Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Bersama lebih lama.


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, acara sakral yang di gandang-gandangkan akan menjadi pesta termegah tahun ini segera terlaksana. di liput besar-besaran dan tentunya akan menjadi trending topik selama sebulan kedepan.


Persiapan pernikahan seorang pewaris kerajaan bisnis sekaligus pebisnis muda sudah mencapai puncak.


Di kediaman mempelai putri sudah di lakukan pemasangan tratag dan tarub. di lanjutkan dengan persiapan kembang Mayang dan pasang tuwuhan.


Semua persiapan di lakukan sehari sebelum acara siraman, karena di hari itu akan banyak ritual yang juga harus di lakukan.


"Cintya ngendi to nduk /Cintya kemana sih nak?"tanya ibu-ibu tua yang adalah bibi dari ibu Leo dan Cintya.


"Masih kerja bu lek, bar Iki wayah muleh/ Masih kerja Tante, habis ini waktunya pulang." jawab ibu Diana dengan logat jawanya yang masih kental meski berpuluh tahun ia hidup di kota besar.


"Lah kok rung cuti to, sesuk lak wis wayah siraman. mosok bos e ra ngeweh i cuti/ Kok belum cuti, besok kan sudah waktunya siraman. masak bosnya tidak memberi cuti." oceh wanita bersanggul itu lagi.


"Gimana mau ngasih cuti bu lek, lah wong bos nya sendiri calon suaminya." sanggah ibu Diana sambil tertawa ringan.


"Oalah, kok apik men nasib bocah kui/ Bagus banget nasib anak itu." Bu lek Aminah tersenyum kagum.


Hari semakin sore namun yang di nantikan yang adalah calon pengantin belum menapakkan hidungnya.


Bahkan selepas Maghrib, Leo pun sudah sampai di rumah. sengaja pulang lebih awal agar bisa berkumpul bersama dengan keluarga ibunya dari Jawa.


"Leo, adek mu mana kok belum pulang jam segini." tanya ibu yang sudah mulai khawatir.


"Emang tuh bocah belum pulang Bu?" Leo balik bertanya membuat ibu semakin gundah.


"Apa mungkin lembur ya, coba kamu telpon Dewa, gak enak sama keluarga yang lain yang sudah berkumpul, sementara pengantinnya gak ada di rumah." titah ibunda dengan suara berbisik takut di dengar sanak saudara yang lain.


"Pasti ulah si sableng ini yang sengaja kasih lembur Cintya biar bisa bersama lebih lama." gerutu Leo sambil mencari kontak Dewa di aplikasi warna hijau ponselnya.


"Bersama lebih lama apa maksudmu?" tanya ibu karena Leo menggerutu sambil bergumam.

__ADS_1


"Ibu gak tau kan kalo Cintya tiap hari ke kantor itu bukan untuk bekerja, tapi cuma nemenin di sableng kerja. duduk-duduk doang dapet gaji."


"Wah enak bener nasib Cintya, mau dong satu yang kayak gitu," Celetuk Novi, sepupu yang paling kecil, masih duduk di kelas sebelas.


"Ada asistennya, yang satu frekuensi sama dia. sama-sama Sableng. mau kamu?" ujar Leo ketus menghadapi sepupunya yang tak kalah ceriwis dengan adik semata wayangnya.


"Boleh deh, yang penting bule." Sarkas gadis itu yang mendapat tonyoran kepala dari sang nenek.


Di sisi yang lain, dua orang tetua tak sengaja mendengar percakapan di dalam rumah hanya bisa menggelengkan kepala.


"Bocah sekarang Podo gemblung, bukannya pingitan malah keluyuran." timpal pria tua yang sedang duduk bersama kakek Mahendra.


Kedua aki-aki satu generasi itu duduk di bangku samping, sedang bernostalgia tentang masa muda mereka.


"Pasti sekarang Cintya lagi sama calon suaminya sedang lembur. karena tempat kerjanya adalah perusahaan besar yang di kelolanya sendiri." jawab kakek jumawa yang sudah tahu tentang sepak terjang sang calon menantu.


"Ketemu ngendi to bocah-bocah kui? / Bertemu dimana anak-anak itu?" tanya pak Suminto. pria tua yang adalah adik iparnya.


"Iyo kang, njenengan(anda) bener. koyo aku Karo bune arek-arek /seperti aku dan ibunya anak-anak." ujar kakek Suminto dengan logat kentalnya.


"Kamu tau siapa kakek pemuda itu?"


"Sopo kang/ siapa mas?"


"Wisnu Herlambang."


"Loalah, kok Soyo mbulet (Muter-muter)." kedua aki-aki itu terkekeh geli.


***


Di kantor, Dewa masih berkutat dengan berkas-berkas di tangannya. hari ini semua laporan harus selesai karena dalam waktu seminggu kedepan,sang bos aja. mengambil cutinya.

__ADS_1


"Om, kita kapan pulangnya, ini sudah sore." selalu dengan mode merengek.


"Bentar ya Cil, nanggung nih." masih menatap ke arah lembaran-lembaran putih di tangannya.


"Itu berkas gak akan habis selama kantor ini masih buka," Cintya pasang muka lelah.


"Kalo kantor ini gue tutup, yang ada lu gak bisa hunting batu berwarna lagi Cil,"


"Tau ah,"


Cintya kembali duduk selonjoran di atas sofa, sehingga roknya yang agak pendek dari biasanya sedikit terangkat, mengekspos paha mulus seputih susu.


Dewa menelan Saliva berkali-kali. pemandangan yang benar-benar menguji keimanan.


Jantungnya berdetak lebih cepat apalagi keadaan adik kecilnya yang sedang tidak baik-baik saja jika di suguhkan pemandangan yang merontokkan iman.


Dewa melepas kaca mata bacanya, meletakkannya asal di atas meja kerja yang masih berantakan.


"Lu sedang nguji gue atau sedang nge goda gue?"


Cintya terpekik karena Dewa tiba-tiba menindihnya dan mengendusnya brutal.


"Om, ngapain sih?"


"Lu siap-siap, gue ajak lu ke tempat yang bikin elu bahagia."


jeng...jeng ..jeng...


***


Gantooong...

__ADS_1


Vote!


__ADS_2