
jangan lupa jempolnya di part sebelumnya,,, seringnya lupa kalau ada kreji up. bikin emak pengen nangis aja. udah capek ketik-ketik malah gak di jempolin. berasa kayak di tinggal pas ngarep-ngarepnya.
Happy Reading....
"Sayang, kata dokter kamu harus SC."
"Apa? operasi?" Dewa mengangguk ragu.
"No way!" Cintya menolak keras. jangankan pisau operasi, bahkan jarum suntik saja ia tak mau melihatnya. apalagi harus mengalami yang namanya operasi Cesar. Tidaaaak!
"Cintya sayang, gak boleh gitu. kamu mau kan Twins cepet-cepet sama kita?"
"Tapi Tya takut, gak mau di iris."
"Tapi kan kita maunya Twins cepet-cepet sama kita. iya kan? Sssh.."
"Kakak sakit lagi? eghh.."
Setelah Dewa merasakan sakit yang luar biasa, di saat itu pula ada dorongan dalam rahim Cintya. layaknya orang yang akan melahirkan merasa kan dorongan setelah merasakan kesakitan. namun Cintya tak pernah mengetahui itu karena ini adalah pengalaman pertamanya. dan jika ingin menceritakan apa yang di alami, Cintya sendiri bingung harus mulai dari mana.
"Kakak keluar sebentar ya, mau ngomong sama ibu." Pamit Dewa pada Cintya
"Jangan lama ya kak, Tya takut."
"Iya sayang, cuma sebentar." setelah mencium pelipis Cintya Dewa keluar dengan menahan ringisan di ujung bibirnya. bahkan untuk jalan saja Dewa sedikit membungkuk.
Di luar kamar Ibu, Leo dan Lilian menanti dengan cemas karena tak dapat mendengar apapun. bahkan Dewa pun tak juga muncul. menimbulkan praduga-praduga menakutkan di hati ketiganya.
"Bagaimana keadaannya Dewa?" ibu bertanya.
"Adek harus di operasi bu!"
"Apa? kenapa? Cintya gak apa-apa kan?" ibu bertanya dengan wajah yang begitu memilukan. di saat seperti inilah ketakutan seorang ibu tidak mungkin di buat-buat. melihat anaknya berjuang di ujung maut, berebut nyawa dengan malaikat pencabut nyawa. mempertaruhkan hidup dan mati untuk mengantarkan satu kehidupan lagi.
"Saya gak ngerti bu, adek gak merasakan sakit jadi harus di operasi." yang dokter katakan itulah yang Dewa ceritakan. tak tahu lagi harus menceritakan apapun. Dewa jelas awam dalam hal ini.
"Terus itu kenapa lo kayak kesakitan gitu?" tanya Leo.
"Udah dari tadi kan?" jawab Dewa lemah.
"Kamu sakit beneran?" tanya Lilian. "kemarin kamu juga ngidam kan?"
"Emang ada hubungannya?"
"Tunggu deh," tanpa menjawab pertanyaan Dewa, Lilian masuk begitu saja ke dalam ruang bersalin dan langsung berbicara pada dokter.
Sepeninggal Lilian, Dewa duduk di kursi tunggu dengan sedikit meringkuk. "bang tolong hubungi Alex, suruh kesini." Dewa memberikan gawainya pada Leo, dan langsung melakukan permintaan Dewa.
"Dewa kamu mirip sama ayah adit waktu ibu melahirkan Cintya?" ujar ibu seketika membuat Dewa mendongak dan Leo menoleh ke arah sumber suara.
"Beneran?" tanya Leo dan Dewa bersama.
"Iya, sakit mu akan hilang sete_"
"Dewa, kamu masuk cepetan, Cintya nungguin." Lilian menarik tubuh Dewa yang masih meringkuk. "cepetan, ih lelet amat."
Sungguh Dewa ingin sekali membungkam mulut dokter anak itu. tak ingatkah dia jika Dewa adalah satu-satunya manusia yang paling repot di dunia saat ia melahirkan Delon.
Leo dan ibu bahkan sampai melongo melihat aksi Lilian. dan semuanya semakin takjub saat Lilian mendorong tubuh tegap Dewa hingga terhuyung.
"Cepetan, anak kamu mau keluar!"
__ADS_1
"Apa?"
Dewa tak bertanya lagi, seolah jantungnya di cabut dari tempatnya Dewa merasakan seperti ada yang jatuh dalam perutnya. tentu saja itu karena ia terlalu terkejut.
Dewa berlarian sambil memakai pakaian berwarna nila untuk menjenguk orang sakit dengan di bantu oleh suster.
"Cinta," Dewa memandang Cintya nanar. rasa sakit menjalari hatinya. ia sungguh tidak tega dengan ketidak berdayaan gadis kecilnya.
"Kakak, temani Tya." Cinta meraih tangan Dewa, "Tya takut."
"Iya sayang, kakak temani di sini." Dewa menangkap tangan kecil Cintya yang menggenggamnya. "Om temani di sini, jangan takut." Dewa memberikan ciuman-ciuman lembut di seluruh wajah Cintya yang sudah banjir keringat.
"Sakit?" Cintya menggeleng.
"Dokter." Dewa meminta penjelasan pada dokter yang sedang bersiap-siap di samping dan bawah Cintya.
"Tidak apa-apa." dokter puspita menenangkan dengan seulas senyum. penjelasan Lilian menimbulkan kekaguman luar biasa di hati dokter, bidan dan para suster yang mendengarnya. "kan rasa sakitnya di wakilkan sama bapak." dokter Puspita terkekeh.
