
Happy Reading...
Gemerlap lampu yang menyilaukan mata, dan hingar bingar dentuman musik dari lincahnya jari-jari DJ yang memekakkan telinga menyambut kedatangan Dewa yang entah sudah berapa lama tak ia kunjungi.
"Hey bro, apa kabar?" tanya si Zack yang biasa di panggil Jeki.
"Ck, baru inget lu sama kita." Dewa yang saat itu masih dengan setelan kerjanya karena memang belum pulang ke apartement dan langsung menggabungkan diri dengan dua orang temannya yang sudah berada di tempat itu.
"Perasaan lu tadi udah kabur pas makan siang deh, kok pakaian lu masih sama? dari mana lu? curiga gue," Alex yang merupakan kawan merangkap jadi asisten melontarkan pertanyaan.
"Habis nemenin calon bini shoping." Pria dengan setelan jas hitam dan kemeja putih gading itu dan dasi warna senada itu menjawab.
Kedua temannya yang berada di sana pun tampak saling pandang dan memandang heran pada Dewa yang tengah meneguk wine yang baru saja di sajikan oleh seorang bartender.
"Lu nemenin si bocil belanja? baru tau gue seorang Dewa mau nemenin cewek belanja, lu gak salah makan obat kan?" tanya si Zack. namun Dewa tak menjawab.
"Tadi gue ketemu Lilian, gue ajakin si bocil." Dewa menggerakkan ujung jarinya di bibir gelas wine yang baru saja ia minum.
"Terus?" Alex dan Zack kompak bertanya. karena penasaran dengan cerita Dewa.
"Leo ngajakin ketemu." Ucap pria berdada lebar tersebut.
"Jangan bilang Lilian bertemu sama Leo." Alex antusias bertanya.
"Untungnya waktu Leo ngajakin gue ketemu, Lilian udah pergi." Pria dengan rahang tegas berwajah kebulean yang memiliki garis keturunan Belanda itu menjawab.
"Ke markas sekarang yok, katanya ada anak baru." ajak Alex tiba-tiba setelah ia menghabiskan sisa Vodka di botolnya.
"Bagus gak?" tanya Dewa. melirik sebentar ke arah Alex sebelum ia mengambil gawainya yang sedang berteriak di dalam saku celananya.
"Katanya sih keren, tapi bagus pa enggaknya gue belum tau. soalnya dia baru maen dua kali di sana." Jelas Alex yang di dengarkan dewa dengan setengah hati karena jati-jarinya saat itu sedang asik menjelajah keyboard pada benda pipih di tangannya.
__ADS_1
"Oke, gue ke atas dulu." Dewa meninggalkan dua teman yang satu servernya itu untuk naik ke sebuah kamar pribadinya di club tersebut untuk mengganti setelan kerjanya.
Dan beberapa menit kemudian Dewa sudah kembali dengan memakai kaos warna hitam yang melekat di tubuh tegapnya dan celana jeans warna hitam dan jaket bahan Denim warna hitam. Dan mereka bertiga kini telah berada di dalam satu mobil yang akan membawa mereka ke markas besar ang mereka maksud.
***
Leo duduk bersandar pada kepala ranjang setelah ia membersihkan diri. karena seperti biasa ia akan pulang hampir larut malam dan akan langsung tidur.
Di tangannya ia menggenggam sebuah benda berbentuk persegi panjang yang membuat hatinya risau dan jantung nya berdetak cepat.
Beberapa jam yang lalu, saat Dewa dan Cintya meninggalkannya di cafe sendirian, tempat dimana dirinya bertemu dengan Dewa dan Cintya, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang di rasa janggal. dan di lihatnya sebuah name tag yang berada di bawah sepatunya.
Benda berbentuk persegi panjang yang merupakan name tag dari sebuah nama yang membuat hatinya bergejolak.
"Lilian, benarkah ini kau?" Leo menggenggam erat benda berbentuk kotak persegi panjang itu dalam tangan besarnya sambil memejamkan mata untuk menghilangkan kepedihan.
"Apakah ini kebetulan ataukah memang aku harus menemukanmu saat ini?" Pria jangkung dengan tinggi 180cm itu bergumam sendiri namun terdengar sangat putus asa.
Terdengar suara seperti benda besar yang terjatuh saat Leo masih tenggelam dalam lamunannya.
"Kebiasaan!" ucapnya setengah emosi.
Namun Leo tak berusaha mengejar seseorang yang sepertinya dengan sengaja melompat itu. ia lebih memilih untuk memecahkan petunjuk bahkan mungkin teka-teki yang saat ini sedang di pikirannya.
Di tempat lain yang sepertinya di sebut sebagai Markas oleh Dewa dan teman-temannya, tampaklah di sana seperti dalam sebuah pertunjukan Akbar. yang mana mereka berkumpul membentuk lingkaran dan semua mata tertuju pada satu titik di tengah.
Di tempat yang agak jauh dari kerumunan itu, di dalam sebuah mobil sport warna hitam, Dewa dan kawan-kawannya sedang duduk sambil menikmati minuman soda dalam kaleng seperti tengah menunggu seseorang.
Dan dari kejauhan tampaklah sebuah motor sport berwarna hitam dan di kendarai oleh seseorang yang memakai pakaian serba hitam melaju dengan cepat.
The King!... The King!... The King!...
__ADS_1
Sorak Sorai dari mereka yang sedang menunggunya menggelegar mengusik kesunyian malam yang kala itu sedang benderang dengan sinar rembulan yang membulat sempurna dengan binarnya yang indah.
"Sepertinya yang sedang di tunggu sudah datang." Ucap pria bermata sipit dan berkulit putih yang tak lain adalah Zack.
"Sepertinya dia lumayan, pantas jika dia di juluki The King." Alex menimpali.
"Jika performanya Lumayan, gue berani bertaruh lima kali lipat dari biasanya." si bos menatap tajam penuh makna pria yang di gaungkan dengan julukan the king beberapa saat lalu.
"Jika si bos sudah memberikan titah, maka gue sebagai babu kerennya mah bisa apa?" Zack terkekeh mendengar gurauan sahabat satu levelnya itu.
Dewa hanya tersenyum menanggapi gurauan teman-temannya.
"Lu hubungi max, jika malam ini dia benar-benar bisa menjadi the King, gue minat sama dia." Titah Dewa pada Alex.
"Siap bos!"
Dan terdengar suara Sorak Sorai semakin menggelegar saat dua motor sport sedang berjejer dan bersiap untuk saling beradu kecepatan.
Beberapa menit kemudian, kedua motor sport tersebut telah kembali ke tempat semula di mana mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat start.
"Dia harus bisa kalahin The King sebenarnya."
"Lex, lu atur semua." titahnya.
"Seriusan bos?" tanya Alex.
"Kapan gue becanda masalah ginian?" Dewa berdecak kesal.
"Itu nilainya gede bos, yakin gak bakal nyesel?" Alex tak begitu saja mensetujui pertaruhan itu.
"Kalau lu gak yakin, tambahin dua kali lipat!" Dewa tersenyum pongah.
__ADS_1
"Apa???"