Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Leo dan Dewa


__ADS_3

Part khusus leo. banyak komen up siang, no komen up besok.


Ngancaam? iya,


Kok gitu? Terlanjur melek wkkk.


***


Happy Reading...


"Mau libas siapa Lo?".


Ketiga trio sableng kompak menoleh.


Dewa terkejut namun secepatnya ia merubah keterkejutannya menjadi mimik biasa. sedangkan Alex menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. menyesal karena ia sudah mengetahui keberadaan Leo sejak Dewa baru bergabung bersama mereka namu lupa untuk memberi tahu Dewa, karena asikan ngobrol.


Jika Dewa tahu mengenai hal itu sudah pasti hukumannya akan bertambah. sungguh mengerikan dalam bayangan Leo.


"Ngapain orang alim berada di tempat pendosa?" Tanya Dewa tanpa rasa takut.


"Gue lagi bantu malaikat Atid nyatet amal buruk elo," Sarkas Leo menimpali candaan Dewa.


"Repot amat Bang?" Timpal Alex di ikuti oleh tawa setelahnya.


"Lagian tempat ini bukan punya eyang moyang elo, jadi siapapun termasuk gue boleh datang kesini." jawab Leo.


"Ya terserah elu mau kemana juga, elo udah tua gak mungkin nyasar." jawab Dewa sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana bos?" Tanya Alex


"Gue cabut, males di sini ada calon Abang gue, pasti besok dia ngadu sama ayang beb Cintya. yang ada besok gue kena setrap ibu negara. ngeri gue," Ujar Dewa berlalu pergi di ikuti pandangan Leo .


"Wa, kita belom selesai bahas ini." teriak Zack sedikit kencang.


"Ada asisten durjana gue yang bisa gantiin." jawab Dewa sambil berteriak juga.


Leo masih berdiri di tempatnya, mengikuti langkah Dewa yang keluar dari klub hingga menghilang di balik pintu.


"Duduk bang," Alex mempersilahkan.


Leo duduk di tempat yang di duduki oleh Dewa.

__ADS_1


"Leo." Leo mengulurkan tangan ke arah Alex.


"Alex, Asisten adik Abang yang durjana nya na'udzubillah." Alex menjabat tangan Leo, memperkenalkan diri.


Leo tersenyum.


"Zack Montano, CCTV si Dewa sableng," Zack nyengir lucu.


Kembali Leo tersenyum. ternyata mereka bertiga sangat cocok. sama-sama gila dan minim akhlak.


"Jadi kalian berdua sahabatnya si brengsek itu?" tanya Leo tanpa sungkan.


Keduanya tampak saling pandang lalu mengangguk secara bersama.


"Apa Dia sering kesini?"


Alex menggeleng secara bersama Zack mengangguk. membuat Leo Cengo seperti orang bodoh.


"Kalian kompak banget sembunyiin kebrengsekannya tuh bocah." Leo tersenyum miring. dan dengan bodohnya Alex dan Zack mengangguk. Leo menggeleng masih dengan senyum meremehkan.


"Sebenarnya Dewa kesini jika lagi suntuk aja bang." Alex menjelaskan.


"Berapa gaji kamu buat nutupin kebejatanya?" Leo berkata sinis.


"Dewa teman kita, tanpa di bayar pun kita pasti bilang yang sebenarnya." Alex kembali menjelaskan.


"Sebenarnya Dewa itu sudah ketemu sama pawangnya, adek Abang udah buat temen kita itu seperti bukan dirinya " Zack menambahkan.


"Maksudnya?"


"Sejak Dewa tahu jika eyang menjodohkannya dengan adek Abang, dia udah gak pernah maen-maen lagi."


"Apa kalian sedang membuatnya tampak baik di depan gue?"


"Buat apa kita berdua bohong, tak ada untungnya. meski Dewa royal sama kita, kita memilih loyal pada persahabatan bukan pada uangnya. Dewa itu tipe pemberi, bukan pencuri."


Deg!


Ucapan Alex menampar Leo, sedikit banyak hatinya membenarkan ucapan Alex, namun entah mengapa sangat


sulit untuk menghilangkan keraguan dalam hatinya.

