
"Gue pengen makan Elu!"
Canda om garing." ucap gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu yang sedang ia eja namanya satu persatu. dan sepertinya gadis manis itu tak pernah lelah membuat Dewa kesal.
Oh, apakah ini yang dinamakan sebuah balas dendam? tentu ini sangat tidak menyenangkan dan kejam untuk seorang Dewa.
"Garing banget, segaring candaan elo sama gue." ucap Dewa sedikit sinis. agaknya pemuda itu sedang di ambang kebimbangan.
Melanjutkan perjodohan adalah penentu masa depannya. namun menghentikannya sama halnya menuju tiang gantungan. mati!
Buah simalakama, tentu saja. di makan mati tak makan pun tetap mati.
"Tuh kan Cintya lagi. kok kesannya Cintya nyiksa banget gitu, Cintya gak maksa Om buat cinta sama Cintya. jika Om gak mau ok, kita End sekarang. simpel kan? sama sekali gak Repot." entah kenapa Cintya begitu sangat emosi. tak seperti biasanya yang selalu menganggap enteng sebuah masalah.
Apakah kini gadis itu juga sangat menyayangkan jika perjodohan ini batal, apa mungkin benih takut kehilangan sudah mulai tumbuh di hati keduanya.
Dan tanpa di duga oleh Dewa, gadis itu beranjak pergi meninggalkan dirinya yang masih menyelami pikiran.
Dewa yang baru menyadari kepergian gadis bermata indah itu, seketika mengejarnya. jarak beberapa meter dari meja yang mereka tempati dapat dijangkau hanya beberapa langkah dengan kaki panjangnya.
"Cil, tunggu! lu mau kemana?" Dewa mencekal pergelangan tangan kecil Cintya dengan tangan besarnya.
"Ya mau pulanglah." jawabnya sedikit meninggikan suara.
__ADS_1
"Kita kan belum makan dek." ucapnya lembut. jurus mulut gula kembali di lancarkan oleh Dewa saat ini. tentu saja ia tak mau mengambil resiko Cintya benar-benar menjalankan ancamannya. membayangkan perjodohan ini batal hingga mengakibatkan dirinya kehilangan warisan sungguh sangat mengerikan.
"Males, gak napsu makan sama om. bawaanya emosi mulu" jurus ngambek dari si nona kecil.
"Kalau makan orang, napsu gak?" godanya yang justru semakin membuat gadis itu semakin kesal.
"Ya udah nanti waktu makan sambil merem. jangan liat muka gue. repot amat." rayuan yang sangat tidak tepat di tempat dan waktu yang tepat.
"Nanti kalau makan sambal gimana." Cintya merajuk manja.
"Tinggal minum, repot amat neng!" ujarnya.
"Kalau keselek?"
"Gue tiup jidat elu!"
Sadar akan hal itu Tanpa mendengar bantahan apapun Dewa menarik tangan Cintya menuju meja yang mereka tempati sesaat lalu.
Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka.
"Kok di liatin doang, gak suka?" setelah perdebatan tentang menu yang mereka lakukan tadi, Cintya merajuk tak mau memesan makanan. alhasil Dewa lah yang mengambil alih.
"Suka kok." Gadis itu kembali terdiam.
__ADS_1
"Eh, tapi kan elu tadi gak napsu makan kalau liat gue jadi sekarang udah napsu kan?" Tak puas hanya jahil satu kali, kembali Dewa berulah. dan bibir manyun sebagai jawaban.
"Oke, gue suapin biar elu makannya sambil merem. tapi bayangin gue ya." ujarnya.
"Gak usah, makasih." Cintya menolak karena takut Dewa kembali berulah setelah melihat di piring mereka warna-warna merah bertabur di atas daging rica-rica.
Makan siang penuh drama, membuat mereka begitu lahap siang itu. dan kata tidak napsu makan tadi menguap bersamaan dengan menguapnya hawa panas dari makanan yang tersaji di atas meja
"Habis ini kita ke toko perhiasan bentar ya."
"Mau ngapain?" Cintya berhenti mengunyah.
"Pesen cincin kawin lah emang lu gak mau?"
"Emang Om udah setuju dengan persyaratan Cintya?"
"Gak!"
"Terus?"
"Lu pikir kita bakal mudah keluar dari masalah ini? sulit Cil. elu gak tau aja eyang gue kayak apa, niat banget tuh aki-aki."
"Terserah"
__ADS_1
***
Jejaknya gaes...