
Happy Reading...
Rasa panas di tubuh Dewa bukan yang pertama kali ia rasakan pria itu tersenyum, mentertawakan kebodohannya. bagaimana bisa ia begitu bodoh menerima kebaikan Isabel yang sudah ia ketahui tak akan mungkin tulus.
Satu jam yang lalu, sebelum Dewa naik ke kamarnya, Dewa merasakan haus dan ia langsung menuju dapur. dan di saat yang sama, Isabel juga berada di sana.
"Baru pulang?" sapa Isabel tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Hem." Dewa menjawab dengan deheman.
"Mau air, kebetulan aku sudah mencampurkannya dangan sedikit air es." tawarnya dengan menyodorkan gelas air yang nampak mengembun.
"Terima kasih." Dewa menerima tanpa kecurigaan sedikitpun. dan meneguk air dalam gelas itu hingga tandas.
Dewa pergi setelah ia meletakkan gelas di atas meja pantry. di ikutin senyum penuh kelicikan oleh Isabel.
"Huh, untung saja, hampir saja gue lakuin kesalahan. lsabel bener-bener harus di kasih pelajaran." Dewa mengangkat kepala Cintya yang tertidur berbantalkan lengannya lantas ia menarik lengannya dan menggantinya dengan bantal agar Cintya merasa nyaman.
"Makasih, udah nyelametin kakak. kamu adalah Dewi penolong nya Dewa." Dewa memberikan kecupan sebentar di kering Cintya. lalu turun ke arah lemari pakaian dan mengambil celana piyama. tanpa mengenakan dalaman dan juga baju atasan. asetnya yang masih menegak menyembul di balik celana karet abu-abunya.
Dewa keluar dari kamar, tubuhnya masih merasakan sedikit panas. namun efek obat itu sudah sepenuhnya hilang. Dewa membutuhkan air.
Dalam langkahnya menapaki anak tangga, ia berpikir bagaimana caranya membuat Isabel kapok. tapi jika harus mendatangi kamar saat ini, ia tak akan melakukannya.
Untuk sampai ke dapur ia harus melewati beberapa ruangan termasuk ruang kerjanya dan ruang kerja sang papa yang berbeda. tak ada yang terjadi hingga Dewa sampai di dapur dan meminum air dalam gelasnya dan duduk di meja makan sebentar. hingga ia mengingat ada berkas yang harus ia persiapkan untuk bahan meeting besok.
Lalu Dewa masuk keruang kerjanya sendiri dan mulai menyiapkan berkas-berkasnya. sejenak ia tak mendengar suara apapun hingga suara buku tebal yang terjatuh mengejutkannya.
Dewa mendekati kearah ruang kerja papa yang hanya bersekat satu pintu penghubung dan lemari buku panjang yang mengantikan tembok. ia dapat mendengar percakapan apapun karena sunyinya malam. apalagi itu suara pertengkaran.
Selama ini, ruang kerja Papa Rendra jarang Dewa singgahi karena sejak papa Rendra menetap di eropa ruangan itu telah beralih fungsi sebagai perpustakaan pribadi dan tempat penyimpanan berkas-berkas penting perusahaan. Dewa hanya akan masuk jika ia membutuhkan berkas-berkas penting perusahaan.
"Kenapa Rendra, kenapa kau lakukan ini!?" jerit Graciella murka.
"Bahkan sampai tiga puluh tahun kau masih menyimpan foto Diana." Lirih Graciella dalam kepiluan.
Mendengar nama Diana di sebut, Dewa lebih mendekatkan telinganya.
"Tidakkah cukup dengan aku memberikan Dewa untukmu, kau masih tak mampu melihatku." suara lirih Graciella bergetar. jelas sekali jika wanita itu tengah menangis.
__ADS_1
"Kenapa hanya Diana, yang hanya seorang pembantu." suara Graciella tercekat.
"Cukup Graciella!" sentak Rendra menghentikan ocehan Graciella.
