
Yang ini telatnya di sengaja ya man teman, emak sok penting gitu loh!
Enggak kok, cuma tadi malam ketiduran efek melek an kemarin.
Happy Reading....
"Kak!" masih tak bergeming, Dewa sedang menikmati kekalahan Isabel.
Sungguh jahat sekali Dewa ini, tertawa di atas penderitaan seorang wanita. Malaikat dalam hati Dewa memperingatkan.
Tidak apa-apa, isabel juga jahat. setan dalam diri Dewa pun turut memprovokasi.
"Dewa Herlambang!"
"Ya cinta..."
Dengan cepat Dewa menoleh, ia sempat terbengong mendapati cintya yang meringis mencengkram pinggiran sofa.
"Sayang!" Dewa berlari panik.
"Sudah selesai ceramahnya?" sungut Cintya ketus. untung saja rasa sakit di perutnya sedang menghilang saat itu. jadi mulutnya masih sempat untuk menyalak. "Di gaji berapa jadi ustadz dadakan sam_ Awww, kakak sakit!' Cintya kembali merasakan kontraksi di perutnya.
"Sayang, kita berangkat baby moon loh sore ini." entah dimana Dewa menaruh otak cerdasnya hingga kata itu keluar begitu saja. dan tentu saja itu hanya pengalihan dari rasa panik.yang menderanya.
"Adeknya ini yang nakal, hiks..aww, sakiit." jerit Cintya yang membuat Dewa terkesiap. seharusnya pria itu langsung bertindak, namun kepanikan membuat otak Dewa seketika itu kosong. tangan Cintya semakin kuat meremas. kini bukan pinggiran sofa melainkan bahu Dewa yang sedang berjongkok di depannya yang menjadi sasaran ketajaman kuku-kuku cantik Cintya.
Tak berbeda dengan Dewa, empat orang di belakangnya pun hanya mampu terbengong. sungguh mereka tak pernah melewati moments ini. bahkan Graciella yang seorang ibu pun hanya mampu membelalakkan mata.
"Ma, kamu ingat gak waktu mau lahirin Dewa dulu, apa seperti itu?" tanya Rendra yang juga ikut bingung tak tahu harus melakukan apa.
"Gak tau pa, dulu kan mama lahirin Dewa karena milih tanggal yang bagus, jadi gak tau sakitnya seperti apa, mama langsung kerumah sakit aja waktu itu." ujar Graciella yang juga sedang bingung.
"Pantes aja waktu papa datang, semua udah beres." Graciella nyengir. "dasar wanita."
"Mama kan juga takut sakit," Graciella meremat tangannya sendiri.
Rendra menggelengkan kepala tak habis pikir. mengabaikan raut muka Graciella yang juga meringis saat Cintya menjerit, lalu Rendra menghampiri Dewa.
"Ini cucu eyang udah gak sabar ya?" ujar Rendra di depan perut Cintya. " mau ketemu mami sama papi?" mata tua Rendra berkaca-kaca. seumur hidup ia belum pernah mengalami hal seperti ini. dan sekarang ia tak dingin melewatkan moment menegangkan. menanti kelahiran cucu-cucunya. apalagi menantunya adalah putri dari seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Udah gak sakit, kak!"
"Hufft!" Dewa menghela nafas lega, itu artinya Cintya baik-baik saja bukan. tidak akan melahirkan untuk saat ini.
"Mungkin Twins hanya ingin main-main saja tadi," Dewa duduk di samping Cintya, lalu menariknya ke dalam pelukannya. memberi usapan lembut pada punggungnya.
"Sebaiknya bawa ke rumah sakit sekarang saja Dewa, papa khawatir."
"Jangan nakutin Dewa pa,"
"Nanti kalau istri kamu lahiran di sini, bisa kamu tangani sendiri." sambar papa cepat, pria tua itu gusar sendiri.
"Belum waktunya pas, iya kan cinta? masih_"
__ADS_1
"Awww," ringis Cintya kembali. "masih satu bulan lagi dari perkiraan."
"Oh, ya sudah, papa ke kamar dulu. baik-baik ya anak," Rendra bangkit lalu mengelus pucuk kepala Cintya dengan penuh kasih sayang.
Semua itu tak lepas dari mata Graciella yang memandang dengan nanar.
Setelah Rendra berjalan beberapa langkah, Graciella juga mengikuti dari belakang tak mempedulikan dua orang yang masih berdiri canggung di sana.
"Lo nunggu apa Isabel?, ajak suami lo masuk."
"No!" tolak Isabel cepat.
Dewa menyeringai menakutkan, "Lo tau apa yang harus lo lakuin kan?"
"Tentu saja bos," tak menunggu lama, Andika membawa Isabel dengan sedikit menariknya karena isabel yang meronta dan menolak ikut.
"Lepasin tangan gue, brengsek!"
"Gak akan!" jawab Andika cepat. "mulai sekarang kamu harus ikut ke manapun aku pergi." lebih pada seringai, wajah Andika seketika itu berubah mengeras. wajah yang tak pernah Isabel maupun Dewa lihat sebelumnya.
