Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Tidak jahat hanya iseng.


__ADS_3

Happy Reading...


Sepeninggal Dewa, nyonya Direktur itu berdiri dari duduknya. berjalan kesana kemari masih di dalam ruangan.


Otaknya masih kosong, tak satu ide pun yang mampir ke dalam otaknya membuatnya yakin akan rencananya.


Dia ingin sesuatu yang lebih gila dari sekedar cakaran di muka atau raupan bubuk cabe di mulut wanita yang ia sebut sebagai ulat bulu.


Sebenarnya Cintya tidak jahat, hanya saja mengingat penderitaan Lilian yang harus kehilangan kehormatan karena kakak yang sangat di banggakannya itu membuat amarahnya tersulut. apalagi ada Delon yang harus mengakui pria lain sebagai ayahnya membuat hatinya berdenyut nyeri.


"Aku harus menemukannya, pasti menemukannya." Cintya bermonolog sendirian. kakinya masih betah menjelajah ruangan luas itu.


Dengan mulut yang komat-kamit lucu dan sekali-kali mengetuk kening, gadis itu beralih kesana kemari.


Ia tak tahu jika aktifitasnya itu membuat orang lain di sana terkekeh dalam mobil.


Mendapati istri cerewetnya masih anteng dalam ruangannya, Dewa berfikir jika istrinya pasti sangat kebosanan.


Sedangkan Cintya, merasakan otaknya buntu.


"Aarrgh..." Jeritnya frustasi dengan menghentakkan kaki dan beranjak duduk di kursi kebesaran milik suaminya


Aroma khas maskulin dari parfum sang pemilik yang menempel di sandaran kursi menguar begitu gadis itu menyandarkan punggungnya dengan keras.


"Pikirkan sebuah rencana yang bagus Cintya!" perintahnya pada diri sendiri. masih berada dalam posisi yang sama.


Pandangan Cintya tertuju pada sebuah laci di meja kerja suaminya. ia tahu jika suaminya pasti mengawasi lewat CCTV, tapi Cintya tidak peduli itu. hanya laci bukan brankas.


Tangan berjari lentik itu mengacak-acak seluruh isi dalam laci. dan itu kembali membuat orang di seberang sanaa melotot dengan raut masam.


Cintya tersenyum smirk mendapati dua benda dalam laci tersebut. lalu tangan kanannya mengacungkan salah satunya mengarah ke camera. ia tahu jika Dewa tengah mengawasinya saat ini.


"I caught you." dua jarinya ia acungkan jempol arah matanya lalu ke arah kamera.


Dengan riang gadis itu keluar dari kantor. berjalan santai menelusuri koridor yang di tempati oleh beberapa petinggi perusahaan.


Ia masih memilki waktu satu setengah jam lagi sebelum Dewa kembali ke kantor. dan itupun jika Dewa nekat tak menuruti permintaan tak masuk akalnya. yaitu membawa Es Cincau asli bandung.


Masa bodo Dewa membawa yang asli atau tidak, Cintya tidak sedang ngidam atau apapun. ia hanya ingin Dewa sedikit lama berada di luar kantor. yang penting Dewa tidak merecoki rencananya.


"Mbak bisa tolong aku?" ucapnya pada gadis yang mungkin seumuran dengannya.

__ADS_1


"Bisa bu, ada yang bisa saya lakukan?" jawab gadis yang adalah karyawan bagian pantri.


"Saya belum tua, jadi jangan panggil ibu."


"Tapi anda adalah nyonya Direktur. saya takut jika pak Dewa marah karena saya tidak memanggil ibu." jawab gadis itu pelan.


"Pak Dewa itu siapa ya?" Sang nyonya berbicara seolah sedang berpikir.


"Hah!" Karyawan itu melongo takjub. ternyata nona muda yang adalah istri pemilik perusahaan itu memiliki selera humor yang tinggi.


"Kenapa ha! aku/tanya pak Dewa itu siapa?"


"Beliau adalah suami anda dan Direktur di tempat ini." pelayan itu berkata seperti sedang memberi tahu.


