Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Perseteruan 2.


__ADS_3

***Jangan biarkan emosi menguasai, karena setitik emosi yang memercik mampu membakar dan menghanguskan.


keep calm epri badeh, kita hajar Dewa rame-rame yoook***...


Happy Reading...


Setelah terdengar suara pintu tertutup, cintya mulai membuka matanya perlahan. dan sunyi nya kamar membuatnya semakin pilu.


Cintya merasa kan sakit yang tak terperi karena sikap Dewa sedangkan Dewa merasakan kesakitan yang sama karena telah berhasil membuat wanita yang di cintai nya menitikkan air mata.


Dewa telah mengambil sumpah bukan hanya di depan manusia tapi juga di hadapan Tuhan. dan di saksikan bukan saja oleh manusia tapi juga di saksikan oleh ribuan malaikat, untuk mencintai dan membahagiakan istrinya. tapi sekarang, ia bukan hanya menyakiti tapi juga berhasil membuat wanita itu menitikkan air matanya.


Tuhan pasti menghukumnya dan Dewa juga berjanji akan menghukumnya sendiri.


Pagi masih seindah biasanya, mentari masih secerah kemarin dan semilir angin masih seperti hari berlalu. tapi tidak dengan hati dua anak manusia. keduanya merasakan kesakitan yang sama karena sebab yang berbeda.


Cintya hampir terlonjak saat ia merasakan belitan sempurna di pinggangnya. Dewa masih seperti biasa, memeluknya dengan sangat posesif. mengikis jarak hingga tak menyisakan ruang udara di antaranya.


Pagi masih buta, Cintya telah kehilangan kantuknya. di edarkannya pandangan, ia telah berada di kamarnya sendiri. mungkin Dewa telah memindahkannya semalam saat ia sedang tertidur atau mungkin ia berjalan sendiri dari kamar Twins. entahlah, Cintya tak mampu mengingat apapun. semua hal yang terjadi kemarin adalah hari terberat dalam hidupnya setelah hari dimana ia tak akan melihat ayahnya kembali.


Beringsut turun dari ranjang, ia kembali masuk ke kamar Twins, ia melihat anak-anaknye masih pulas dalam satu box bayi.


Kembali ia melangkah ke kamarnya, bukan untuk kembali ke atas ranjang dimana ia melihat suaminya itu tertidur dengan bertel*njang dada. tapi untuk berdiri di balkon.


Udara pagi menyambutnya, mengibarkan surai-surai panjangnya yang berkilauan karena paparan sinar rembulan yang enggan menyingkir. dan ia baru menyadari jika kini tubuhnya terbalut sebuah piyama sutra berwarna putih. piyama favorit suaminya yang pria itu bawa dari singapore. mungkin Dewa yang menggantinya.


Cintya ingat saat itu Dewa benar-benar membohonginya. Dewa mengatakan hanya akan ke bandung bersama Alex dan akan pulang terlambat. nyatanya suaminya itu pergi ke pertemuan para pengusaha dan teman-temannya di sana.


"Kenapa bohong? apa kakak malu mengajakku karena aku sudah mirip badut?"


"Bukan begitu sayang, tapi kau akan kelelahan dan kasihan Twins. mereka juga pasti akan lelah."


"Siapa yang menyuruh menurunkan kaki, ayo cepat angkat kaki dan jewer telinga kakak. dan menghafal arah matahari."


"Sayang, ini kekanakan. bahkan tak ada satu guru pun yang berani menghukum kakak seperti ini dulu."


"Itu karena mereka bodoh dan tak berani karena ada nama Herlambang di belakang nama kakak."


"Bukankah sekarang masih sama?"

__ADS_1


"Ya benar, tapi nama Herlambang gak berlaku buat aku. jadi sekarang lakukan hukuman ini, jika tidak kakak boleh tidur di taman selama malam.ini."


Seluas senyum terbit di bibir Cintya. ia ingat pertengkaran manis itu. dan Dewa akan terakhir dengan bersujud di kakinya untuk meminta maaf dan akan meluangkan waktu satu hari kerjanya untuk membuat nya kembali tersenyum.


