Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Jodoh yang di jodohkan.


__ADS_3

Dan jangan lupakan jika Dewa telah mengabsen nama binatang yang akan ia semburkan pada dua keong racun yang telah menunggunya.


"Mau apa sih kalian pagi-pagi gangguin orang aja." cerca Dewa sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang keluarga.


"Pagi dia bilang Jek," olok Alex di ikuti gelak tawa Zack di belakangnya.


"Gak usah berisik, nyonya lagi tidur. kasihan capek dia." ngomong sambil mendelik.


"Emang berapa ronde?"


Dewa menyeringai, "Pengen tau banget apa pengen tau aja, kepo."


"Gak maksa sih, elu nya cerita gue denger kalo enggak, gak maksa kita, ya gak jek."


Zack mengangguk setuju.


"Mending kalian gak perlu tau, entar kalian pengen nyari yang unyu-unyu, yang segelan emang beda."


"Sialan!" Alex melempar bungkus rokok tepat mengenai kening Dewa.


"On terus gue." imbuh Dewa.


"Udah diem, elo bikin gue kliyengan tau gak bos."


Dewa mengangkat bahu acuh.


"Berarti elo udah gak perjaka dong?" suara Zack yang nyaring berhasil mendatangkan tonyoran di kepalanya.


"Ya udah enggak bego, gimana sih Lo."


"Ya kirain, si sableng kan dari dulu sukanya sama oral, gagal mulu dia kalo ketemu liang."


"****! gak usah bahas itu bego."


"Malu ya bos kalo nyonya tau si sableng ternyata masih perjaka tapi gak Ting-ting."


Wajah Dewa memerah, kedua temannya telah berhasil membuka aibnya sebagai seorang Casanova tanpa penetrasi.


"Sialan kalian." umpat Dewa membuat keduanya tergelak.


"Sebenarnya gue bingung sama elo, kok Lo tahan sih gak sentuh cewek bayaran elo sama sekali."


"Gue gak minat sama siapapun, karena saat gue ingin lakuin itu sama mereka, gue inget gadis putih abu-abu gue."


"Terus selama ini elo ngapain aja sama mereka."


"Gue bayar mereka mahal, jadi mereka harus bisa puasain gue tanpa masuk, jadi mereka yang kerja sendiri, gue tinggal rebah aja." ujar Dewa seringan kapas.


"Busyet Wa, elo kejem banget, secara ***** elo gede tapi sulit buat pelepasan. pastinya nyiksa mereka banget tuh "


Dewa mengedik, "Yang penting gue kasih harga tinggi gak kayak kalian, receh." ujarnya mencibir.


"Zack kali yang receh."

__ADS_1


"Gue kasih receh, nah elu gratis." Zack melempar korek di tangannya.


"Gue gratis karena dia yayang gue, elu gonta ganti Mulu kayak ganti ******."


Dewa menggelengkan kepala, dua temannya ini memang tak pernah jauh dari kata ribut.


Di tengah keduanya yang masih meributkan soal masuk memasukkan, terdengar suara lengkingan wanita dari lantai atas.


"Kakak..."


Sontak keduanya terdiam, "Wa, bini Lo manggil."


"Kalian sih ribut Mulu, udah di bilangin juga nyonya lagi tidur."


"Ya Cinta," Dewa menjawab dengan sedikit berteriak.


Terlihat Cintya yang masih mengenakan kemeja Dewa menengok di undakan tangga pertama dari atas.


Dewa segera berlari menyusul sebelum Cintya turun ke bawah dengan langkah yang sedikit aneh. di ikuti pandangan Alex dan Zack.


"Cinta memang bahaya." Zack mengumpat.


Sontak keduanya tergelak bersama, jika mengingat Dewa yang dulu selalu menolak dengan kata yang di namakan Cinta.


"Kenapa turun?" Dewa menjimpit sedikit rambut Cintya dan menyematkan ke balik telinga.


"Kak Leo sama ibu mau kesini, apa boleh?"


"Sepertinya iya, kita kan belum bikin acara sepasar pernikahan kita?"


"Emang harus ya?"


"Ya enggak juga, anggap aja itu acara tasyakuran dan kumpul keluarga."


"Oke, Whatever you want Queen."


Cintya tersenyum, hatinya berbunga-bunga padahal dirinyalah yang berencana untuk acara ini.


"Apa keluarga kakak juga bisa hadir?"


"Tentu saja mereka harus hadir, mama sama papa sepertinya masih ada di sini sampe bulan depan."


"Termasuk dokter Lilian?"


"Kenapa?"


"Emm, aku kangen sama Delon."


Dewa tersenyum seraya membelai pipi Cintya dengan ibu jarinya


"Kita buat sendiri yang banyak." Celetuk Dewa dengan kerlingan mesumnya.


"Selalu seperti itu, ya udah balik sana, temenin mereka " Usirnya pada Dewa.

__ADS_1


"Mau di anter ke kamar? kok sulit gitu jalannya?"


"Gak perlu yang ada makin susah nanti."


Kata-kata itu terdengar sangat lucu di telinga Dewa membuatnya tergelak renyah.


Dewa turun setelah Cintya hilang di balik pintu kamar tidur mereka.


"Busyet bini Lo Wa, seger bener pantesan aja Lo betah."


"Tapi kok Lo bisa sama dia, gak inget lagi sama gadis Putih abu-abu elo itu?"


"Karena dia memang orangnya." Dewa mengulum senyum.


"Apa?"


Dewa mengangguk mengiyakan.


"Jangan bilang elo udah tau waktu di Bali dulu" Dewa kembali mengangguk.


"Pantesan Lo recokin dia Mulu, ternyata ada misi rahasia." Alex mencebik.


"Terus elo juga udah tau kalo dia yang bakal di jodohin sama elo.'


"Enggak, tapi gue udah curiga soalnya dia sebut nama eyang. tapi kan eyang gak sebutin nama dia waktu itu. lagian calon gue seabrek waktu itu?"


"Tetep aja tuh bocah yang kepilih."


"Jodoh Jek, kita gak bisa pilih."


"Ya.. ya... ya... jodoh yang di jodohkan."


"Udah bahas jodohnya nanti aja, karena ada hal penting yang harus Bos tau." Alex berkata dengan wajah serius.


"Bahan untuk pembangunan hotel kita di sabotase, jadi elo musti berangkat ke Lombok secepatnya."


"Dan sepertinya ada orang dalam yang terlibat. banyak pekerja yang luka dan keluarga mereka mendesak meminta ganti rugi."


"Sialan!" umpat Dewa kesal.


"Jadi puas-puasin sama elo karena keberangkatan elo tinggal dua hari lagi."


Akhir dari kalimat Alex berhasil menghantam kepala sang pengantin baru. seketika itu tangannya meremas dan menjambak rambutnya kasar.


"Lu benar-benar mau bunuh gue!"


Baiklah Dewa mulai gusar jika berpisah dengan Cintya nya.


***


Konflik mulai masuk geess siapkan jantung kalian.


Like coment yang banyak, biar gak males up ya.

__ADS_1


__ADS_2