
Happy Reading...
"Najisss!!!"
"Nujas najis mulu jawabnya dari kemaren, bilang iya Napa neng!"
Cintya tak menanggapi. melirik pun tidak.
Hening beberapa saat. Cintya terlihat sibuk bermain game di ponselnya. sedangkan Dewa tampak sedang berfikir.
Agaknya obrolannya dengan gadis lugu yang tak begitu lugu itu menjadi beban pikir yang sangat berat.
Terbukti dari Dewa yang berkali-kali mencuri pandang ke arah gadis yang masih anteng dengan game balapannya itu.
Untuk kali ini Dewa harus benar-benar berpikir keras. bagaimana tidak, rumus jatuh cinta tak pernah ia pelajari meski ia telah menyelesaikan S2 nya di Oxford university.
Sepertinya ia butuh seseorang untuk menolongnya memecahkan
masalah yang hampir memecahkan kepalanya. tapi sayangnya ia tak memiliki sahabat yang berpengalaman di bidang itu. semua temannya yang satu species itu pasti akan memperkeruh suasana hatinya dengan ledekan-ledekan yang sangat menyebalkan.
Segera ia beranjak dari duduknya, meraih jas yang tersampir di sandaran sofa.
"Balik yuk Cil" Ajak Dewa mengulurkan tangannya ke arah gadis yang masih duduk anteng di tempatnya.
"Kok udah balik sih om? bukannya tadi pagi om bilang kita balik habis makan siang?" Gadis itu masih tak beranjak meski Dewa sudah memegang pergelangan tangannya.
"Ngapain lama-lama di sini, yang ada malah bete kagak bisa ngapa-ngapain. ada juga elu yang gak bisa di apa-spain" Tak urung gadis itu beranjak berdiri mengikuti langkah Dewa di samping nya.
"Terus sekarang kita mau langsung balik kantor nih Om."
"Emang lu masih mau di sini?"
"Enggak juga sih, mau ngapain coba. ya kita kemana dulu gitu?"
"Ke Hotel mau gak?"
__ADS_1
"Gak usah gila."
"Kalau gitu langsung ke KUA gimana?" Ucapan frontal Dewa sungguh membuat Cintya ingin mencakar wajah tampan itu.
"Emang Om udah cinta sama Cintya?" canda Cintya tanpa pikir panjang.
Seerrr...
Mendadak Hati yang tak pernah di gunakan untuk merasakan hal yang semestinya itu mendadak merasa ada sesuatu seperti Sedang mengalir.
Cinta? benarkah Dewa telah tersentuh Cinta? tentu saja tidak. lebih tepatnya belum.
"Ya Cinta dong, kan elo calon makmum gue."
"Cepet banget mas!" Canda gadis itu lagi.
"Kan udah sering gue bilang, lebih cepat lebih baik.'" timpal Dewa sekenanya.
"Semerdeka sampean aja deh!" ucap gadis itu sambil masuk ke dalam mobil yang pintunya telah Dewa bukakan.
"Gue bingung deh cil, kenapa sih elo musti ngasih syarat yang ribet kayak gitu. gue kan gak nyusahin elo. ini mah namanya enaknya di elo. gue dapet susahnya." oceh Dewa kembali mencoba protes.
"Susah apaan, Cintya juga mintanya gak banyak-banyak amat. Cuma cinta Om, kasih sayang." cicit gadis itu.
'Ogah banget Cintya harus terikat sama orang yang cuma butuh buat ngikat harta doang. rugi banget pokoknya " cicit gadis itu semakin panjang.
"Tapi itu kan sesuatu yang gak bisa gue lakuin cil, susah tau!" bentaknya pelan.
"Susah apanya, om tinggal buka hati om, belajar mencintai Cintya."
"Jadi maksud Lo gue harus operasi transplantasi hati gitu?" Pertanyaan bodoh itu kembali keluar dari mulut pria berpendidikan tinggi itu.
Sebenarnya Dewa bukan tak mengerti dengan kemauan gadis manja nan cerewet itu. namun logikanya menolak untuk ia berurusan dengan masalah cinta.
"Oh ya ampun, kenapa Om jadi gak waras gini sih? Om gak lagi sakit kan? jadi kenapa musti transplantasi
__ADS_1
hati?" Cintya tepok jidat tak habis fikir.
"Kan elu tadi yang minta gue buat buka hati gue, gimana sih?"
"Serah om deh, capek aku "
"Yang ada elu yang bikin gue capek buat mikir."
"Ya kalau gitu gak usah di pikir. langsung di praktekin aja "
"Oh ya udah yuk di sini kita praktekin." kembali otak jahil sang Casanova bereaksi.
Dengan gerakan cepat Dewa membuka kembali jas yang sudah di pakainya itu. menggoda gadis yang sekarang lebih galak dari pertama kali bertemu dengannya pasti akan membuat otaknya lebih rilex
"Mau apa!" bentak gadis itu menyilang kan kedua tangannya di bagian depan tubuhnya.
"Ya prakteklah, apa lagi?"
"Stop!!!"
"Oke siap!!" Dewa menghentikan mobilnya bertingkah seolah-olah ia akan melakukan tindakan yang ada dalam pikiran negatif gadis itu.
"Gak lucu deh Om!" bentak Cintya dengan wajah memerah sedikit khawatir kalau-kalau Dewa akan benar-benar melakukan hal tak senonoh terhadapnya.
"Gue gak lagi melawak cil." Tatapan tajam yang sering Cintya lihat beberapa bulan lalu kembali ia lihat hari ini.
"Ampun ibuuu!!!" jurus menagih hutang pun di lancarkan.membuat Dewa menarik kembali tubuhnya.
"Berisik!"
***
Terima kasih buat yang udah mampir.
Like vote banyak-banyak kakak.
__ADS_1