
Yuhuuu... semoga kalian masih menanti.
Pengen kreji ap sih sebenarnya, tapi entahlah...
sepertinya kalo aku kreji ap bawaannya kecewa mulu, jadi ya udah lah, cukup satu part aja ya yang penting puaannjanggg sepanjang anunya Dewa, eh...
Happy reading kaum buciners...
***
"Kak, apa kita gak keterlaluan sama Isabel?" adalah pertanyaan pertama yang di lontarkan Cintya setelah mereka keluar dari hotel.
Karena sejujurnya yang terjadi adalah lebih dari yang di rencana kan. bukan itu yang Cintya mau, namun sepertinya yang terjadi melenceng jauh dari skenario yang ia buat.
Terdiam sejenak seolah berfikir. Dewa tak langsung menjawab. akan banyak hal yang terjadi jika ia salah menjawab. karena ia tahu, pertanyaan istri nya itu bukan sekedar pertanyaan biasa. bisa jadi jebakan hanya untuk melihat reaksi Dewa. atau sebuah pendapat yang ia ingin dengar, tapi jatuhnya pasti salah.
"Kamu ingin jawaban apa dari aku?"
Cintya mengedik bahu, seolah itu adalah isyarat bahwa ia akan menerima apapun jawaban Dewa.
"Kakak jawab menurut pikiran kakak aja deh."
Eh, benarkah?
Sekali lagi Dewa menimang untuk menjawab, sebelum akhirnya berkata,
"kalau itu untuk membalas semua perlakuan Isabel sama gu_ , sama aku sepertinya itu keterlaluan sih. kan aku gak tergoda sama dia."
"Issh,,, jadi ada niat nih buat tergoda?" sambar Cintya cepat, namun tak benar.
Tuh kan, baru juga di omongi.
"Eh, enggaklah!" sanggah Dewa cepat sebelum pikiran negatif istrinya itu membuat pembicaraan mereka meluber kemana-mana.
"Awas."ancamnya dengan mata memicing.
Dewa melongo takjub, ini perempuan kok aneh sih, sejak kemarin bawaannya ngajak perang terus.
Sudahlah, Dewa faham istrinya memang aneh. dan yang paling aneh adalah dia terlalu mencintainya. ya, Dewa mencintai gadis aneh.
"Kalau buat dia senasib sama Lilian, sepertinya itu setimpal. tapi yang aku heran, kamu kok bisa dapat ide sesadis itu?"
Tiba-tiba Cintya merengut, wajahnya bertekuk dengan bibir mengerucut. apa tadi Dewa baru saja mengatainya.
.
Melirik sebal sambil mendengus. tak begitu saja terima di persalahkan.
Salah lagi kan.
"Tapi kan kita gak tau itu menyakitI Isabel apa enggak." ujar Dewa merasa benar. benar menurut dirinya tapi tidak menurut Cintya.
"Mana ada sakit mendesah begitu, yang ada dia keenakan itu, pasti Andika juga seneng tuh, menang banyak dia."
Ya Tuhan Dewa benar-benar takjub dengan istrinya itu. kenapa pikiran wanita di sampingnya ini praktis sekali.
Maka sudahlah tak perlu membahas lebih panjang lagi, jika di turuti perdebatan mereka tak akan selesai, bahkan sampai besok pagi pun mereka akan terdiam di sini hanya untuk membicarakan masalah Isabel.
Malam semakin larut, Dewa menjalankan kereta beroda empat itu dengan kecepatan rendah. ia tak merasa terburu-buru ataupun di buru waktu.
Memutuskan untuk kembali tinggal di rumah keluarga, meski sedikit tidak nyaman, tapi tetap harus di lakukan karena eyang mengatakan jika cucu mantunya harus menempati rumah utama.
Dalam Perjalanan pulang, Cintya lebih banyak terdiam. membuat Dewa bertanya-tanya, apakah kiranya ia telah melakukan kesalahan sehingga gadis yang biasanya tak pernah kehilangan kicaunya itu kini terdiam.
__ADS_1
Tak ingin menambah kesalahan dengan pertanyaan, Dewa memutuskan ikut terdiam. hanya akan bicara jika sang nyonya mengajaknya bicara.
Jika Dewa terdiam karena takut salah bertanya, maka berbeda dengan Cintya. gadis yang telah kehilangan status gadisnya itu sedang berpikir satu hal, apa kiranya yang membuat Andika berani melakukan itu. rasanya bukan hanya karena ingin bermain-main. pasti ada hal lain yang mendorong Andika untuk melakukan itu.
