
"Kok kuping aku berdengung ya kak?" Cintya yang saat itu sedang duduk berdua dengan Leo di balkon kamarnya mendadak seperti mendengar suara kereta api yang berjalan.
"Ya pastilah berdengung dek, pasti calon laki elu sedang gibahin elu sekarang, secara dia udah lu bikin kayak babu ganteng." Leo menanggapi ucapan Cintya dengan sedikit lengkungan di sudut bibirnya.
"Bagus banget tuh omongan." Cintya terkikik mendengar julukan yang diberikan Leo untuk Dewa.
"Babu ganteng takut miskin." Leo dan Cintya tergelak bersama. sungguh pasangan kakak beradik yang sangat kompak. minim akhlak.
Kedua kakak beradik itu tampak seru membicarakan manusia tampan yang saat ini sedang di landa ke frustasian.
Bagaimana tidak, tanggal pernikahan mereka kurang dari tiga bulan dan di saat semuanya sudah sesuai dengan yang di bayangkan, mendadak semuanya berbelok dari rencana awal.
Sial, sungguh sial!
***
Dentuman musik kian memekakkan telinga bersamaan dengan malam yang semakin merambat larut. kumpulan manusia-manusia pencari dosa makin sesak, seolah tak ada lagi oksigen di antara mereka.
__ADS_1
Asap rokok dan bau minuman yang menguar berebut masuk melalui lubang hidung dan memenuhi rongga paru-paru, dan kembali di hembuskan. seolah oksigen dan karbondioksida tak ada bedanya disana, tapi kenapa mereka tidak mati justru semakin menikmati kliyengan di kepala.
Dewa merutuki dirinya, kenapa malam itu harus terjadi. jika tantangan itu tak pernah terjadi dan Cintya maupaun dirinya tak terlibat di dalamnya pasti semuanya berjalan sesuai rencana.
Dewa tampak kacau, bayangan kakek yang menyeringai penuh ancaman berkelebat di benaknya. jari-jarinya tak bosan menyugar rambut tebalnya dan sesekali menjambaknya dengan kuat berharap dengan cara itu dapat menemukan solusi untuk masalahnya.
"GIla... gila banget! hebat bener tuh cewek bisa ngebuat jagoan kita kelimpungan." Alex tertawa puas mengolok majikannya.
"Ya gak pa pa lah Wa, lu jabanin aja tantangan tuh nona kecil." Zack dengan tak ada rasa takut sama sekali pada wajah tampan yang saat itu sedang memasang wajah garang.
"Itu bukan tantangan tapi pantangan!" sergah Dewa dengan cepat.
"Coba gue tanya sama elu-elu berdua, emang cinta itu apa sih, rasanya kayak gimana, terus bisa di beli dimana, gue bakal borong buat nimbun tuh bocah." cerca Dewa kembali mulai frustasi.
"Whoy kadal! lu pikir cinta itu brownis apa yang di jual bebas di cake shop, makin gendeng lu."
"Gaya Lo ngatain gue gendeng, udah siap Lo jadi OB gantiin si Ismet" bentak Dewa semakin kesal.
__ADS_1
Alex menelan ludah mendengar ancaman Dewa meski ia tahu bahwa itu hanya usapan jempol.
Zack terkikik, "Kalau Lo jadi OB, si Ismet naik jabatan jadi apa Wa?"
"Gue jadiin patung Pancoran."
Sungguh sore itu seorang Dewa Herlambang sang casanova kaya raya, tampan rupawan bak Dewa yunani penakluk hati wanita, eh bukan hati lebih tepatnya tubuh wanita bertindak sebagai suami takut istri. sangat patuh dan tak di izinkan untuk protes.
Demi kaos kaki bolong, atau apapun yang bolong-bolong di dunia ini, Dewa sangat mendalami perannya. bukan takut karena omelan si gadis ceriwis namun tangguh itu, namun lantaran ancaman gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah pembatalan perjodohan. konsekuensi terburuk adalah ia menjadi miskin.
Oh tidak, itu sangat menyeramkan. lebih baik ia menuruti gadis yang sebetulnya tak menyukai acara belanja seperti kebanyakan wanita itu. nominal yang di keluarkan hari itu tak akan membuatnya bangkrut dalam sehari. berbeda jika si sakti tanpa tongkat peri itu membatalkan perjodohan, maka Dewa akan berkata 'selamat tinggal kemewahan dan selamat datang kesengsaraan'.
Lalu apa tanggapan dari kedua pendengar setia itu? bukannya kata-kata penghibur atau dukungan justru tawa menggelegar yang terdengar. sedikit empati pun tak ada.
"Bangsat kalian berdua!"
***
__ADS_1
jejaknya gengs...