Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Kaulah yang terindah.


__ADS_3

Siang masih menyisakan panas, sedangkan. angin sore mulai berhembus pelan. menerbangkan tirai-tirai lembut di kamar hotel kelas VVIP tersebut.


Dewa masih setia berada di samping gadis yang tertidur dalam pelukannya. ia sama sekali tak beranjak sedikitpun sejak ia merebahkan tubuhnya di samping si Puteri tidur.


Tak peduli tangannya yang lelah atau pun nyeri karena tertindih. ia tak ingin saat Cintya terbangun nanti tak mendapati dirinya berada di sampingnya.


Cintya melenguh, meluruskan tubuhnya dari posisi yang semula meringkuk seperti bayi. bulu mata lentik itu tampak bergerak-gerak, terbuka perlahan.


Cintya mengedarkan pandangan, dalam mode diam. berusaha mengumpulkan kepingan memori yang tercecer. air matanya kembali meleleh.


Dewa masih terdiam, membiarkan Cintya meluapkan emosinya.


"Kenapa Om, kenapa Om lakuin ini sama Cintya?" ucapnya sesegukan.


"Sorry, maafin gue ya Cil," Lirih Dewa. tangan nya terulur mengusap lelehan air mata yang tak berangsur menyusut.


"Tya benci sama Om." Cintya menepis kasar tangan yang tengah mengusap air matanya.


"Gue tau, benci gue semau lu, tapi jangan pernah berfikir untuk bisa jauh dari gue."


Deg!.


Batin Cintya mencelos tak salahkah pendengarannya saat ini?


Tidak, Cintya masih waras dan pendengarannya masih berfungsi dengan sangat baik.


"Gue punya alasan lakuin ini sama elu, maafin gue.' Dewa kembali membawa gadis itu dalam rengkuhannya.


Cintya marah gadis itu mendorong tubuh Dewa dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Apapun alasan Om, tak seharusnya Om lakuin ini ke Cintya" bentak gadis itu garang.


Cintya duduk dengan cepat lalu menarik selimut dan membelit tubuhnya yang hampir telanjang.


"Cintya please, dengerin penjelasan gue." Dewa mengikuti Cintya, kakinya melangkah mendekati gadis itu di sisi tempat tidur yang lain.


Dewa berlutut di hadapan Gadis yang wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis.


Cintya mengamuk, kakinya yang bebas menendang apapun yang bisa ia tendang. bantal, guling, berserakan di lantai. tangannya masih kuat mencengkeram selimut yang melilit di tubuhnya.penampilan gadis itu sudah seperti kepompong saat ini.


Kamar mewah itu sudah tampak seperti pasar loak. semua berserakan dan sangat kacauu. Dewa benar-benar kewalahan di buatnya.


"Cintya tenang, dek'" ucap Dewa melembut berusaha mengambil hati gadis yang seperti kucing liar.


'Tya benci sama Om, Om brengsek bajingan," cerca gadis itu menggebu.

__ADS_1


Dewa masih berusaha menenangkan. di pegangnya kedua bahu gadis itu, namun bukannya membuat tenang, gadis itu semakin tak terkendali. kakinya berhasil menendang tepat di dada bidang pria itu. membuatnya sedikit menjauh. Dewa berdiri dengan cepat. ia tahu apa yang akan gadis itu lakukan.


Cintya mengambil kesempatan itu untuk turun dari ranjang, namun naasnya kakinya menginjak pojokan selimut yang menjuntai di atas lantai. membuat tubuhnya limbung dan terhuyung. dan lebih naasnya lagi, dahinya akan terbentur pojokan meja rias jika saja Dewa tak sigap menangkap nya. alhasil Dewa lah yang menjadi korban.


Pria itu sedikit meringis merasakan nyeri di pelipisnya yang memar dan sedikit mengeluarkan darah.


"Om," pekik Cintya tertahan. ada sedikit rasa kasihan merambati hati gadis itu, melihat pria yang setiap hari menemaninya itu meringis menahan sakit. namun egonya memaksanya untuk memasang wajah tega, mode Ra ngurus.


Jika peristiwa jatuh nya Dewa terjadi diwaktu yang lain, pastilah saat ini terjadi acara saling ejek mengejek.


