
part 6 B
Di sekolah, Vanesa benar-benar mengalami hal yang mengharuskannya menambah stok kesabaran. bagaimana tidak, di rumah ia sudah mendapatkan kuliah pagi dari sang nenek sedangkan di sekolah ia pasti di sambut oleh kejahilan anak baru yang tiba-tiba saja jadi most wanted di sana. belum lagi berita yang menyatakan bahwa anak baru itu adalah putra orang terkaya di bumi pertiwi dan masuk ke jajaran orang terpandang di dunia. serta pangeran dari pemilik kerajaan bisnis Herlambang Corporation.
Rama satya herlambang putra ketiga dari Dewa Herlambang dan cucu dari raja bisnis properti Wisnu Herlambang dan Aditya Mahendra membuatnya ingin sekali adu kekayaan. karena ia sendiri juga berasal dari keluarga terpandang.
"Oh Ya ampun, aku kesiangan. ini semua gara-gara nenek." gerutunya sambil mempercepat langkah.
Dari gerbang sekolah,Vanesa harus melewati beberapa kelas untuk bisa sampai di kelasnya termasuk laboratorium dan ruang peralatan yang merupakan tempat bersarangnya para penyamun sekolahan. Rama si anak baru juga menjadi salah satunya.
Hari ini dua gadis itu sedikit terlambat. mungkin itu karena drama pagi hari yang mereka ciptakan sendiri Satu-satunya jalan agar bisa cepat sampai ke kelasnya adalah dengan melewati lapangan olah raga dan itu pun jika di sana belum ada yang menempati, tapi jika sudah, tentunya Vanesa harus melewati satu lagi drama pagi yaitu kejahilan para siswa yang sedang bermain basket. semoga hari ini bukan hari yang menyebalkan untuknya.
"Aku lewat sini aja." pamit Naomi karena mereka berbeda kelas. jika ia mengikuti Vanesa maka ia akan lebih lama sampai ke kelasnya. ia tahu pasti Vanesa akan mengajaknya lewat lapangan dan ia tak ingin berurusan dengan siswa yang umumnya nakal-nakal itu.
"Tidak bibi, kau harus bersamaku sampai ke kelas." cegah Vanesa tentu saja ia tak ingin menghadapi anak-anak nakal itu sendirian.
"Apa maksudmu dengan menemanimu dan sekali lagi jangan memanggilku bibi." ketus Naomi sambil ngeloyor pergi meninggalkan Vanesa dengan muka kesalnya.
"Mau nolak gimana kamu tetep bibiku Naomi, adik dari ibuku dan anak dari nenekku." balas Vanesa tak begitu keras.
__ADS_1
"Aku bisa mendengar mu, anak kecil."
"Kau bahkan lebih kecil dariku."
"Tapi tetap saja kau yang lebih kecil, jadi belajarlah menghormati aku keponakanku sayang."
Naomi bergegas menaiki tangga tak ingin berdebat lagi. bertengkar dengan Vanesa sama saja membuang waktu karena tak akan ada habisnya.iasadar jika ia dan Vanesa sama-sama cerewet berbeda dengan Shine yang hanya pasrah dan mengangguk.
Vanesa berjalan menghentakkan kaki menuju lapangan.dalam hati ia benar-benar meminta agar tak sampai bertemu dengan makhluk yang mengaku tampan itu. dan belum sempat ia merapalkan do'a yang ketiga, ia merasa ada yang menjegal kakinya hingga membuatnya jatuh. dan dalam seperkian detik ia sadar jik wajahnya sangat dekat dengan lantai. itu artinya ia bukan hanya terdorong tapi terjerembab.
"Sialan!" umpatnya dalam hati sambil berusaha bangun.
Vanesa sedikit mendongak mempertemukan pandangan mereka, di lihatnya sepasang mata bermanik abu-abu tengah menatapnya dengan seulas senyum.
Vanesa terkesima tapi hanya sebentar karena ia segera tahu siapa yang ada di depannya itu, seorang pemuda dengan rambut coklat sedikit berantakan berjongkok di depannya sambil mengulurkan tangan menawarkan bantuan untuk membantunya berdiri, di pergelangan tangannya terlilit dua buah gelang tali berwarna hitam. terlihat sekali pemuda macam apa yang di depannya itu. tampan dan juga berandal.
"Rama si cecunguk sok tampan."umpat vanesa dalam hati.
"Biar gue bantu." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Meski tak yakin dengan niat baik pria tampan di depannya, tapi Vanesa menerima uluran tangan pemuda bernama Rama tersebut. yang langsung di balas dengan jabat erat oleh pemuda yang Vanesa yakini sebagai berandalan.
Rama terlebih dahulu berdiri masih dengan tangan terulur yang mengait telapak tangan Vanesa dan sedikit menariknya. membuat gadis itu tak begitu kesulitan untuk memposisikan dirinya hingga_.
Bugh!
"Aww!" terdengar pekikan suara Vanesa yang terjatuh.
Vanesa menatap tajam pemuda yang sedang memasang muka menyebalkan, muka jahil penuh kepuasan membuat gadis itu ingin melepaskan sepatunya sendiri lalu melemparkannya tepat ke muka si siswa baru.
"UPS! gue sengaja." ujarnya tanpa dosa.
Vanesa melotot tak percaya. jadi sejak tadi ia sedang di permainkan dan yang lebih gila lagi ia sedang berada di tengah lapangan dengan banyaknya siswa yang mengerumuninya. menjadikannya bahan tontonan, dan setelah ini pasti akan di jadikan dijadikan bahan candaan.
"Ramaaaaa!"
***
yuk mampir di lanjutan kisah Mine di sebelah. karena sableng juga ada di sana
__ADS_1
di sana ada adeknya si kembar loh yg sesableng bapaknya ketemu gadis sejahil emaknya.