"Oh iya, aku lupa. dan orangnya sedang keluar saat ini. jadi aku minta tolong padamu."


Cintya membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. membuatnya tercengang lalu terkekeh.


Entah apa yang di bicarakannya dengan berbisik seperti itu. mungkin sang nyonya Direktur takut jika Dewa lovers dan para Readers mendengar ucapannya. bahkan authorpun tak tahu. suerrr...


"Ingat jangan ada yang tahu. aku tunggu di lobi." Titahnya sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah.


Selanjutnya Cintya terkikik sendiri. terbayang olehnya pembalasan yang akan di terima si ulat bulu pasti akan memberikan efek jera. bahkan mungkin trauma.


Lalu dengan langkah ringan kakinya berjalan menuju lantai dasar. tempat di mana para staf dengan posisi terendah biasa berkumpul.


Sambil menunggu pesanannya datang, wanita berdress brokat itu warna mocca itu mengedarkan pandangan. mencari mangsa baru untuk membantunya dalam misi membuat onar.


Lalu pandangannya terantuk pada seorang yang pernah ia lihat sebelumnya. kembali senyuman jahat itu terlukis di wajah cantik sang nyonya.


Kakinya hendak melangkah sebelum nelayan yang ia perintah membawakan pesanannya.


"Tolong temani aku kesana?" pintanya. meski bingung pelayan tersebut tak kuasa untuk menolak.


"Tunggu di sini, aku ingin bicara dengan karyawan itu. tolong awasi aku." titahnya yang di angguki oleh gadis berseragam OB itu.


Kakinya mendekat ragu-ragu. takut jika apa yang akan di lekukannya mengundang kecurigaan orang lain.


Ia semakin dekat bahkan melongo takjub saat mengetahui kegiatan yang di lakukan oleh orang itu.


Bukan hal menakutkan yang ia dapati. namun sebuah ide yang tak begitu keren namun pasti sangat menggemparkan jika sampai itu berhasil.

__ADS_1


"I.. ibu." ucapnya tergagap. dengan wajah takutnya ia memungut selembar kertas yang terjatuh dari tangannya.


Cintya merampas itu dengan gerakan cepat dan sedikit kasar. membuat seseorang di depan dan belakang nya meringis.


Menengok sebentar lalu mengembalikannya di sertai senyum penuh arti.


"Tolong jangan pecat saya." ujarnya takut-takut.


Cintya memindai tubuh seorang pria di hadapannya. tidak begitu buruk. dengan wajah yang lumayan tampan di balik penampilan sederhananya. dengan tinggi yang tak berbeda jauh dengan Dewa dan postur yang lumayan meski tak sekekar Dewa.


"Kau akan mendapatkannya."


"Apa?" ucapnya terperangah.


Cintya merasa harus menjelaskannya. jika tidak semua rencana yang telah di rancangnya dengan susah payah dan tertawa geli hanya dengan membayangkannya saja pasti akan gagal total. tentu saja ia tidak ingin itu terjadi.


"Biar aku jelaskan."


Cintya berbicara panjang lebar menjelaskan rencananya. dengan sesekali menoleh kebelakang, takut Dewa telah kembali dan mengacau.


Pria itu tampak mengangguk-angguk mengerti dengan senyum yang memuakkan menurut Cintya. tapi apa boleh buat. dia membutuhkan orang ini.


"Kau akan merubah penampilanmu. jangan khawatir. aku akan menyiapkannya. dan aku akan menghubungimu saat semuanya sudah siap. dan pastikan dirimu tidak mengacaukan semuanya. atau suamiku akan tahu semua perbuatan mu di perusahaannya."


Glek!


Penjelasan sekaligus ancaman dari ibu Direktur membuat pria itu mendelik karena kesusahan menelan Saliva nya sendiri.


"Kau pasti akan menyukainya. percayalah."


***


Ingat cinta..


gak boleh membuat masalah...


gak boleh menyusahkan...


gak boleh merugikan...


gak boleh membahayakan..

__ADS_1


dan gak boleh bla... bla...bla..


Dewa ribet!!!


__ADS_2