__ADS_1


Leo mengingat saat Dewa memeluk Lilian dengan posisi yang pasti membuat orang lain berfikiran mereka sedang ada hubungan.


Meski kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya, namun saat mengingatnya, Leo masih merasakan sakitnya di khianati.


Leo terdiam, larut dalam fikirannya sendiri membuat Alex dan Zack juga terdiam. namun dua kaki mereka sedang beradu saling tendang di bawah meja.


"Gue cabut, kalian teruskanlah," Leo pamit pada Alex dan Zac dan keduanya mengangguk mengiyakan.


Leo berjalan gontai keluar dari klub yang ia datangi bersama seorang teman kantornya. Namun saat melihat Dewa juga berada di sana, dirinya langsung pamit untuk pergi. namun bukannya pergi, justru ia datang ke meja Dewa dan teman-temannya.


Leo pulang dengan dada berkecamuk. ucapan Alex terngiang di telinganya. benarkah selama ini dia yang terlalu kejam terhadap Dewa dan Lilian? menjudge tanpa bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


Leo berhenti di atas jembatan. jalanan yang menjadi tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu untuk mencoret tembok jembatan.


Masih terekam jelas tawa Dewa yang puas menggambar dan mengekspresikan apapun dalam bentuk coretan di tembok jembatan.


Masa SMA adalah Kenangan terindah di antara dirinya dan Dewa. Dewa yang selalu menyembunyikan kesepian di hatinya karena ketiadaan orang tuanya di sampingnya lewat sikap tengil dan slengean yang dimilikinya.


Leo tersenyum kala mengingat Dewa hampir di hajar seorang pria karena mulutnya yang tak berhenti merayu gadis-gadis yang melintas di depannya tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.


Di tempat ini pula Dewa pernah bercerita, jika dirinya adalah anak yang paling beruntung karena menjadi pemuda terkaya di kotanya tapi menjadi pemuda termiskin karena orang tuanya yang sibuk menumpuk harta tanpa mengindahkan keberadaannya.


Leo melanjutkan perjalanan. melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. menyusuri jalanan penuh kenangan dirinya dan Dewa semasa sekolah.


Leo berhenti di depan sebuah gedung yang menjadi saksi kebersamaan nya dengan pemuda brilian namun sering terkena masalah karena sering membuat ulah.


Dewa dengan prestasi cemerlang sekaligus pembuat onar. sedangkan Leo kutu buku yang selalu terkena imbas karena selalu bersamanya.


Dewa dengan penampilan yang jauh dari kata rapi, kemeja terkancing asal, memperlihatkan kalung rantai yang di pakainya, baju seragam yang di masukkan di bagian ujung saja, menyisakan bagian belakang di luar celana. sangat berantakan.


Dewa yang selalu mencolok karena rambut gondrong di bawah telinga dengan cat warna emas yang menutup sempurna warna asli rambut coklatnya. anting-anting di telinga sebelah kanan, gelang hitam di tangan kiri. tanpa membawa tas sekolah hanya sebuah buku tulis yang di gulung dan di kantongi di kantong belakang celana. meski begitu siapa yang akan menegurnya karena eyangnya adalah orang terpandang di kotanya.


Dengan keahlian berkata manis dan rayuan gombalnya, Dewa termasuk most wanted nomor satu di sekolahnya. kendati dirinya bukan ketos yang menjadi pujaan.


Lama Leo memperhatikan bangunan di depannya sudah banyak berubah sejak terakhir mereka berada di tempat ini. Tatapannya jatuh pada pagar besi yang berada di samping bangunan. pagar yang sering menjadi korban tangan jahil Dewa, membuka paksa gembok agar dapat kabur tanpa di ketahui oleh satpam sekolah.


Dewa dengan setumpuk prestasi dan segudang masalah. dan Leo selalu terlibat di dalamnya.


Kini masa itu hanya menjadi kenangan yang tak perlu di ingat.


Takdir seolah mempermainkannya. mempertemukan kembali dirinya dengan sahabatnya. haruskah Leo meminta maaf atas kesalahan sepele yang berimbas besar di dalam hidupnya.

__ADS_1


Kepalanya mendadak berdenyut memikirkan bagaimana nantinya hubungan persaudaraan antara dirinya dan Dewa.


__ADS_2