"Setidaknya berikan aku satu alasan yang masuk akal." tak ada lagi suara lirih. kini suara Graciella meninggi.
Dewa semakin di buat penasaran dengan pertengkaran kedua orang tuanya. bahkan ia tak pernah sekalipun melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat.
"Tak ada alasan. kau sangat tahu jawabannya."
"Tentu saja aku tahu jawabannya. kau tergila-gila pada pembantu mu dan ayahmu menyetujuinya karena Diana adalah gadis yang baik dan sialnya gadis kampung itu terlalu baik hingga ia merelakan calon suaminya di ambil di hari pernikahannya." suara Graciella di liputi emosi. namun terdengar penekanan agar suaranya tak meninggi.
" Sudah malam pergilah tidur."
"Setidaknya berterimakasih lah padaku karena aku telah memberikan pewaris tunggal untukmu."
"Ya Baiklah, terima kasih kau telah bersedia mengandung Dewa. memberiku putra hebat seperti Dewa. Dewa putraku, dia kebanggaan Herlambang."
"Putraku, kau menyebutnya putra. kau bahkan meninggalkannya karena kau ingin lari dari bayangan Diana. apa kau pikir dia akan bangga menyebutmu papa jika tahu alasanmu pergi karena ingin lari dari kenyataan."
"Karena kenyataannya aku memang mencintai Diana dari dulu hingga sekarang. bahkan mungkin sampai aku mati. aku akan tetap mencintainya. puas kamu!"
Bagai di sambar petir, Dewa Shock mendengar ungkapan hati papanya. sekarang ia mengerti kenapa kedua orangtuanya tak pernah terlihat mesra atau pun ribut. itu karena hubungan keduanya tak sehat. sekarang ia mengerti di mana posisinya. anak yang terlahir dari cinta sepihak. dan ia pun cukup mengerti kenapa dirinya kekurangan bahkan kehilangan kasih sayang. mereka hanya sedang mencari pelarian. bukan karena mereka tak menyayanginya.
Jadi, siapa yang bersalah dalam hal ini. pantaskah Dewa menyalahkan Diana yang adalah ibu mertuanya. ibu dari wanita yang tak sanggup ia kehilangannya. tapi bukankah memang bukan salah Diana. Graciella lah yang salah, mamanya yang menjadi orang ketiga dan perusak hubungan orang lain.
Mana yang harus Dewa benci sekarang. Dewa tak mampu memilih. di satu disi ada ibu mertuanya yang menjadi penyebab ketidak utuhan rumah tangga kedua orang tuanya. namun di sisi lain ibu kandungnya telah merusak kebahagiaan orang lain.
Keadaan, haruskah Dewa mengalahkan keadaan.
Cinta, atau cinta yang harus di persalahkan karena tak memilih tempat. bukankah cinta atau perasaan tak pernah salah atas sebuah keadaan.
"Ya aku puas, karena cinta kalian tak akan pernah bersama. karena kau juga tak pernah bisa mencintaiku. Diana! Diana! dan Diana! kau hanya mampu melihat Diana. setidaknya lihatlah akau sebagai seorang wanita. apa bedanya aku dengannya!" tak ada lagi suara rendah kini yang terdengar adalah jerit keputus asaan
"Kau yakin ingin tahu perbedaannya?" Rendra berkata dingin. "karena ia merelakan pria yang di cintainya demi untuk sahabatnya. dan Kau, kau rela mengambil seorang pria yang kau cintai dangan menyakiti sahabatmu. kau masih ingin mempertanyakan kelebihannya? ia tulus dan kau hanya terobsesi padaku. keegoisanmu dan keinginan untuk menang memaksamu untuk memilikiku. bukankah aku hanya pajangan, piala yang ingin kau rebut. dan kau sudah berhasil."
"Tidak Rendra, aku mencintaimu. aku sangat mencintaimu. aku hanya ingin bersamamu."
