Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Bukan siraman Rohani.


__ADS_3

...Happy Reading......


Pagi hari, Cintya terbangun dengan tubuh yang sangat lelah, dengan mata yang masih setengah terpejam gadis itu melangkah dengan gontai menuju kamar mandinya.


Pukul tujuh pagi, gadis itu masih dengan balutan bathrobe, sedangkan acara siraman akan di lakukan pukul delapan tepat dan di lanjutkan dengan acara adol dawet yang akan di lakukan oleh ibu dan Leo sebagai wali dari mempelai Putri.


"Kenapa belum siap?" tanya ibu sekonyong-konyong mendapati putrinya meringkuk di atas sofa masih menggunakan bathrobe di tubuhnya.


"Ngantuk." jawab gadis itu memaksa membuka matanya.


Di lihatnya di dalam kamar itu ada empat orang perempuan, tiga orang MUA dan satu orang yang sedang melotot berkacak pinggang, menatap horor.


"Ngantuk? emang semalam kamu kelayapan kemana saja? bukannya diem di rumah pingitan kamu malah kelayapan gak jelas." siraman rohani kembali terjadi pagi itu, seolah semalam belum cukup ibu mengoceh.


"Cintya, kapan kebiasaan ngebo kamu akan hilang, sedangkan hari ini adalah hari terakhir kamu jadi anak ibu, besok kamu sudah di adopsi oleh keluarga lain?"


Cintya bangun dengan malas karena ocehan ibunya yang meruncing menusuk kendang telinganya.


"Cintya gak kemana-mana, cuma bersenang-senang sedikit sama kakak, lagian semalem itu yang pertama buat Cintya, jadi harus berkesan." Cintya nyengir kuda, sengaja membuat ibunya bertambah kesal.


Si ibu lambat mencerna ucapan putrinya yang kelewat ambigu, hingga wanita setengah baya itu masih terdiam terpaku di tempatnya sedangkan Cintya sudah berdiri dengan di kelilingi oleh tiga orang MUA.


"Emang semalem kamu ngapain, bangun pagi kok bilang ngantuk capek, ayo bilang sama ibu kamu ngapain?" wanita itu mencerca anak gadisnya karena memang yang di katakan gadis itu membuat semua orang berfikir ke arah hal-hal yang tak semestinya mereka pikirkan.


"Emang Cintya ngapain? Orang maen di sirkuit pake motornya Kakak yang keren itu. ibu mikir ngeres ya? hayo ketahuan?" Cintya mencerca ibunya balik dengan wajah mencemooh. membuat wanita tua itu ingin meremas mulutnya jika tak ingat sebentar lagi putrinya akan menjadi pengantin.


"Kamu itu memang onar, cocok sama calon laki kamu, yang satu dableg satunya sableng."


Cintya sontak tertawa mendengar umpatan ibunya. rasa kantuk yang beberapa saat lalu masih bergelayut di bulu matanya terbang entah kemana.


Dengan bantuan tiga orang MUA dan di dampingi ibunya, gadis itu berganti pakaian kemben khas Jawa.


Cintya senyum-senyum mengingat apa yang di lakukan semalam bersama Dewa.

__ADS_1


Pengalaman pertama dan juga pelajaran pertama yang di peroleh dari sang maestro.


"Tau sebegitu menyenangkan kenapa gak gue praktekkan dari dulu." Cintya terkikik bermonolog sendiri membuat empat orang yang sedang bersamanya menatap heran.


"Kamu ngomong apaan tadi?" ibu lebih mendekatkan telinganya.


"Ke..po.." jawab Cintya dengan suara lirih dan di samarkan membuat suaranya tak terdengar jelas.


"Kebiasaan kamu ini." Ibu memukul gemes mulut putri satu-satunya.


"Ibu ih, sakit ini mulutnya." Cintya menutup mulutnya agar tak menjadi korban ulah tangan si ibu.


Cintya telah bersiap dengan belitan kain jarik batik dengan warna dasar nude setinggi betisnya dan kemben warna hitam yang senada dengan corak batiknya.


Sebagai sentuhan terakhir, ronce melati yang membalut tubuh bagian atasnya, dari bahu hingga bawah pinggang dan bandana ronce melati sebagi hiasan rambut membuatnya tampak seperti Puteri keraton.


"Bu, di bawah sudah siap kenapa lama sekali?" Leo menyusul karena acara hampir di mulai dan sang aktris tak segera muncul.