"Satu bukaan lagi, ayo siap-siap." Dokter Puspita memberi tahu.
"Apa bapak merasakan sesuatu?" tanya dokter pada Dewa.
"Ya dokter, sakit yang luar biasa." jawab Dewa jujur.
"Baiklah kalau begitu, kita harus bekerja sama. Bapak sama ibu harus kompak ya, kan dulu bikinnya juga kompak." Dokter cantik itu mencoba melucu untuk mengurai ketegangan. membuat wajah Dewa dan Cintya merona malu.
"Sudah siap bapak, ibu?"
"Siap dokter,"
"Bapak, kalau nanti bapak merasakan sakit, bapak bisa menggenggam tangan ibu lebih erat untuk memberikan isyarat, dan saya akan membimbing ibu untuk meneran, oke?"
"Oke dokter."
"Kak, apa Tya masih cantik?" Dewa mengernyit. "nanti kalau adeknya laki-laki biar langsung terpesona karena maminya cantik. dan kalau nanti adeknya perempuan, biar dia bangga karena maminya juga cantik." cicit Cintya tanpa tahu jika perut Dewa saat itu sedang sangat tidak karuan. andaikan bisa, betapa inginnya dia menggantikan Cintya biar tidak perlu ada drama lagi.
"Cantik kok sayang, kamu yang paling cantik. nyonya Dewa Herlambang paling cantik, kamu tenang saja. setelah ini kakak buatin kamu pabrik kosmetik biar makin cantik. oke!" pernyataan Dewa yang kesal namun terbalut senyum itu menciptakan gelak tawa di bibir kaum hawa yang berada di ruang itu.
"Sama baju dan sepatunya juga,"
"Iy_"
"Perhiasannya juga,"
"Iya sa_"
"Accecoriesnya jangan lupa!"
Oh lihatlah, siapa yang jadi tersiksa sekarang. Cintya patut di acungi jempol setelah ini. menyiksa sang suami dengan rasa sakit yang tak pernah di rasakan oleh kaum adam kebanyakan. tahu begini, Dewa lebih baik menanda tangani surat persetujuan operasi saja tadi. agar tidak perlu terjadi drama yang sangat menyakitkan seperti ini.
"Lengkap amat!" celetuk seorang suster.
"Boleh dong minta diskonan," celetuk dokter puspita di ikuti kekehan yang lain.
"Boleh dokter, tentu saja boleh. ya kan kak?" Dewa mengangguk biar cepat selesai pikirnya.
"Oke sudah sempurna, mari kita sambut malaikat kecilnya ibu bapak." dokter puspita mengarahkan semua tim untuk bersiap -siap.
"Bapak tidak lupa kan yang saya bilang tadi?" Dewa mengangguk. lalu mengambil inisiatif untuk menelusupkan lengannya sebagai bantalan Cintya, seperti yang mereka lakukan setelah bercinta. dan satu tangannya mengenggam telapak tangan Cintya sebagai isyarat apa yang di rasakannya.
"Hitungan ketiga ibu, satu.. dua.. dorong!"
__ADS_1
"Egggh..." Cintya menyerahkan seluruh tenaganya.
"Iya bagus ibu, jangan mengejan sebelum saya menyuruh ya bu."
Cintya mengangguk.
"Ayo lagi ibu," Dokter menginstruksi setelah melihat tangan Dewa mengerat. "hitungan ketiga dorong, Satu... dua.. tiga.."
"Egghh.." Gagal.
Hingga untuk ketiga kalinya Cintya hampir kehabisan tenaga.
Dewa sudah pucat seperti mayat antara rasa sakit dan tidak tega melihat perjuangan Cintya. ia berjanji tak ingin membuat Cintya susah lagi setelah ini.
"Tarik nafas panjang dan dorong tanpa henti ya bu, ayo coba lagi."
Gagal!
Dewa lelah, sangat lelah. lelah hati lelah fisik campur aduk.
"Pintar sekali, sekali lagi ya bu, tarik nafas sangat panjang dan dorong!"
Dewa seakan merasakan kesulitan Cintya hingga tanpa sadar dirinya ikut mengejan dengan sekuat tenaga dan_"
"Oeeek..."
Lengkingan bayi terdengar sampai luar ruang bersalin. membuat semua orang berucap syukur bersama.
Tapi tidak dengan Dewa, pria itu langsung menjatuhkan lututnya di atas lantai kehabisan tenaga.
"Terima kasih sayang," satu ciuman di kening Dewa hadiahkan untuk perjuangan istrinya lalu ia bangkit setelah Dokter memperlihatkan bayi mereka dan menaruh di atas dada Cintya.
"Laki-laki dan sangat tampan, pasti ia akan langsung terpesona pada kecantikan maminya."
Dewa dan Cintya tersenyum penuh haru.
Tanpa kata, Dewa berlari dari ruangan bersalin. ia membungkuk bertumpu pada lututnya dengan meneteskan air mata.
"Kenapa lo?" tanya Leo.
"Kenapa bos?" tanya Alex yang baru datang.
"Kenapa Dewa?" tabokan ibu berhasil mendarat di punggung Dewa.
"Aku tidak tega, adek tampak kesulitan bu," ujarnya polos.
"Dulu bikinnya gimana?"
"Enak!" Dewa nyengir meski ada sisa air mata di sudut matanya.
"Sialan lo!" Leo dan Alex mengumpat dengan kata yang sama.
"Kakak!"
"Masih ada satu lagi Dewa."
"Ya Cinta.."
***
Part selanjutnya lebih sedikit, tapi tetap harus di dukung, oke!!!
__ADS_1
Revisi bertahap.