"Tapi Diana juga mencintaiku, kau tahu kami saling mencintai. ibunya telah menitipkannya padaku. dan aku terpaksa meninggalkannya karena ulahmu."
__ADS_1
"Dia bersedia! dan dia rela memberikanmu padaku, apa kau pikir dia benar-benar mencintaimu." sanggah Graciella tak terima. "jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan mempertahankanmu. bahkan pernikahan kalian hanya tinggal selangkah dan dia rela menanggalkan pakaian pengantinnya dan memberikannya padaku. kau jelas tahu artinya bukan." Seolah mencemooh, tapi sebenarnya Graciella di tampar oleh kenyataan. kenyataan bahwa Rendra dan Diana saling mencintai dan hati mereka masih saling berpaut.
"Tentu saja aku mengerti, dan sangat tahu. kau mengancam akan bunuh diri jika kami tetap menikah. dia sangat menghormatimu sebagai nona muda yang masih bersedia menjadi teman seorang pembantu. teman yang merampas kebahagiaannya. jika dia berada di posisimu, apa kau pikir dia akan mengalah? Tidak Graciella. dia hanya tidak berdaya. memilih mengalah."
Luruh sudah pertahanan Dewa. setitik air mata jatuh di sudut matanya. sekarang dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini.
"Ya kau benar, semua yang kau katakan benar. bahkan sampai saat ini Diana masih berhasil mengalahkan ku. putrinya sudah menjerat Dewa sampai bertekuk lutut padanya. Hebat! ibu dan anak sama-sama pandai memainkan perannya."
"Jangan sembarangan bicara, Ini adalah karma. untukmu dan juga untukku."
"Apa kau pikir Cintya masih bersedia berada di samping Dewa jika tahu ibunya menjadi duri dalam pernikahan kita."
"Jangan macam-macam."
"Aku tak akan macam-macam. aku hanya akan memberi tahu tentang masa lalu kalian. mungkin dengan begitu, Dewa akan bersedia menikahi Isabel."
"Kau tak akan melakukannya. karena aku maupun ayah tak akan pernah membiarkanmu bertindak sesukamu. biarkan Dewa dengan kehidupannya. jangan mengusik mereka. biarkan Dewa melanjutkan kisah cinta kami yang telah kau rusak. atau kau akan benar-benar jauh dari putramu."
Dewa mendengar langkah yang semakin menjauh di susul suara pintu yang berdentum.
Terlihat punggung Rendra yang menjauh dari pintu ruang kerja Dewa yang tak tertutup rapat.
Rendra menoleh sebentar saat Dewa mengulas senyum dan mengacungkan jempol. ia bangga melihat cinta yang begitu besar di miliki papanya, meski cinta itu bukan untuk ibu kandungnya.
Seperti dirinya yang begitu mencintai istrinya. Dewa hanya lebih beruntung karena berhasil menyatukan cinta mereka.
Meski ia harus merasakan sakit, setidaknya sekarang ia memiliki alasan lain untuk menjaga Cintya. menjaga cintanya dan menjaga Cinta papanya.
Setelah menyelesaikan urusannya, Dewa kembali ke kamar. melihat istrinya masih anteng berada di bawah selimut.
"Kita di pertemukan oleh semesta untuk melanjutkan kisah yang terjeda. bukankah itu takdir yang sangat indah." Dewa mengucapkan di depan wajah yang terlelap. lalu terkekeh sendiri karena Cintya tak akan mendengarnya. kelihatannya mimpi lebih menarik daripada ocehan Dewa.
***
Beberapa part lagi akan menuju End, lanjut kisah Leo tetap di sini, jangan Unfav dulu yaa..
tetap berikan dukungan pada cerita ini agar author tak kehilangan semangat untuk menulis cerita Alex.
Sedih, tanda love nya berkurang terus, hiks.. hiks.. hiks..
__ADS_1
Tau kan kenapa sekarang authornya jarang up, karena cinta kalian berkurang, ha..ha..ha..