
Happy Reading...
"Bagaiman kau mendapatkan foto itu?"
"Tidak penting dari mana aku mendapatkan atau siapa yang mengirim foto ini."
Lilian tersenyum.Jadi Dewa benar-benar melakukan ide gilanya.
Flash back on.
"Entahlah. tapi dia sama sekali tak pernah terlupakan."
"Lian, lu masih ingin bersama si mulut ketus itu?" Dewa menatap lekat wajah temannya. Lilian sudah menitikkan air mata.
."Bolehkah jika aku masih mengharapkannya?" Lilian memaksakan senyum.
Dewa tak berkata apapun, hanya mengangguk sembari tersenyum. memberikan semangat meski ia tak yakin jika Leo memiliki perasaan yang sama dengan Lilian.
"Apa dia masih seperti dulu?"
"Entahlah, gue gak pernah ngomong masalah pribadi sama dia, adeknya juga gak tau apa-apa. dia masih sama seperti terakhir kali kita ketemu. tetap menyebalkan dan keras kepala."
"Lalu bagaimana jika dia ternyata masih sama seperti dulu,?" tanya Lilian, pelan.
"Maksud lu?"
"Gimana kalau dia masih tak suka sama aku, atau mungkin dia sudah memiliki seorang wanita di hidupnya."
"Kita akan segera tahu."
"Caranya?"
"Lu nurut sama gue," Dewa membisikkan sesuatu agar yang baca gak ikutan dengar hingga Lilian menganga dengan mata yang membulat.
"Lu yakin ini akan berhasil?" Lilian ragu dengan ide yang di sampaikan sahabat sablengnya.
"Gue gak tau, tapi seenggaknya lu bisa liat reaksi dari wajah datarnya yang udah mirip kulkas itu."
Flashback off.
"Ku rasa kau cukup mengenali wajah orang di foto itu," ujar lilian di sertai senyum sekilas. lebih tepatnya senyum yang terpaksa ia pasang di sudut bibirnya.
"Bahkan kau langsung mengenalinya walau gambarnya tak cukup jelas."
Lilian terkekeh, "Bagaimana aku tak mengenalnya, kami melewati waktu bersama hampir separuh dari umur kami."
"Ya kau benar, kalian sangat dekat. bahkan kau membiarkannya menjadi petualang. aku bingung dengan hubungan kalian."
"Aku tak memiliki kuasa untuk melarang ia melakukan itu Leo," Lilian bicara setenang mungkin, meski yang ia rasakan hampir membuatnya ingin lari menjauh.
Tatapan Leo masih sama, dingin dan dalam.
"Di brengsek itu ternyata tetap memenangkan dirimu sampai saat ini" ada nada tak suka dalam setiap kata yang di ucapkannya.
"Dewa tak sebrengsek yang kau kira Leo," sanggah Lilian yang cukup membuat Leo merasakan nyeri di dadanya
"Baiklah apa tujuan kita kesini, apa kau hanya ingin bertanya tentang Dewa?" tanya Lilian cepat. bagaimanapun secepatnya ia harus kabur dari tempat itu sebelum degup jantungnya membuat nya pingsan.
__ADS_1
Tapi Leo seolah tak mendengar apapun yang keluar dari mulut gadis yang sedang duduk di hadapannya, pria itu tengah memfokuskan matanya pada wajah ayu Lilian. seolah ingin menguliti lewat pandangannya.
Leo menyadari jika dirinya telah kehilangan semuanya, semua masa indah bersama Dewa dan Lilian. namun egonya yang terlampau tinggi membuatnya tak mau mengakui kesalahannya.
"Lilian, aku,,"
Kecanggungan melanda, Leo tak mampu mengendalikan kegugupannya setelah ia memandang mata jernih itu bahkan untuk meneruskannya kalimatnya pun ia tak mampu.
"Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?"
"Tidak, aku hanya ingin berbincang denganmu, apa tak boleh." Leo meremas jari dalam kepalan tangannya.
"Hanya berbincang kan, tak masalah." Lilian membuang pandangan, tak sanggup rasanya duduk bersama orang yang menempati hatinya namun juga yang melukai hatinya.
"Malam itu,"
"Ya, kenapa?" Lilian mencoba menguatkan hatinya. memberanikan diri menatap Leo lebih lama. anggap saja ini adalah saat yang istimewa dan belum tentu mereka dapat berjumpa kembali.
"Malam itu, kenapa kau tiba-tiba pergi?" Leo merasa ada bom yang meledak dalam jantungnya.
"Saat itu, ya, Dewa tiba-tiba mengajakku pergi?" Bohong Lilian.
Lilian merutuki kebodohannya, kenapa ia harus berbohong, sedangkan dirinya lah yang meminta secepatnya pergi dari pesta itu.