"Lu gak pa pa kan dek?" tanya Dewa dengan manisnya. entah kemana perginya panggilan bocii yang selalu pria itu andalkan.


Cintya menggeleng, berusaha untuk kembali berdiri. namun sayang Dewa terlebih dulu menyambar tubuhnya dan membawanya ke atas Sofa yang masih bersih itu.


"Om lepas, Cintya mau pulang." Bentak gadis itu gerang.


"Iya kita pulang setelah elu dengerin penjelasan gue."


"Gak mau!"


Dewa tak mengindahkan umpatan dan cercaan dari gadis itu. ia bahkan merangkum tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. membawanya ke atas sofa dan mendudukkannya di aras kedua pahanya.


"Dengerin gue sebentar," Dewa semakin merapatkan pelukannya pada tubuh terbungkus selimut itu.


"Gue lakuin ini karena gue marah sama kakak elu," jawaban Dewa sukses untuk membuat Cintya terdiam.


Emang kenapa dengan Kakak?


Batin Cintya ingin bertanya namun ia urungkan dan lebih memilih untuk mendengarkan.


"Dia menyuruh gue melakukan hal yang ia sendiri tidak mampu lakukan"


Cintya merotasikan kepala, untuk menjangkau pandangan ke wajah pria yang baru saja berkata. mencari kebohongan dalam gurat wajah pria yang tengah tersenyum ke arahnya.


Senyum yang tak pernah Dewa tunjukkan kepada siapapun. senyum tulus yang sarat akan cinta.


Kedua mata mereka saling mengunci. manik mata abu-abu Dewa menembus mata hitam nan cantik milik Cintya. jantung mereka berdua berdetak tak biasa. saling menggemakan ungkapan perasaan yang membuncah.


"Apa maksud Om?"


"Suatu saat gue bakal cerita semuanya. satu hal yang harus elu tau saat ini," Dewa menggantung ucapannya. tiba-tiba saja mulut gulanya tak mampu memproduksi kata-kata rayuan.


"Apa?"


"Jangan pernah meminta hal yang gak mau gue lakuin. gue bukan tak mampu tapi gue memang gak mau?"

__ADS_1


"Jadi, om memang sengaja tak ingin terlibat perasaan apapun pada Cintya?" Suara gadis itu parau terdengar kecewa.


"Sesuai janji gue, gue akan jadikan pernikahan ini sempurna buat elu. gue jadikan elu ratu sesuai keinginan elu. dan gue janji gak akan sakiti hati elu. tapi please jangan bicarakan cinta. gue takut elu pergi."


Wait!


Hati Cintya tak mampu mencerna, tapi ia tetap memaksa untuk mendengarkan.


"Gue hanya minta Elu percaya sama gue, dan semua bakal baik-baik saja."


"Tapi kenapa, apa Cintya tidak menarik sampai Om tak ingin mencintai Cintya?"


"Syut... jangan bilang seperti itu, elu yang terindah."


Seer,,


Meleleh hati adek bang!


Ada rasa yang tak biasa dalam hati Cintya, namun ada banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban juga berada di sana.


"Jadi apa alasan Om lakuin ini ke Cintya,?" untuk kesekian kalinya gadis itu bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Biar elu gak membatalkan perjodohan ini."


"Tentu saja karena Om takut miskin bukan?" kembali gadis itu kepada mode ketusnya.


"Terlepas dari itu semua, gue gak ingin elu pergi."


"Bukankah Om bilang bakal biarin Cintya pergi jika suatu saat ada yang mencintai Cintya dengan tulus."..


"Ya lu bener, tapi gue rasa itu tak akan terjadi."


"Maksudnya?"


"Gue bakal bikin elu tetap berada di samping gue." ujar Dewa yakin.


"Gak akan! karena Cintya hanya akan hidup bersama dengan orang yang Cintya cinta dan mencintai Cintya." sarkas gadis itu.


"Elu lihat itu?" Dewa menunjuk pada sudut kamar yang membuat mata Cintya membulat sempurna.


jeng...jeng .jeng...


***


Jejaknya gaes....

__ADS_1


__ADS_2