Namun, mengingat satu minggu belakangan ini hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, senyuman itu sirna begitu saja. apalagi bau parfum asing itu, membuat Cintya merasakan kembali nyeri di hatinya. ia bahkan tak membawa Jas Dewa ke pencucian. ia sengaja menggantungnya dan menunggu Dewa memberikan penjelasan. namun sayangnya Pria itu masih tampak masa bodo.


Mereka bahkan belum sempat berbulan madu, dan sekarang ada masalah seperti ini. Ulang tahun pertama pernikahan mereka seharusnya terselenggara dalam satu minggu ini. bahkan Dewa dama sekali tak pernah membahasnya.


Apakah semua nya kan terakhir seperti ini. pikiran kotor itu selalu saja mampir di otak Cintya.


"Kenapa bangun, hem?" Dewa memeluknya dari belakang. seperti yang selalu ia lakukan.


"Aku gak ngantuk."


"Di sini dingin, ayo kembali ke tempat tidur."


Hatiku panas sialan!


"Aku tidak takut dingin, karena kakak akan selalu menghangatkanku. benar begitu kan?"


Karena aku yang akan membakarmu, duhai suami durjana.


Dewa semakin mengeratkan pelukannya. mengalirkan hawa panas dari dadanya yang tak tertutup oleh sehelai benang pun. menghantarkan kehangatan yang selalu Cintya sukain.


Tentu saja kau boleh menginginkanku, karena aku akan membuatmu selalu bertekuk lutut di hadapanku.


"Bukankah Malaikat akan melaknatku jika aku menolakmu?"


Dewa mengangguk di antara perpotongan leher Cintya. srntuhan yang sama yang selalu membuatnya melayang.


"Lalu bagaimana jika suami yang menyakiti istri."


Itu bukan pertanyaan tapi jebakan bodoh.


"Ia akan kehilangan semuanya."


Dewa tahu ke mana arah pembicaraan Cintya. dan sebagai pria yang berpendidikan dan pernah mengenyam kehidupan pesantren meski akhirnya pergaulannya yang salah menyeretnya ke lubang dosa, Dewa masih mengingat ajaran itu. kebahagiaan istri harus di atas segalanya.


Lakukan dan kau akan lihat bagaimana aku tak akan membuatmu lepas dengan mudah.

__ADS_1


Dewa melakukan dengan sangat lembut, di antara udara pagi yang dan keremangan sang fajar menjadi sanksi.


Cintya merasakan sentuhan yang selalu sama, penuh damba dan penuh cinta. tak ada yang berbeda dari setiap sentuhan pria berstatus suaminya itu lakukan.


Setitik air mata kembali mengalir, Dewa merasakan kepedihan yang sama setiap kali ia melihat Cintya menangis. Cintya kembali mengingat bau parfum dan bentakan Dewa semalam.


"Jangan menangis, maafkan kakak."


Kau yang membuatku menangis Idiot.


"Kenapa?"


"Ada hal yang tak dingin kakak katakan dan tak seharusnya kauntanyakan."


Gampang sekali?


Aku akan mencari tahu sendiri Bego.


"Sampai kapan?"


"Sampai saatnya kakak yang akan mengatakannya sendiri."


Satu minggu! Hanya satu minggu sayang, sebelum kau kehilangan semuanya.


"Kau lupa siapa aku?"


"Istriku, Ratu ku, Cinta ku, Hidup ku, semangat ku, Sumber kebahagiaanku, segalanya bagiku dan Poros Hidupku."


Bagus kalau kaun ingat.


Dewa masih menjawab pertanyaan Cintya sedangkan Cintya dengan umpatan di.ujung tenggorokan nya. hingga akhirnya keduanya telah sampai bersama-sama.


Tak seperti biasanya, Cintya akan tertidur dalam pelukan suaminya. setelah sesi percintaan singkat mereka di pagi buta, ia beringsut ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Dewa meraih Ipad nya untuk mengecek pekerjaannya. sebelum bunyi gawainya merusak kosentrasinya dan keliatannya pembicaraannya dengan orang di seberang telpon mengusik emosinya. terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba tegang dan terlihat Khawatir.


***


Yang manis-manis dulu lah...


Wa, kalo mau selingkuh cari istri nyang bodoh ya nak, biar aman.

__ADS_1


itu pesan emak dan juga pesen para Readers...


Siap-siap aja lu Dewa, di gebukin mak-mak nopeltun.


__ADS_2