"Kamu tau kalo De..Dewa mau nikah?"
Bahkan untuk menyebut nama Dewa pun Leo tak mampu. hal itu membuat Lilian sadar bahwa terlalu besar kebencian Leo pada Dewa.
Lilian tersenyum kecut. tak ada yang perlu di harapkan dari Leo. pemuda itu tetap mempertahankan pemikiran konyolnya.
"Ya , aku tau. dengan gadis yang bernama Cintya kan?"
"Tak ada rahasia di antara kami, kau tahu benar itu."
Leo tersenyum kecut, sebenarnya ia yang paling tau bagaimana sebenarnya Dewa. namun entah setan apa yang membuatnya berfikiran bahwa mereka menghianatinya dulu.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Leo menatap lekat ke dalam manik mata biru Lilian. gadis itu tersenyum salah tingkah. rasa yang bertahun lamanya coba ia kuburkan nyatanya tak mampu ia singkirkan.
"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" Lilian greget, Leo terlalu bertele-tele.
"Tinggalkan Dewa!" jelas tanpa tedeng aling-aling.
"Apa?"
"Tinggalkan Dewa." Leo mengulang ucapannya.
Lilian tersenyum meremehkan. " Apa tujuanmu menyuruhku meninggalkan Dewa?"
"Aku tak ingin kau menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan gadis itu." alasan logis tapi sayangnya salah tempat.
"Apa aku harus menuruti keinginanmu?"
"Tidak, iya, maksudku biarkan Dewa bersama dengan gadis itu. jangan menjadi penghalang di antara mereka."
Hey, apa ini, apakah Leo sedang menuduh Lilian menjadi penganggu hubungan orang lain.
__ADS_1
"Atas dasar apa kau menyuruhku meninggalkan Dewa,"
"Tidak ada, sudahlah lupakan,"
Suasana restoran cepat saji semakin ramai menjelang sore hari. namun Lilian dan Leo sama sekali tak terganggu, masih dengan pembicaraan monoton yang sebenarnya sangat membosankan. Leo sangat kaku, sama sekali tak menarik sebagai tenan kencan.
***
"Om, ngapain sih?" Cintya risih karena Dewa memeluknya dengan sangat erat. Bahkan selimut yang membungkus tubuhnya pun sudah teronggok di lantai marmer yang dingin.
"Kita nikah secepatnya yuk, kalau perlu besok atau malam ini." ujar Dewa dengan gampangnya. membuat Cintya kebingungan. bahkan dengan beraninya mulut si profesional menjelajah leher dan pundak Cintya dengan lembut. menggigit kecil dan meninggalkan tanda kepemilikan di leher belakang Cintya.
"Om," suara Cintya serak karena mendapat serangan mendadak. membuat gadis itu seperti tersengat akan rasa yang tak pernah ia rasakan.
Cintya segera tersadar, di lepaskannya lengan yang membelit tubuhnya sebelum ia terlena di buatnya.
Dewa membalik tubuh Cintya, kini mereka berhadapan. secepat kilat gadis itu menutup bagian depan, tubuhnya dengan kedua tangannya yang bersilang.
Dewa mengikis jarak, membuat Cintya melangkah mundur seiring dengan langkah Dewa yang semakin mendekat.
Cintya di dera ketakutan, ia takut akan menjadi korban Dewa seperti siang lalu.
Tangan Dewa terulur mengambil salah satu kemeja yang tergantung dalam lemari tanpa memindahkan tatapan tajam dari manik mata bening Cintya.
"Gue akan miliki elu secepatnya," ujarnya sambil memakaikan kemejanya yang jelas terlalu kebesaran pada tubuh mungil gadis itu.
"Kali ini Lo gak akan bisa pergi lagi" satu kancing terpasang.
Cintya menelan ludah.
"Lo akan terikat bersama gue." kancing kedua terpasang.
"Gue miliki elu seutuhnya," ketiga sukses, Cintya semakin sulit menelan.
"Gue gak akan lepas elu selamanya " kancing ke empat sempurna.
Cup!
Satu kecupan dan ******* singkat sebagai akhir, kemeja Dewa menutup sempurna tubuh mungil Cintya.
I love you. ungkap Dewa dalam hati.
Cintya tak berkata apapun perlakuan Dewa membuat pikirannya terpecah.
"Kenapa? Ingin lagi?"
Belum sempat Cintya berkata, bibirnya sudah menjadi korban untuk yang kedua kalinya. namun kali ini dengan durasi yang lebih panjang dan melenakan.
Dewa mengusap bibir Cintya yang masih basah dengan ibu jarinya.
"Gue bilang juga apa, bibir gue manis kan?"
***
Mesum!
Ada yang pengen mewakili Cintya nabok di Dewa???
__ADS_1
Komen yuuuk ..
Jejaknya gess,,,