Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Tak akan pernah terlupakan.


__ADS_3

Happy Reading...


Leo memandang Lilian dengan tanpa mengatakan apapun hingga musik berhenti dan memaksa mereka untuk saling melepaskan tautan tangan mereka.


Lilian berjalan cepat menuju meja yang di tempati oleh Dewa dan seorang wanita yang begitu menawan. meninggalkan Leo yang memandang datar tanpa ekspresi.


"Bisa kita pergi dari sini." pintanya pada Dewa.


"Tapi,"


"Dewa, please!" mohonnya lagi.


"Oke,"


Dewa dan Lilian pergi meninggalkan pesta begitu saja tanpa berpamitan pada empunya pesta.


Dengan mempercepat langkah, Lilian keluar dari ballroom hotel. jantungnya berdegup sampai membuatnya hampir pingsan. keringat dingin mengembun di pelipis dan dahinya. bibirnya pucat wajahnya pias dan tubuhnya sedikit bergetar.


"Lilian!" Panggil Dewa. namun gadis itu tak menghiraukannya dan semakin mempercepat langkahnya. heels sepuluh Senti nya tak mampu membuatnya memperlambat langkah.


Meski hampir terjatuh, dokter muda itu tak mengindahkan kondisi kakinya yang sedikit nyeri. yang terpenting saat ini adalah dia pergi dari tempat itu.


Lebih tepatnya melarikan diri.


"Lilian, kau kenapa?" Dewa menatap bingung.


"Apa kau sengaja mempermainkanku?" Cerca Lilian membalikkan badan menghadap ke arah Dewa. matanya nyalang menatap Dewa dengan gurat yang kecewa.


"Apa maksudmu?" Dewa mengernyit.


"Jangan bilang kau tidak tahu jika Leo berada di sana?" Lilian menatap curiga.


"Tidak,,, iya,,, maksud gue sebenarnya gue tidak tahu. tapi gue gak akan heran jika dia berada di sana." jelas Dewa sedikit gugup.


"Maksudmu?"


"Dia pengusaha, sudah tentu dia berteman dengan pengusaha juga."


"Jangan bilang kalau kamu juga sudah melihat dia di lantai dansa." bibir Lilian bergetar menahan air mata agar tidak sampai luruh.


"Lilian, gue..."


"Sudahlah Dewa, tak perlu menjelaskan apapun. lagi pula ia berhak berada di manapun." Lilian menghela nafas menetralisir detak jantungnya yang tak terkendali. gadis itu menyeka air matanya dengan kasar.


"Kita pergi," Lilian masuk ke dalam mobil.


"Kau yakin?"


"Tentu saja Dewa, apa kau pikir aku masih betah berada di sana dengan keberadaannya?" Ujar Lilian cepat.


"Mungkin kalian harus bicara."


"Stop Dewa jangan mulai membuatku kesal."


"Ya... ya ..ya.. sorry. sebagai calon adek yang ipar yang baik gue hanya berusaha untuk membantu meringankan beban calon kakak ipar gue." Dewa mengikuti lilian masuk ke dalam mobilnya.


"Beban apa maksud kamu?"


"Beban cinta." ucap Dewa dengan tampang menyebalkan.

__ADS_1


"Idiih, sok sok an ngomong cinta, sendirinya puyeng masalah cinta." Raut sedih itu raib entah kemana berganti tawa ledekan yang tak kalah menyebalkan.


"Ya udah pulang, makin puyeng gue ngadepin kalian."


"Yang nyuruh kamu ngurusi aku siapa? aku tanya, siapa?"


"Sebagai sahabat yang baik gue merasa wajib buat ngurusi masalah kalian."


"Gak perlu, udah basi. tak akan ada lagi kisah di antara kami."


"Yakin udah siap mup on?"


"Belum," Lilian nyengir.


"Elah, omdo,"


"Omdo apaan Wa?"


"Omong doang!"


"Heh, bilangnya gak suka tapi alaynya nular." Lilian mencibir.


"Maksud Lo?"


"Ya iyalah, itu omdo, emang pernah kamu ngomong gitu. bahasa alay anak muda. pasti Cintya yang ngajari." tawa Dewa pecah seketika, menyadari apa yang di ucapkan.


"Hebat bener si nona kecil itu bisa buat Dewa anteng kayak gini."


"Ya begituah," ucap Dewa sambil menstarter mobilnya. keluar dari basement hotel.


Malam masih terbilang sore saat Dewa dan Lilian meninggalkan pesta dan pulang ke kediaman Herlambang.


Terlalu larut dalam lamunan, Lilian tak menyadari jika mereka berjalan ke arah berlawanan dari hotel yang ia tempati.


"Emang mau kemana? ke rumah si mulut ketus?"


"Ngomong sana sama aspal."


Dewa tertawa, Lilian adalah sahabat satu-satunya yang tak pernah terjalin hubungan singkat dengannya. kedekatan keduanya sudah layaknya saudara. namun sayangnya kedekatan mereka di artikan lain oleh Leo, pria yang sangat di sukai oleh Lilian


"Assalamualaikum eyang," Lilian mencium tangan tua kakek Herlambang dengan takzim.


"Lilian, kapan kamu datang?" tanya kakek, pria tua itu menggeser duduknya agar Lilian dapat duduk di sampingnya.


"Dua hari yang lalu."


