
Happy Reading..
Hati Cintya trenyuh, niat untuk mengerjai suaminya tiba-tiba membuatnya merasa bersalah. tapi apa boleh buat jika memang itu harus ia lakukan. dan Cintya tak kuasa untuk menolak. yang terjadi biarlah terjadi.
Dewa mulai dengan mengikis jarak di antara mereka, hingga udara pun tak mampu untuk menerobos masuk.
Memeluk dan mencium pucuk kepala sebagai langkah awal setelah sebelumnya Dewa melantunkan Do'a di atas ubun- ubun Cintya. Do'a mohon keberkahan atas langkah mereka menuju babak baru dalam kehidupannya.
"Om, jangan deh, lain kali aja ya." Cintya masih berusaha menolak. bukan karena ia tak ingin melaksanakan kewajiban namun karena memiliki alasan yang tak dapat ia ungkapkan. yaitu malu.
"Menolak ajakan suami itu dosa Lo cil, dan malaikat akan melaknat sampai pagi, mau kamu?"
"Gak mau lah!. tapi kalau Om ikhlas kan gak masalah."
"Gue emang gak ikhlas, gimana dong?"
Cintya merengut, percuma bicara jika Dewa sudah pada kemauannya. persetan dengan yang akan terjadi setelahnya.
"Oke, tapi ingat Om gak boleh ingkar janji. pokoknya Cintya udah kasih tanda warning."
"Iya gue janji," Ucapnya sembari menarik Cintya lebih dekat ke arahnya.
Dewa mulai mengangkat dagu Cintya dan mempertemukan kedua mata mereka dalam satu garis lurus. hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti.
Cintya mulai merasakan sentuhan lembut di atas bibirnya. sapuan hangat di kulit wajahnya karena nafas Dewa yang menderu.
Dewa mengecup singkat namun berkali-kali dan berlanjut mencecap dan menghisap.
*******-******* lembut yang berangsur menuntut membuat Cintya merasakan getaran dalam dirinya. seperti ada sensasi yang menggelitik namun sangat menyenangkan.
__ADS_1
Gigitan-gigitan kecil membuat bibir yang semula hanya menerima itu akhirnya membalas dengan sangat amatir. Dewa tersenyum di antara ciumannya.
"Nafas Cil, entar lu pingsan lagi." ujarnya.
Cintya terengah, Dewa sama sekali tak membiarkannya melepaskan pagutan mereka. justru semakin dalam mengeksplorasi rongga mulut, mengabsen setiap sudut mulut gadis itu.
Suasana kamar yang temaram membuat pasangan yang baru dinyatakan halal itu semakin terbakar oleh gairah.
Dan entah kapan mulainya hingga kini Cintya hanya mengenakan dua bahan pembungkus area pribadinya.
Malu? tentu saja, bagaimanapun belum pernah ada yang melihat Cintya setengah telanjang.
Dewa mengangkat tubuh mungil gadis itu ke atas Ranjangnya, lalu Dewa beringsut membuka kemeja dan celananya sendiri. meninggalkan Celana bokser yang mencetak jelas penghuninya.
"Ingat gak boleh teriak " kembali Cintya mengingatkan.
"Elu yang bakal gue bikin teriak kenikmatan." ujarnya sambil mengungkung Tubuh Cintya di bawahnya.
Kembali Dewa mel*mat bibir yang berada di bawahnya. lalu ciumannya beralih di atas rahang dan turun ke arah tukang selangka.
Nafas Dewa semakin memburu seiring dengan adik kecilnya yang meronta ingin di bebaskan.
Namun Dewa masih ingin bermain-main. hingga matanya mempertemukannya dengan dua gunung kembar yang langsung ia lahab habis secara bergantian. meng*lum dan memilin hingga meremasnya kuat. membuat Cintya terpekik kenikmatan.
Sejurus kemudian pria itu menelusuri perut Cintya yang rata. bermain-main di sana lebih lama.
Hingga sampailah ia pada tujuan terakhir yaitu bagian inti yang masih tertutup kain berbentuk segitiga.
Tangan Dewa beringsut untuk menurunkannya sebelum matanya melotot sempurna karena pemandangan tak biasa.
__ADS_1
Pembalut!
Jadi Cintya datang bulan.
"Cil,"
"Apa?"
"Kok gitu?"
"Harusnya bagaimana?"
"Sejak kapan?"
"Tadi sore,"
"Kok Lo gak bilang?"
"Kan udah kasih warning." Jawab Cintya telak membuat Dewa mingkem.
Dewa menurunkan bahu pasrah.
"Cinta... Kau kejam!" Teriak Dewa frustasi.
"Tante Lux I'm Coming." ucapnya seraya nyelonong ke arah kamar mandi.
***
Kapok gak Dewa???
__ADS_1
jejaaaaak