
Happy Reading....
"Leo, kamu yakin gak mau jadi kekasih aku?" Gadis ber rok span mini berbahan Denim itu bertanya. kedua kaki yang terbalut flat shoes itu bergerak lincah mensejajarkan langkah panjang pemuda berkaca mata minus yang kerap ia recoki.
Dugh!
"Aw" ringis gadis itu. dahinya membentur punggung pria di depannya yang tiba-tiba berhenti.
"Leo! pake riting napa kalo mau berenti." protes gadis itu.
"Berhenti ngikuti aku!" ucapnya sangat datar tanpa Ekspresi tanpa perasaan.
"Biar saja aku kan pake kaki aku sendiri."
."Iya, tapi kamu menganggu "
"Aku kan gak ngapa-ngapain kamu, cuma ikut."
"Tapi aku gak suka, jadi jangan ganggu aku." Pemuda itu melanjutkan langkah tanpa mempedulikan gadis yang sedang tertawa karena telah membuat Leo kesal.
"Hey Leo, percayalah hanya aku yang pantas menjadi kekasihmu. jadi, coba pertimbangkan tawaranku." Leo tetap tak peduli. ia semakin jauh meninggalkan gadis yang masih berdiri di tempatnya.
Leo tersenyum kecut mengingat moment itu, saat di mana gadis yang begitu menyebalkan baginya namun kini menjadi bayangan yang sangat ia rindukan.
Penyesalan telah merajai jiwa kerinduan yang merantai hati hingga cinta yang membeku membuatnya mati dalam keterpurukan.
Leo menegakkan punggungnya, bersiap untuk menghadiri undangan pesta dari salah seorang koleganya. berdiam diri sangat membosankan tapi ia juga merasa kesepian dalam keramaian.
***
Pesta berlangsung dengan sangat meriah. Lilian datang bersama dengan Dewa karena gadis itu yang memintanya.
Dengan balutan gaun malam berwarna hitam dengan potongan yang menutup sempurna bagian dada hingga leher bawah berbahan bludru, membuatnya tampak sangat elegan dan sangat anggun.
Rambut panjang hitamnya yang tersanggul rapi membuat punggung putih mulus itu terekspos bebas. Lilian sangat cantik dan seksi. membuat para pria yang juga tengah hadir di pesta tersebut mengalihkan pandangan ke arahnya saat ia melintas di depan mereka.
Dewa dengan balutan tuxedo berwarna hitam yang sangat pas di tubuh kekarnya, Dewa melingkarkan tangannya dengan sangat possesive ke pinggang kecil Lilian.
Hampir semua orang yang berada ditempat itu mengenal Dewa. meski Dewa bukan tamu khusus di pesta tersebut, namun keberadaannya cukup mampu menyita perhatian para tamu yang hadir.
Para tamu undangan yang lebih banyak dari tenaga kesehatan itu menatap kagum pada Lilian. bukan hanya karena kecantikannya yang selalu tersembunyi di wajah ayu nan sederhana seperti yang selalu ia tampil kan saat berada di tempat kerjanya, namun karena pemuda yang saat ini menggandeng nya dengan sangat posesif itu bukan lah orang sembarangan.
Wajah nya familiar di dalam majalah bisnis dan berita-berita miring seputar dirinya pun sering menjadi perbincangan dikalangan para pebisnis.
Dewa Herlambang, cucu tunggal dari Wisnu Satria Herlambang. pemilik dari kerajaan Real estate. siapa yang tak mengenal mereka. hampir semua orang kalangan atas mengenal keluarga itu.
__ADS_1
Pesta pernikahan yang saat ini mereka hadiri pun di laksanakan di dalam ballroom sebuah hotel mewah yang merupakan anak perusahaan dari Herlambang Corp.
Sebuah pesta pernikahan seorang dokter dengan pengusaha muda tentu sangat mewah.
"Temen Lo yang Cewek apa yang cowok." tanya Dewa saat keduanya telah selesai mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Yang cewek, dia dokter umum." Jawab Lilian.
"Sepertinya Dia orang bisnis." tunjuknya pada mempelai pria.
"Ya benar, mereka di jodohkan."
"Kasus yang sama." seolah mencibir dirinya sendiri yang mengalami nasib dalam sebuah perjodohan.
"Sepertinya hal seperti itu sudah menjadi tren saat ini. di jodohkan dari kecil, tak bisa menolak dan terpaksa menerima karena ancaman." Lilian terkekeh mengingat Dewa yang juga mengalami hal yang sama.
"Apa saat ini lo sedang mentertawakan gue?" Melirik sebentar lalu membuang tatapannya jauh ke depan. memandang orang-orang yang sebagian kecil di kenalnya.
"Aku tidak mentertawakan mu Dewa, aku hanya senang kakek melakukannya untukmu., anggap saja itu adalah sebuah penghargaan atas seluruh dedikasi mu kepada semua koleksi-koleksimu itu." Semakin kesal saja Dewa mendengar penuturan dari temannya itu.
"Apa saat ini lo juga sedang nyumpahin gue?"