"Aku gak mau!" Isabel meronta berusaha melepas kan kepalang tangan Andika yang menyeretnya.
"Kita akan bersenang-senang mulai sekarang." Isabel bergidik ngeri. ia bahkan tak pernah tahu jika Andika bisa sekasar ini terhadapnya.
Ketakutan mulai merajai hati Isabel. ia tak pernah benar-benar mengenal Andika sebelumnya. bahkan dengan saudara kembarnya dulu ia lupa, dan sekarang ia harus terjebak dengan pria yang perangainya seperti apa. dan bodohnya itu karena kesalahannya sendiri. dan lebih sialnya lagi ia tak mampu berbuat apa-apa.
Di luar pintu, mereka berpapasan dengan Leo yang menggandeng tangan Lilian dan menggendong Delon yang sedang tertidur di bahunya.
Melihat kemesraan Leo dan Lilian, Isabel semakin murka. ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cekalan tangan Andika.
"Tapi sayangnya, wanita yang lo sebut ****** ini adalah wanita pilihan terakhir dari Pria yang sangat lo inginkan." tak seperti biasanya yang hanya bisa diam dan menunduk, kali ini Lilian mampu menjawab dengan tegas. "dan terima kasih karena malam itu elo udah bantu kita buat miliki Delon, kami sangat bahagia."
"Si*lan!" Umpat Isabel lagi.
"Bye, Isabel sepupu tersayang." ujar Lilian dengan pandangan jijik.
Andika semakin kuat memegang Isabel yang meronta hendak menyerang Lilian. bahkan pria itu haris memeluk pinggang isabel yang masih terbalut kebaya penganten. penampilannya yang berantakan kini semakin mirip orang gila karena tatanan rambutnya yang tak beraturan dan make up nya yang luntur karena terlalu banyak menangis.
"Bawa Audy sama lo," Leo melempar kunci mobil yang baru saja ia kendarai yang di tangkap oleh Andika dengan wajah penuh suka cita. "dan ini kunci apartemen lo." Leo menyerah kan kunci berbentuk kartu pada Andika. membuat pandangan Isabel melotot. "semuanya udah beres sama Alex, kalian tinggal nikmati."
"Terima kasih pak!"
Setelah itu, Leo meninggalkan Andika dan Isabel yang masih berdiam. tangannya kembali menautkan jari-jarinya di antara jemari Isabel.
Di dalam rumah, keriuhan kembali terdengar, diapa lagi pelakunya jika bukan Dewa dan Cintya.
"Kak, sakit lagi!"
"Sayang, jangan bercanda."
"Ih, siapa juga yang bercanda. ini beneran sakit kak!" Cintya sampai membungkuk memegang perutnya yang semakin kaku.
Dewa bingung, hanya berdiri memegang lengan Cintya. menahannya saat wanita itu mengeram.
__ADS_1
"Sakit kak!" jerit Cintya yang mampu di dengar Leo.
Melepaskan tangannya dari Lilian, Leo berlari menyongsong suara Cintya yang merintih.
"Lo apain adek gue?"
Pertanyaan yang tidak tepat di saat yang tidak tepat juga.
"Ya gue hamilin lah!"
Dan jawaban tak tepat terdengar juga saat itu.
"Iya gue tau itu bego!" Leo mengeram hingga Delon yang tertidur pun berjangkit karena kaget. "Cintya kenapa?!"
"Lu gak liat apa dia kesakitan gitu?"
"Sakit kenapa Wa, lo lakinya kok malah diem."
Lilian yang bingung menoleh antara Leo dan Dewa saling berebut kata, hingga ia tak memiliki kesempatan untuk menyela.
"Stooop!" Lilian menjerit. "Kalian apa-apaan sih?"
"Sayang," Leo hendak protes.
"Leo, Stop! Dewa, cepat bawa Cintya kerumah sakit, sepertinya bayinya akan segera lahir." Lilian semakin panik karena Cintya tak berhenti merintih.
"Udah, cukup aku gak papa!" ucapan Cintya segera menghentikan kepanikan ketiganya. seperti boneka yang di jalankan dengan kendali remot.
"Mungkin hanya kontraksi palsu, ayo duduk saja. Rileks" Lilian mendampingi Cintya yang tampak terengah.
Selama tiga puluh menit selanjutnya Cintya tak lagi merasakan sakit. hanya janinnya yang terasa bergerak semakin intens. ia merasa pergerakan yang semakin menurun menuju jalan lahir.
"Kak,"
Dewa dan Leo menoleh bersama.
"Adeknya gerak-gerak terus."
"Iya sebentar sayang," seolah tak peduli, Dewa sebenarnya sedang merasa tidak nyaman di perutnya.wajahnya yang tegang dan pucat di sadari oleh Leo.
"Lo kenapa?"
"Gak tau, tiba-tiba perut gue mules. pinggang gue juga rasanya mau patah."
"Jangan bilang lo juga kontraksi."
***
Emak: Wa.. wa.. inget janji kamu yaa nak,,,,
Dewa: Mak, kamu kejaaaaam!
Emak: Kan kamu yang mau, Lupa???
__ADS_1
Dewa: Ah, elaaah, nyesel gue!
Reader:?????