"Dan baru mengunjungi eyang sekarang, kau kejam sekali pada pria tua ini." ucap pria dengan rambut memutih itu dengan nada merajuk.


"Itu karena cucu eyang itu tak mau menjemput Lilian, dia sibuk pacaran sama calon istrinya itu."


Dewa memekik, Lilian berhasil menciptakan kebohongan.


"Iya, dia terlalu sibuk di luaran sehingga tak menganggap pria tua ini ada." ucapnya dengan nada memelas.


"Ah, kasihan sekali eyang, andai saja Lilian dinas di sini, pasti Lilian yang bakal temenin kakek." ujar Lilian penuh drama.


"Tapi kan Yang, sebentar lagi cucu eyang yang ganteng itu bakal bawa menantu yang cantik buat eyang, jadi eyang gak akan kesepian lagi." melirik sebentar ke arah yang dimaksud, sedangkan obyek yang di bicarakan hanya menoleh dengan wajah bingung menatap bego.


"Benar sekali, eyang gak sabar mereka pulang kesini, kasih cicit yang banyak buat eyang" ujar pria itu membuat Lilian tersenyum geli.

__ADS_1


"Tuh Dewa dengerin tuh, eyang pengen cicit yang banyak katanya."


"Beres kalau urusan itu mah, Dewa jagonya" Dewa menepuk dua kali dadanya dengan pongahnya. lalu bangkit dari duduknya meninggalkan Lilian dan eyang yang masih berbincang.


"Lian, tidur bareng gue ya." Dewa berhenti di tengah tangga.


"Kagak maen gue sama bangkotan," seloroh Lilian tak ingin kalah.


Tawa Dewa menggelegar, meninggalkan gema di ruang tamu yang hanya ada mereka bertiga.


***


"Kamu lihat apaan sih," Lilian mendekati Dewa dan berdiri di samping pria yang sedang menatap langit malam bertabur bintang.


Dokter itu tampak ayu dengan wajah polosnya. tubuh rampingnya yang terbungkus celana joger dan kaos oblong milik Dewa yang tampak sangat kebesaran. rambut yang tergerai indah membuatnya tampak lebih imut dari usia yang sebenarnya.


"Lo tau, apapun yang terjadi di hidup gue, selalu bertepatan dengan suasana malam yang seperti ini."


Lilian mengikuti arah pandangan Dewa sambil tersenyum.


"Itu artinya alam menyaksikan apapun yang terjadi dengan hidup kamu."


"Ya Lo mungkin benar."


"Dimulai dari saat papa dan mama memutuskan tinggal di Eropa, malam itu gue sendirian. benar-benar sendirian. eyang masih sibuk dengan urusan bisnis nya."


"Lalu Lo datang dan temenin gue. kita bahkan tidur di ranjang itu berdua dengan menatap langit."


"Lalu kejadian itu," Dewa terkekeh.


"Saat Leo gebukin kamu." Lilian juga ikut tertawa tapi terasa sangat perih di hati hatinya. pasalnya itulah saat terakhir dirinya melihat Leo.


"Kamu bahkan gak mau di rawat di rumah sakit. kamu bilang langit malam akan menyembuhkan luka."


Dewa tersenyum, "Dan itu benar. sakit di tubuh gue gak lebih sakit dari luka hati gue."


"Ya, luka karena ketidak percayaan. dia lupa jika kita harus saling mempercayai." air mata Lilian mengenang.


"Lalu gimana sekarang?" Dewa menatap intens gadis yang ada di sampingnya. memindai wajah ayu yang sedang menyembunyikan luka.


"Jika saja dia nolak aku waktu itu. mungkin aku gak akan sesakit ini. tapi dia nuduh kita menghianatinya. itu lebih menyakitkan. persahabatan kita tak berarti apapun"


"Tapi aku masih kesel sama kamu, kenapa kamu diem aja di hajar sampe kayak gitu."


"Gue kasih kesempatan dia buat mikir. gue memang playboy tapi gue gak makan punya temen, tapi dianya aja yang oon. malah nyia-nyiain kesempatan." Dewa mendengus.


"Dia memang bodoh, gak peka padahal aku udah terang-terangan bilang sayang sama dia setelah dia juga bilang sayang sama aku." Lilian mencebik tak jadi menangis. air matanya terlalu berharga untuk pria apatis seperti Leo.


"Lalu sekarang, masih sayang gak?


"Entahlah. tapi dia sama sekali tak pernah terlupakan."


Dua sahabat yang sama-sama terluka oleh wajah dan nama yang sama, larut dalam harmoni malam bertabur bintang. bulan bergantung dengan binar yang sempurna. indah dan menawan.


Di sudut kamar yang lain, Leo melakukan hal yang sama. berdiri sendiri menatap langit seperti kebiasaannya setiap malam. dua tangan besarnya mencengkeram kuat besi pagar balkon. seolah mengalirkan rasa sesak yang menyentak batinnya.


Mereka bertiga dengan perasaan yang sama dan di tempat berbeda, sama-sama rindu pada persahabatan. larut dalam angan kenangan masa lalu. menengadah menatap langit malam seolah mereka sedang berbincang. mengurai perasaan terdalam dari segumpal rindu yang merantai hati ketiganya.


***

__ADS_1


jejaknya gengs....


Lots of luv Chanda💕💕


__ADS_2