"Nooh si biang kerok masih anteng molor," tunjuk ibu pada Cintya, yang di tunjuk hanya menampilkan deretan gigi putihnya.


Leo mengarahkan camera mini handycam nya ke arah gadis yang sedang mencebik karena ucapannya.


"Ngapain sih ini?" tunjuk Cintya pada benda di tangan Leo.


"Laki lu yang minta, di bawah semua udah siap. lu tau kan kalo hari ini live streaming. jadi jaim dikit biar gak ada yang tau kalo kelakuan calon bini Dewa Herlambang udah persis monyet." Ujar Leo sambil terus mengarahkan kameranya gawainya, sedang VC melakukan dengan pasangan sableng. sedangkan camera mini handy nya di pegang oleh salah satu MUA yang berada di sana.


"Monyet cantik." celetuknya tepat di depan kamera gawai Leo, membuat seseorang yang berada di seberang telpon tersenyum lebar dan terpesona.


Prosesi siraman yang di lakukan oleh tujuh orang keluarga dekat di lakukan dengan sangat sakral, di mulai dari keluarga tertua yang melakukan siraman dengan pelan dan penuh penghayatan.


Hingga pada giliran Leo yang melakukan penyiraman terakhir, tak lagi mengikuti aturan dengan mengucurkan air sedikit demi sedikit. melainkan satu gayung batok penuh, membuat Cintya gelagapan karena air yang tumpah di atas kepalanya terlalu banyak dan dingin.


Leo terpingkal melihat wajah Cintya yang cemberut kesal, dan sengaja bikin ulah.

__ADS_1


"Biasanya juga kalo mandi gaya kuda, ngapain sekarang pake gaya putri solo, berasa cantik ya dek?" cibirnya membuat sang gadis tak tahan untuk mencakar wajah tampan sang kakak durjana.


Alhasil, aksi kejar-kejaran pun terjadi di rumah berlantai dua tersebut.


Setelah acara siraman, di lanjutkan dengan prosesi adol dawet yang di lakukan oleh sang ibu dengan berjalan mengelilingi para tamu untuk menjajakan dawet dengan Leo yang memayungi sang ibu dari belakang.


Acara selanjutnya yaitu pemotongan tumpeng dan di lanjutkan dengan prosesi dulangan pungkasan yang di lakukan oleh ibu dengan penuh keharuan.


Setitik air mata luruh di sudut mata Leo, menyaksikan gadis kecil kesayangan di suapi untuk terakhir kalinya sebagai simbol akhir dari tanggung jawab ibu kepada sang anak.


Dan sebagai acara terakhir yaitu prosesi Midodareni yang akan di lakukan pada malam hari.


***


Di kediaman keluarga Herlambang juga tak kalah meriah, prosesi siraman yang di ekspos secara live tersebut berjalan lancar hingga akhir acara.


Dewa dengan balutan kemeja batik yang senada dengan kain yang di pakai oleh Cintya saat ini, tampak bahagia dengan senyuman lebar di sudut bibirnya.


"Akhirnya putra mama yang tampan ini melabuhkan hatinya juga pada seorang gadis."


Seorang wanita cantik dengan tubuh semampai berdiri di samping Dewa.


"Bukankah ini yang mama inginkan dari dulu, melihatku menikah?" Dewa berkata datar. tak menampilkan sedikitpun wajah bahagia ataupun sedih kendati kedatangan kedua orang tuanya di detik-detik terakhir acara siraman.


"Ya kau benar, meski kau tak menikah dengan gadis yang mama pilihkan." ujar wanita itu. tampak sekali wajahnya tak bahagia.


"Sudah lah Graciela, Dewa memiliki pilihan sendiri jangan membicarakan masalah itu lagi." sanggah seorang Pria yang adalah orang tua dari sang calon mempelai.


Dan bersamaan dengan itu, seorang gadis berwajah bule datang menghampiri Dewa. dan tanpa rasa canggung memeluk lengan Dewa dan bergelayut.


Dewa memandang jengah dan melepaskan lengannya dari pelukan gadis itu dengan sedikit kasar. dan segera pergi dari tengah keluarga yang masih berkumpul.


***

__ADS_1


Satu part lagi menuju halal, jangan lagi ada yang bilang muter-muter. pusing Dewa dengernya.


__ADS_2