
Happy Reading...
"Kita makan dulu apa lu mau langsung gue antar pulang?" Tanya Dewa setelah mobilnya keluar dari basement butik dan berbaur dengan kendaraan lain yang mulai merayap.
"Kita pulang aja ya Om, Cintya capek." Keluh gadis berwajah imut namun berkelakuan bar-bar itu.
"Oke" singkat Dewa.
Oke, gue antar elu pulang sampe rumah elu, kalo perlu Sampe di atas ranjang Elu. Gue pengen lihat tuh si muka ketus calon kakak ipar gue.
Dewa tertawa dalam hati membayangkan wajah Leo yang memandang sinis ke arahnya.
"Cil, gue pengen negasin sama elu, meski kita di jodohin tapi kita akan tetap jalani ini sebagai mana mestinya." Ucap Leo tanpa mengalihkan pandangannya.
"Maksudnya gimana Om?" tanya Cintya tak mengerti.
"Seperti yang elu ketahui, gue gak suka komitmen. dan tujuan gue mau nikah, elu juga tahu bukan?"
"Iya tahu, lantas?"
"Gue bakal bikin Pernikahan ini sempurna seperti yang elu mau. gue turuti semua yang elu mau."
"Semuanya?" Cintya berbinar.
"Semuanya!" ucap Dewa pasti. "Gue bikin lu bahagia. apapun itu. gue juga gak bakal nyampuri urusan pribadi elu. begitu juga sebaliknya. lu faham maksud gue?"
"Ya faham, tp sampai kapan?"
"Sampai kapan apa maksud elu?"
"Biasanya pernikahan seperti itu pasti berujung pada satu kontrak hitam di atas putih gitu kan?" Cintya tersenyum miring.
"Kebanyakan baca novel kayaknya nih anak." Dewa berdecak.
"Gue gak akan bikin yang begituan. pernikahan ini akan berlangsung selamanya. setidaknya sampe lu bosen ma gue, terus lu minta cerai sama gue!"
"Hah!"
"Kagak usah kaget begitu! biasa aja. Kalau nanti elu minta cerai sama gue, gue kan bisa bikin eyang gak bisa pecat gue jadi cucunya. dan elu juga udah ngelakuin apa yang kakek elu mau. dan itu artinya tuh kakek dua udah gak bisa maksa kita. elu hepi gue aman. gimana? elu setuju kan?" jelas Dewa panjang lebar.
"Em.." Cintya nampak berfikir.
__ADS_1
"Apa itu artinya Cintya boleh ngelakuin apapun yang jadi keinginan Cintya?"
"He em "
"Oke om, Cintya setuju." Cintya tersenyum sumringah.
"Oke, mulai sekarang kita partner." Cintya mengangguk setuju.
Mantep banget nih laki satu. gue bebas!" Cintya tersenyum Smirk.
Mobil Dewa telah sampai di halaman rumah berlantai dua. di sana tampak sepi kendati malam belum terlalu larut.
"Kok sepi?" Dewa bertanya.
"Ibu pasti sedang nyiapain makan malam. kakek pastinya di kamar dan Kak Leo seperti biasa. lagi tenggelam di antara berkas-berkasnya" Ucap Cintya sambil keluar dari mobil Dewa.
Padahal gue pengen panasin dia, Dewa mendesah kecewa.
Baru beberapa langkah mereka memasuki rumah, terdengar mobil yang juga masuk ke halaman rumahnya.
Berani juga si brengsek itu datang ke kandang singa. Leo memandang sinis ke arah mobil Dewa di sebelah mobilnya.
"Wa'alaikum salam." Dewa dan Cintya menjawab bersama. dan ternyata kakek dan ibu Cintya sudah menunggu di meja makan.
"Baru pulang juga lu dek?" Leo mengacak rambut Cintya setelah pemuda itu menyalami tangan ibu dan kakeknya.
Ada yang teriris namun bukan roti atau daging. namun hati Dewa yang merasa teriris melihat interaksi Leo bersama keluarganya. ada rasa yang tak mampu ia deskripsikan. yaitu perasaan akan kehangatan keluarga yang tak pernah ia rasa sebelumnya.
Bagaimana tidak, kedua orang tuanya yang memilih tinggal di luar negeri karena bisnis mereka yang harus mereka urus di sana. sehingga Dewa harus hidup seperti anak yatim piatu tanpa kasih sayang dan kehangatan orang tua.