Kau akan mendapatkannya."
"Apa?" ucapnya terperangah.
"Biar aku jelaskan."
"Sebelumnya aku ingin tanya, dari mana kamu dapatkan foto itu?"
"Saya mengambilnya diam-diam."
"Berani sekali kau, apa kau tidak takut. kau tahu kan siapa dia."
Andika hanya terdiam, lalu mengangguk.
"Apa kau begitu ingin melakukannya? kulihat kau sering melihat film Dewasa saat jam istirahat. dan di meja kerjamu ada banyak foto dan video semacam itu." cerca sang nyonya direktur mengintimidasi.
"Tolong jangan laporkan saya, saya mohon." ujar Andika takut-takut.
"Apa imbalan yang aku dapatkan jika aku membantumu."
"Saya akan melakukan apapun perintah anda?"
"Yakin?"
Andika mengangguk.
"Termasuk tidur dengannya?"
Kembali Andika mengangguk.
"Baiklah, tunggu perintah dan arahan dariku."
Sekelumit percakapan nya dengan Andika dua minggu yang lalu terlintas dalam ingatan. tapi bukan karena kesediaan Andika untuk membantunya. atau alasan Pria culun itu melakukannya. tapi foto itu, sepertinya foto lama yang sengaja di ambil dari jarak dekat.
Ah, Cintya buntu tak dapat berfikir.
Hingga mobil semakin jauh, meninggalkan tempat yang selama beberapa jam lalu menjadi saksi pergulaan panas dua insan yang tengah menggelora. Cinta masih tak mengeluarkan cicitannya.
"Kok diem, kenapa sih?" menoleh sebentar hanya untuk melihat wajah dari pemilik bibir ceriwis itu.
"Siapa Isabel sebenarnya!" tanpa mengalihkan pandangan Cinta bertanya.
"Bukannya kakak udah pernah jelasin sama kamu?"
Cinta mengibas-Ibas kan tangannya. sedikit merotasi kan tubuhnya. kini posisinya berhadapan dengan Dewa yang sedang mengemudi.
"Bukan itu, apa Isabel itu seorang model?"
"Bukan. emang kenapa?"
Tak menjawab justru kembali ke posisi semula. memandang lurus kedepan. berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan nya sendiri.
"Cinta.." panggilnya namun Cintya sepertinya tidak mendengar.
"Cin,.." panggilnya lagi.
"Cinta, kenapa sih?" Dewa menggoyangkan bahu istrinya.
"Apa sih kak?" sedikit sewot merasa terganggu.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Aku?" tunjuk Cintya ke arah dirinya. "emang aku kenapa?'
" Kok balik tanya? ya gak tau lah, kalau tau ngapain tanya?"
Kesal dengan jawaban ambigu istrinya, Dewa meninggikan suara.
"Belibet ah?"
"Loh, kok jadi gue yang belibet?"
Nah kan, lo gue lagi. memang mereka kalau sudah berdebat suka lupa aturan ngomong.
"Kakak deh yang ngoceh terus dari tadi." cicit wanita itu tak terima salah.
"Elo bengong makanya gue nanya. malah dibilang belibet." kesal Dewa dengan tingkah istrinya yang mulai menyebalkan.
Menyebalkan?
Sejak kapan?
Tolong ingatkan Dewa, jangan terlalu bucin hingga lupa jika istri nya adalah adalah salah satu manusia menyebalkan di dunia.
"Tuh kan emang banyak omong lagi."
"Serah lu dah."
"Ya terserah aku lah, kalau serah orang banyak namanya gotong royong." Cintya terkekeh geli.
"Capek gue."
"Kalo capek ya tidur bang."
"Oke gue tidurin elo di rumah habis ini, semalaman."
"Capek dong."
"Gue bikin lu sekalian gak bisa jalan."
"Ya gendong?"
Begitulah pasangan itu, yang tak pernah jauh dari kata anteng. setiap perdebatan akan selalu terakhir dengan adegan ranjang.
***
Sudahlah lupakan perdebatan mereka yang memang Absurd.
lagi kurang mood, gak dapet feelnya, maafkeun,,,
nih, mas letoy nya ganteng apa ganteng nih. pas ngantor dia nih.
yang ini lagi apa ya???
manis euy...
Lots of luv,,,💕💕💕
Chanda
__ADS_1