Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Pinang ulang.


__ADS_3

Happy Reading...


Kantor masih sepi kala Cintya menginjakkan kakinya di loby kantor. hanya beberapa OB dan security yang tampak sudah berada di sana.


Setelah kejadian semalam yang hampir menguras emosi, gadis itu sama sekali tak dapat lagi beristirahat dengan tenang. ia berfikir mungkin jika ia sudah berada di kantor lebih awal ia akan bisa secepatnya mangkir, alias tidur.


Cintya melangkah dengan gontai menuju ruangannya setelah ia keluar dari lift. segera ia masuk ke ruangannya, secepatnya ia ingin duduk bersandar santai hingga tertidur.


Bagai mendapatkan oase di padang pasir, Cintya begitu gembira setelah matanya tertumbuk pada sofa yang kelihatan sangat menggoda.


Cepat-cepat ia menyimpan tas tangannya di meja kerjanya, sejurus kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya. telah terbayangkan olehnya betapa nikmatnya memejamkan mata selama tiga puluh menit. setelah hampir semalaman ia mendengarkan Leo ngoceh memberikan siraman rohani yang membuat kepalanya hampir pecah.


Ceklek.


Baru beberapa menit Cintya merebah, bahkan ia belum kehilangannya kesadarannya terdengar suara handle pintu terbuka dan menampilkan seorang pemuda berperawakan tinggi dengan penampilan yang sangat segar.


Tubuh tegapnya terbungkus kemeja hitam dan setelah jas putih tulang yang menyempurnakan penampilannya.


Tahu siapa yang datang, Cinty tak bergeming, tetap merebah yang penting saat ini ia ingin tidur. interogasi Leo membuatnya melek sampai hampir pagi.


"Cil, elu kok udah di sini aja?" tanya Dewa pada calon istri yang sebenarnya.


"Udah diem, ini semua gara-gara Om," Jawab Cintya masih dalam posisinya. tidur miring membelakangi Dewa.


"Kok gue, emang gue ngapain elu!" tak mau begitu saja di persalahkan, Dewa pun melayangkan protes.


"Kalo bukan Om yang bikin rusuh, kak Leo gak bakalan interogasi Cintya semalaman."


Gadis itu hampir kehilangan kesadarannya. berucap pelan hampir ngelantur.


"Emang Leo tanya apaan?"


"Kapan kita nikah karena dia juga harusnya kawin." dengan suara sumbang setengah bergumam gadis itu menjawab.


"Apa cil? Lu bilang apa?" Dewa mempertegas pendengarannya.


"Ayo kawin sekarang." gadis itu benar-benar terpejam saat menjawabnya.


"Hayuk ah, mumpung masih pagi, tenaga gue masih full." ujar Dewa yang salah mengartikan ucapan gadis yang telah beranjak ke dunia mimpi.


Dewa heran kenapa gadis yang di ajak bicara itu tak bereaksi, tidak seperti biasanya yang selalu menyalak jika menemukan kata aneh yang melintas di pendengarannya.

__ADS_1


Didekatinya gadis yang menjadi cinta pertamanya itu dan ternyata dia benar-benar tertidur pulas seperti bayi.


Dewa menggeleng sambil terkekeh. "Gini banget nasib gue, punya calon bini doyan banget molor. untung cinta, kalo enggak udah gue perkosa lu dari kemaren."


Dewa beringsut memindahkan tubuh gadis itu ke kamar pribadinya yang terletak di balik tembok di belakang meja kerjanya.


Bersamaan dengan itu asistennya juga masuk ke ruang Dewa, Alex memperhatikan Dewa yang sedang meletakkan Cintya di atas ranjang.


"Kenapa lagi tuh bocah?"


"Ngantuk katanya," Dewa menjawab tanpa menoleh, lamat-lamat ia memandang wajah Cintya dengan sedikit lengkungan di bibirnya.


"Emang dia masih main di sirkuit?"


.


"Enggak," Jawab Dewa singkat.


"Terus?"


"Dia di ceramahin abangnya semalaman."


"Kok bisa, kenapa?"


"Maksud Lo?"


"Gue kesel, gue kerjain tuh adeknya,"


"Jangan bilang Lo udah,"


Dewa mengulum senyum, mengingat kegilaannya selama setengah hari di kamar hotel.


Alex memiringkan kepalanya, melihat teman sekaligus bosnya itu tersenyum tertahan.


"Lu gak pa pa kan Wa?" tanya Alex penuh curiga. bahkan kedua alisnya sampai bertaut.


"Lo pikir gue kenapa?" tanya si bos sambil keluar dari kamarnya dan menuju meja kerjanya.


"Jangan bilang Lo udah...." Alex tak melanjutkan pertanyaannya karena wajah Dewa sudah memberikan jawaban.


"Busyet, gerak cepat lu." Alex memandang takjub.

__ADS_1


Bahkan hanya dengan senyumnya saja seseorang sudah dapat mengartikan segalanya. lihatlah betapa mesum dan profesionalnya seorang Dewa.


"Gimana rasanya?"


"Maksud lo?"


"Maen sama bocah!"


"Lu liat nih jidat gue," Dewa menunjuk ke arah dahinya yang terbentur, ada bekas lukanya yang membiru dan lebam di sekitarnya.


"Astaga, lu menang banyak kayaknya, sampe biru kayak gitu.?" Alex semakin takjub.


"Ini juga," kembali jari panjang itu menunjuk ke arah bibirnya yang memerah, ada luka gigitan yang tampak seperti bekas sariawan. Alex semakin terkesima.


"Wow.. wow... sepertinya elu udah nemu lawan sebanding, salut deh buat elo, ck... ck .. ck..." Alex berdecak.


"Terus gimana sensasinya,?" Alex semakin menggila dalam pertanyaannya.


"Bikin kepala kliyengan." Dewa menekankan kata-katanya. makin membuat Alex pasang muka Wow!


"Kecil-kecil liar juga tuh bocah!"


"Lu gak tau aja tendangannya kayak apa, gue aja sampe gelimpangan," Dewa tertawa.


"What??" Bola mata Alex hampir keluar.


"Terus gimana reaksi akhirnya?"


"Gak usah di tanya, elu sendiri tau tabiatnya kayak apa tuh bocah, jungkir balik gue rayu dia biar gak nangis. tetep aja tuh anak nangis kejer." Dewa tertawa kecil.


"Mulus dong sekarang, si singa betina udah berhasil elo taklukin, otomatis izin udah di kantongi, hebat! cara lu keren?" Alex mengacung dua jempol.


"Jadi kapan nih Lo di pajang?" Tanya Alex antusias.


"Nanti setelah gue pinang ulang?"


"Pinang ulang apaan maksud Lo?"


"Sesuai permintaan Leo, gue udah batalin perjodohan."


"Apa????

__ADS_1


***


Maaf telat, authornya sibuk acara mauludan.


__ADS_2