"Wa!" sapa Leo membuyarkan lamunan Dewa. Dewa hanya tersenyum karena ia harus menata ulang perasaan yang tiba-tiba merasa sesak.
"Silahkan Dewa." Ibu mempersilahkan Dewa untuk memulai makan malamnya.
Di liriknnya semua orang yang sedang makan dalam diam. ada rasa haru menyeruak. dan perasaan iri kembali timbul dalam hati pemuda berambut coklat itu.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian." Kakek yang sebenarnya tak banyak bicara itu bertanya kepada calon cucu menantunya.
"Baik kek, kami menyerahkan semuanya pada WO. dan persiapannya persis yang Cintya mau. iya kan Dek?" Dewa menjawab. dan tanpa di duga Dewa melibatkan Cintya dalam bualannya. mau tak mau Cintya pun mengikuti permainan Dewa. lagi pula tak akan rugi akan hal itu.
"Tadi kita udah ke butik dan besok rencananya kita mau pesen cincin kawin." Dewa menggenggam tangan Cintya seolah mereka berbahagia atas rencana pernikahan mereka. dan lagi-lagi Cintya hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Leo tersenyum sinis sambil melirik tangan Dewa yang menggenggam tangan Cintya mesra.
"Beneran lu udah siap jadi istri?" Leo bertanya pada Cintya. namun gadis itu tak menjawab.
"Dan elu. emang elu yakin udah siap jadi suami dari adek gue yang gak bisa ngapa-ngapain selain bikin onar ini?" Seolah mengejek, sebenarnya Leo sedang menguji kesiapan seorang Dewa. dan mungkin itu cara Leo menitipkan adik semata wayang kesayangannya kepada teman brengseknya itu.
"Dia gak perlu bisa ngapa-ngapain. gue gak nuntut apa-apa. gue cuma pingin dia jadi apa yang dia mau. dan yang penting dia bahagia." Dewa berucap santai. membuat Leo menatapnya tak percaya.
Ada keraguan di hati Leo namun ada kelegaan juga dalam hatinya jika Dewa akan membahagiakan adiknya.
Dan setelah makan malam usai, mereka berbincang di ruang keluarga sebelum Dewa beranjak untuk pamit.
"Ini sudah malam dan Sepertinya saya harus pergi." Dewa berdiri dan berjalan ke arah kakek.
"Kek, saya pamit dulu." ucapnya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan tua itu lalu menciumnya takzim.
"Bu, saya pamit. terima kasih atas makan malam nikmat ini. jika di perkenankan saya akan lebih sering makan malam di sini." Dewa pun mencium tangan ibu. membuat hatinya merasa haru. belum pernah ia melakukan hal ini terhadap mamanya.
"Ya sering-seringlah mampir. ibu senang jika kamu suka masakan ibu."
"Kakak pulang dulu ya, jangan tidur malem-malem. yang ada kamu ketiduran lagi di kantor." Dewa mengacak rambut cintya membuat gadis itu cemberut tak suka.
"Apa tidur?" ibu kaget bertanya.
"Seharian dia tidur di kantor dan gak melakukan apapun. untungnya gak di lihat karyawan lain." Dewa menggeleng sambil bercerita.
"Ha..ha .ha.." Leo terbahak. karena hanya dia yang tahu kenapa gadis itu bisa ketiduran.
"Untung tu kantor punya calon laki elu, kalo enggak besok langsung di pecat lu dek." Leo menasehati namun di sertai cibiran membuat Cintya semakin mengerucut.
"Au ah! ngantuk!" Cintya Menggamit lengan Dewa mengantarkan pemuda yang telah resmi menjadi calon imamya itu keluar dari rumah menuju mobilnya
Dan meski hanya kepura-puraan namun perbuatan Cintya mampu menerbitkan senyum di bibir si calon imam.
"Gue pulang ya calon istri." Pamit Dewa namun cibiran dari di bibir mungil yan ia dapat.
"Udah pulang sono, mimpiin calon istri yang cantik ini ya biar makin cinta." Cintya mengusir setelah cibirannya berhasil membuat dewa terbahak.
Mobil Dewa keluar dari halaman rumah berlantai dua itu. namun Cintya masih betah berada di sana hingga mobil yang ia pandang hilang hari pandangannya. ada senyum tersungging di wajah cantik itu. sebelum suara di belakangnya memaksa ia menarik kembali senyum itu.
"Kenapa lu?" Leo lah yang bertanya.
__ADS_1