu masalah, akhirnya terjadi kesalah pahaman."


"Leo?"


"Ya, Leonard Aditya Mahendra, ayah kandung Delon. apa kalian terkejut?" Dewa terkekeh apalagi melihat wajah kedua orang taunya yang menampilkan keterkejutan luar biasa. "takdir yang indah bukan."


Isabel pucat pasti, ia sudah berada di titik kehancurannya. pembelaannya pasti sudah tak ada guna nya lagi. Papa Rendra sudah pasti akan melakukan tes DNA untuk membuktikan ucapan Dewa.


"Tidak, ini semua tidak masuk akal," masih tak terima Graciella mencoba untuk menolak semua penjelasan Dewa. "kau pasti hanya mengarang, katakana Dewa.!"


"Apa untungnya membohongi kalian, karena jika Leo mau, Leo bisa saja membawa Delon untuk melakukan tes, tapi semua itu tidak ia lakukan karena ia pun tak memungkirinya."


"Lalu kenapa Leo tak pernah muncul setelah Lilian mengandung." hardik Graciella dengan emosi yang meluap. ia masih tak terima jika Isabel di persalahkan atas semua yang lilian alami.


"Leo tak pernah tau Lilian mengandung anaknya, saat itu kami terlibat pertikaian dan ku rasa kalian tidak lupa bukan jika Aku menyembunyikan lilian di Amerika saat itu."


Graciella sudah tak mampu mengucapkan apapun lagi, selama ini dia menganggap bahwa Isabel adalah gadis yang baik. yang tak akan pernah membuat kesalahan sefatal itu. jika seperti ini kenyataannya, apa bisa ia membela Isabel di hadapan Rendra. sedangkan Lilian adalah satu-satunya keponakannya. putri dari adik kandungnya yang harus ia jaga. dan dengan bodohnya selama ini dia mendominasi Rendra untuk melihat Isabel seorang. membuat pria itu menganggap Lilian tak lebih penting dari apapun.


"Lalu untuk apa kalian melakukan semua ini. apakah Leo dengan sengaja ingin membalas dendam.?"


Dewa mengangkat bahu, seolah-olah tak peduli dengan motif Leo yang sebenarnya. tapi Dewa tetap harus meluruskan masalah ini. agar tak ada siapapun yang bisa menemukan cela untuk menyerang Cintya balik.


"Tidak, aku tidak melakukan apapun padanya," Isabel menunjuk Cintya dengan jarinya. "dia pasti sengaja ingin menjatuhkan dirinya agar kalian dapat menyalahkanku." ucapnya setengah berteriak. "itu benarkan Cintya? jawab!"


"Jangan berani-berani membentaknya, karena cinta bukan elo yang isi otaknya cuma kelicikan. ia tak akan mempertaruhkan keselamatan anak kami hanya untuk sebuah permainan bodoh. lagi pula Cinta tidak tahu jika malam itu gue bakal pulang."


Tak peduli dengan semua suara bising yang ada di sekitarnya, saat ini Cintya sedang mengalihkan rasa yang tidak nyaman pada perutnya.


"Kak," panggilnya namun Dewa tak mendengarnya. Dewa justru sedang menatap Isabel dengan tatapan membunuhnya.


"Baiklah, anggap itu semua benar. jika Isabel memang bersalah, seharusnya kalian menegur dan memaafkannya." mudah sekali ucapan yang keluar dari mulut Graciella, jika saja saat ini Cintya tidak sedang di landa rasa sakit yang semakin menggigit, mungkin saat ini dia akan membalikkan ucapan Graciella. "kalian tidak perlu menjebaknya dalam permainan kalian. menikahkan dia dengan orang yang tidak di kenal."


"Kak,"


"Sebentar sayang!"


"Permainan apa maksud mama, ini bukan permainan. pernikahan Isabel sah menurut hukum maupun agama. jadi dimana salahnya?"


"Tentu saja salah, karena dia itu pria asing" Graciella menuding Andika dengan ujung jarinya. mata wanita itu memerah, memandang penuh kebencian.


"Pria asing yang telah melewati satu malam di hotel dan juga kencan sore hari untuk menonton maksud mama?" Dewa tersenyum mengejek ke arah Isabel yang sudah seputih mayat. ia tampak menikmati wajah ketakutan gadis yang selalu membuat istrinya itu kesal. hingga ia tak pendengar rintihan Cintya di belakangnya.

__ADS_1


"Itu tidak benar tante, Dewa bohong. aku tak mengenal pria aneh ini. pernikahan ini palsu. aku tak menginginkannya. aku akan membatalkan pernikahan ini." Isabel histeris, ia merasa harus membebaskan diri dari cengkraman tak kasat mata yang menjeratnya.


Lalu gadis itu berjalan cepat ke arah Andika dan_


Plak!!!


Satu tamparan keras ia layangkan di pipi Andika sebagai bentuk luapan kemarahannya. bagaimana bisa Andika berani melakukan itu terhadap nya. bukankah selama ini mereka sepakat hanya untuk bersenang-senang.


Setelah kejadian di hotel itu, mereka memang melakukan pertemuan kembali. tapi bukan untuk membahas tentang pernikahan. melainkan hanya untuk bersenang-senang . tapi Andika telah membohonginya, ia telah membuat Isabel tak bisa lepas darinya.


"Brengsek kamu Andika!" hardiknya penuh emosi. "bukankah sudah ku katakan kita hanya bersenang-senang. tak akan ada hubungan lain di antara kita."


Melihat Isabel yang marah-marah, menimbulkan kepuasan di dalam hati Dewa. bahkan pria itu mengacuhkan panggilan Cintya terhadap nya.


"Cukup Isabel!" suara bariton Rendra menghentikan ocehan isabel terhadap Andika. "mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawab dari suamimu," dengan ragu Isabel membalikkan tubuhnya. "dan kau anak muda, mulai sekarang tugas Om untuk menjaga Isabel, om alihkan padamu."


"Om!" Isabel mencoba protes.


"Tapi mas," Graciella tak berani membantah saat mata Rendra berkilat penuh amarah.


"Kalau kau mau, kau bisa ikut dengannya."


Dewa tercenung, tanpa bisa mengatakan apapun. bahkan papanya juga melepaskan mamanya untuk ikut bersama Isabel. sungguh keren.


"Kak!" masih tak bergeming, Dewa sedang menikmati kekalahan Isabel.


Sungguh jahat sekali Dewa ini, tertawa di atas penderitaan seorang wanita. Malaikat dalam hati Dewa memperingatkan.


Tidak apa-apa, isabel juga jahat. setan dalam diri Dewa pun turut memprovokasi.


"Dewa Herlambang!"


"Ya cinta..."


***


Hai..hai..hai..


Udah rampung ya gengs, dan tentu saja tidak di gantung sama emak, karena kemarin itu terbentur jam, maunya publish tanggal dua jadinya mak gantung deh, tapi tetep aja telat, reviewnya lama. jadi bolong deh tanggal duanya. hiks,,hiks,,hiks,,


***Semoga entar malem gak terlewat yah...


Jejaaaaak***...

__ADS_1


__ADS_2