"Tidak, itu hanya... em .apa ya." Lilian berlagak seperti berfikir keras.
"Aku tak mengatakan itu Dewa, tapi baiklah kau mungkin benar."
"Itu tak akan terjadi sama gue. gue tak akan selamanya bertahan dengan gadis kecil itu."
"Apa kau yakin seperti itu,, tapi yang aku lihat tidak seperti itu."
"Memang apa yang lo lihat, lo itu terlalu sok tahu."
Lilian mengedikkan bahu tak peduli gerutuan Dewa di sampingnya. entah mengapa Dewa menjadi sangat cerewet sejak bertemu dengan Cintya. apa benar jika cerewet itu menular. ah sudahlah, Lilian tak perlu memikirkannya.
Yang harus Dewa pikirkan saat ini adalah memenuhi persyaratan yang di ajukan oleh Cintya yang sangat sulit dan tak mungkin bagi Dewa.
Dari tempat yang tak begitu jauh dari pandangan namun cukup tersembunyi, sepasang mata tengah mengawasi mereka berdua. dan Dewa menyadari hal itu.
Dan entah apa yang sedang mereka bicarakan sehingga keduanya tampak tertawa berbahagia. dan seseorang yang sedang mengawasi dari tempat gelap itu juga sesekali tersenyum.
Mereka masih betah dalam suasana. pesta. Lilian bergabung bersama teman seprofesinya. sedangkan Dewa juga tengah berada di antara para pebisnis.
Sesekali Dewa melempar pandangan ke arah Lilian yang saat itu sedang tersenyum terkadang tertawa lebar hingga ia harus menutup mulutnya yang sedang tertawa lepas itu dengan punggung tangannya
Saat tiba waktunya untuk berdansa, Dewa membawa Lilian untuk turun ke lantai dansa. gadis itu menolak namun bukan Dewa namanya jika tak bisa memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Dewa, kamu tahu kan aku gak bisa berdansa." Bisik Lilian di telinga Dewa.
"Udah, elo ikutin aja gerakan gue. gini doang masak gak biasa." dengan posisi Dewa memeluk pinggang Lilian membuat tubuh mereka menempel sempurna. sehingga obrolan mereka tak terdengar oleh siapapun.
"Iya, tapi kalau gerakan aku kaku, mereka bakal tau kalo aku gak bisa berdansa." Siapa yang mengira jika mereka sedang bertengkar.
"Berisik! sini tempelin kepala elo ke bahu Gue." ujarnya sambil menarik pinggang kecil Lilian lebih merapat ke tubuhnya.
"Tapi.." ucapan Lilian terhenti saat Dewa sedikit memaksanya dengan mengeratkan tubuhnya
Jika orang lain melihat, mereka pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan yang sedang di landa asmara.
Dewa mulai melakukan gerakan dansa dengan lembut. Lilian hanya mengikutinya meski dengan gerakan yang sedikit kaku.
Baiklah, dokter Lilian memang tak pandai berdansa karena seluruh waktunya hanya di gunakan untuk membaca dan mempelajari tentang teori-teori untuk memecahkan masalah dalam pekerjaannya.
Sesekali gerakan mereka gak sinkron sehingga membuat mereka terkekeh bersama. melihat itu semakin membuat mereka jadi pusat perhatian. Tak akan ada orang yang berdansa dengan tertawa seperti itu. mungkin mereka lah yang pertama.
Lilian sudah mampu mengikuti gerakan Dewa hingga acara dansa tang tadinya dengan musik romantis berubah menjadi wedding dance yang meriah.
Mereka masih tertahan di sana di atas lantai dansa. Sebenarnya Lilian minta Dewa untuk menyudahi acara dansa yang mereka ikuti. tapi Dewa menolak .
"Setelah ini pasti akan ada kejutan." Bisik Dewa di antara gerakan dansanya.
"Apa?"
"Tunggu saja.
Dan tepat seperti perhitungan Dewa, kini dua pasangan dansa sedang berdansa beriringan.
Jantung Lilian berdetak sangat kencang. seperti hendak melompat dari tempatnya saat menyadari siapa yang juga tengah berdansa di sampingnya.
Musik mengalun dengan irama yang indah melenakan para tamu yang sedang berpesta.
Dewa dan Lilian masih tenggelam dengan irama yang membawa mereka pada gerakan seirama berputar dan berganti pasangan hingga kedua tangan itu berpaut.
Dewa tersenyum menyerahkan tangan Lilian ke tangan seorang pria untuk menggantikan dirinya berdansa wanita cantik itu.
Lalu ia melangkah pergi meninggalkan lantai dansa bersama seorang wanita yang menjadi pasangan pria tersebut.
Kedua tangan berpaut mengikuti gerak dan irama dalam keromantisan. kedua mata mereka saling mengunci. dengan bibir yang sama-sama terkatup rapat.
Leo memandang Lilian dengan tanpa mengatakan apapun hingga musik berhenti dan memaksa mereka untuk saling melepaskan tautan tangan mereka.
***
__ADS_1