
Happy reading...
Tubuh tegap yang terbalut jas mahal serta tatanan rambut rapi yang menonjolkan ketampanan wajah khas eropa, Dewa memasuki lobi kantor.
Tak memasuki ruangannya sendiri, ia lebih tertarik untuk masuk ke ruang kerja papanya. Cerita yang ia dengar semalam cukup mengusik nuraninya.
"Pagi." Dewa menyunggingkan senyum paling menyebalkan. Rendra hanya memandang dengan sedikit memiringkan kepala.
"Pa,"
"Kerja Dewa,"
"Dewa sudah kaya, cinta gak akan kekurangan."
"Tanggung jawab ka_"
"Ada si Alex yang handel."
Rendra menghembuskan nafas kasar, berada jauh dari putranya tak serta merta membuatnya lupa dengan kekeras kepalaan putranya.
"Mau apa kamu."
"Mau tau semuanya."
"Tentang?"
"Semuanya."
"Anak kecil mau tau saja." Rendra menyunggingkan sedikit senyum. nyaris tak terlihat. yang Dewa tahu, papanya adalah pria tanpa ekspresi nyaris tanpa perasaan. kini ia tahu alasannya. Semuanya adalah urusan hati.
"Anak kecil yang sudah bisa bikin anak kecil maksud Papa?"
Dewa menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran sang ayah. memindai Pria tua yang tak pernah menemaninya melewati hari dengan seksama. tubuh pria paruh baya yang sama persis seperti dirinya itu, sedang berdiri membelakanginya, menghadap jauh ke lautan kendaraan yang berada jauh di depannya. satu tangannya tersembunyi di balik lipatan dalam kantong celana. menunjukkan betapa pria itu tak pernah kehilangan pesonanya.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu tahu?" menoleh sebentar, lalu pria tua itu membuang pandangannya jauh ke hamparan awan yang berarak.
Dewa tersenyum lebar, seolah mendapatkan tender ratusan milyar, akhirnya hal yang membuatnya tak mampu terpejam semalaman membuahkan hasil.
"Ceritakan semua tentang bu Diana." pintanya antusias.
"Diana mertua kamu?"
"Sekaligus cintanya papa."
Wa, kamu meledek orang tua, gak sopan.
Rendra terkekeh, dan itu cukup membuat Dewa terperangah. selama ini Dewa tak pernah melihat pria yang diam-diam ia idolakan itu tersenyum apalagi tertawa. tapi sekarang hanya karena satu nama 'Diana' pria itu tertawa tanpa di minta. sespesial itukah nama Diana atau kisah mereka yang tak biasa?
Dewa sungguh Kepo.
"Diana, gadis manis dan sederhana. eyang putri bertemu dengannya saat berbelanja di pasar. lalu membawanya pulang untuk menjadi asisten rumah tangga sekaligus melanjutkan kuliah." ujarnya singkat. tentu saja cerita sepotong itu tak membuat Dewa puas.
"Lalu papa jatuh cinta dan di rebut mama, begitu? ayolah pa." seperti anak kecil yang merajuk meminta mainan. begitulah Dewa saat ini. keinginan tahuannya yang besar membuatnya seolah lupa jika dirinya adalah pria dewasa yang hampir menjadi orang tua.
Sebahagia itukah papanya jika mengenai Diana.
"Lalu?"
"Lalu dia ketakutan saat tahu siapa papa sebenarnya. Diana yang lucu dan Diana yang polos namun sangat jutek. dia sering sembunyi di balik sofa atau tirai jika melihat papa pulang. dan seiring berjalannya waktu papa jatuh cinta padanya. dan diam-diam menjalin hubungan dan eyang mengetahuinya. dan eyang merestui kami."
"Lalu mama?"
Rendra terdiam, sama sekali tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Dewa maupun menceritakan kisah mereka.
"Kau sudah tahu jawabannya." jawabnya singkat.
Dewa sudah tak perlu lagi mencari tahu kelanjutan kisah kehidupan asmara papanya. rungunya telah mendengar semuanya. betapa pelik dan rumitnya kehidupan orang tuanya di masa lalu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa aku di jodohkan sama Cinta. dan bagaimana bisa ibu Diana menikah dengan ayah Adit."
Sepertinya kisah perjodohan masa kecilnya lebih menarik untuk di cari tahu.
"Seperti yang kau tahu, Eyang dan kakek Hendra adalah sahabat, dan sepakat menjodohkan anak-anak mereka. tapi takdir yang menggagalkannya."
"Namun Eyang telanjur menyayangi Diana. dan Eyang meminta Adit untuk menikahi Diana. tanpa cinta namun berakhir dengan dua anak yang lahir dari perkawinan mereka." ada senyum penuh kegetiran di wajah Rendra saat Dewa menatap pria itu.
"Tapi kenapa Leo lebih tua dari Dewa, bukankah mama dan papa menikah terlebih dahulu."
"Apa kau masih ingin tahu jawabannya?" Dewa mengangguk. "Papa yang telah terpatahkan sama sekali tak ingin terlibat apapun dengan Graciella. namun keluarga Herlambang harus memiliki penerus. dan lahirlah kamu."
Wajah Dewa sedikit menegang. bagaimana bisa ia di lahirkan hanya untuk di persiapakan sebagai penerus keluarga. bukankah seharusnya ia lahir dari sebuah hubungan Cinta? tak perlu memikirkannya lebih lama karena ia pun sudah menemukan jawabannya.
"Bagaimana papa melakukannya?" sedikit senyum meledek ia tampilkan.
"Bukankah seorang pria tak membutuhkan cinta sebagai alasan. karena dengan nafsu semuanya akan terjadi." Rendra tergelak, Dewa sampai kesal di buatnya. pantas saja anaknya jadi mesum seperti Dewa karena orang tuanya hanya mengandalkan nafsu saat memprosesnya.
"Menyebalkan!" dengus Dewa kesal.
"Lalu kenapa bisa kami di jodohkan?" tanya Dewa masih memaksa.
"Eyang tak begitu saja menjodohkan kalian, jika bukan karena keinginan awal untuk menjodohkan anaknya, cucunya juga bisa." baru kali Dewa mendengar papanya bicara sangat panjang dan riang. dan lagi-lagi ia harus sadar jika menyangkut tentang Diana, papanya akan menjadi orang yang berbeda.
"Ada alasan lain, yaitu kau harus menjaga Cintya, menggantikan tugas Adit. apa yang kau lakukan harus kau pertanggung jawabkan." Rendra berkata dengan serius.
"Ya, papa benar."
"Dewa, akui semuanya pada Cintya. jangan sampai ia tahu dari orang lain." dan tanpa mereka tahu ada orang lain yang juga mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu yang sedikit terbuka.
***
Yoook kemarin yang minta di cerita kan tentang perjodohan Dewa dan cintya. kirim bunga gak ya???
__ADS_1
Dukungannya