Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Never...


__ADS_3

Happy Reading...


Perdebatan akan terus terjadi selama Dewa dan Cintya berada di satu tempat dan satu waktu. karena mereka akan selalu menemukan bahan untuk memulai perdebatan mereka.


Seperti yang terjadi saat ini, Cintya menagih janji Dewa yang akan memberikan gaji di awal untuk pekerjaan yang belum di lakukan nya. dan ingin pergi sendiri namun Dewa memaksa untuk menemaninya.


"Gue temenin, atau kita balik ke kantor!" Dewa memaksa


"Gak bisa, pokoknya Cintya mau pergi sendiri." kekeuh Cintya.


"Emang nya kenapa sih kamu gak mau gue temenin. lu malu jalan sama gue?"


"Eum bukan begitu, sebenarnya..?" Cintya bingung harus berkata apa. ia tidak mau Dewa melihat apa yang sebenarnya ingin ia beli.


"Apa?"


"Udahlah Om, Om tunggu aja di mobil, Cintya cuma bentar. gak pake lama. cuma beli sebiji doang."


"Apasih? curiga gue." Dewa memicing tapi hanya sesaat karena tiba-tiba ia merasa Ponsel di saku celananya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


Nomor asing. siapa? gumamnya.


"Ya hallo."


(...)


"Bisa."

__ADS_1


(...) Dewa melirik ke arah Cintya.


"Oke, gue jalan sekarang."


Dewa mematikan panggilan telponnya dan menghampiri Cintya yang berdiri agak jauh darinya.


"Cil!" Cintya menoleh.


"Gue ada janji sama klien di tempat kita makan tadi, jadi elu kalau sudah selesai tunggu di mobil atau lu samperin gue ke kafe tadi." titahnya.


Cintya mengangguk senang. bukankah itu yang dia mau. pergi sendiri. agaknya kali ini nasib baik sedang berada di pihaknya.


"Ingat jangan pulang sendiri, oke!" titah Dewa lagi.


"Yes boss!"


"Apa lagi?" tanya Dewa Bingung.


Cintya menengadahkan tangannya sambil menaik turunkan alisnya. "jangan acting deh!"


"Maksud lu?" Dewa semakin bingung lantaran Cintya hanya berteka-teki sambil menunjuk telapak tangannya yang menengadah dengan isyarat matanya.


Dewa menghembuskan nafas saat menyadari apa yang di inginkan Cintya. "Sorry, gue lupa." Dewa memberikan kartu kredit tanpa batas nya pada Cintya.


Cintya menerimanya dengan mata berbinar. yang ada di benaknya saat ini adalah ia harus mendapatkan apa yang di inginkan nya sejak dulu Jika ia telah bekerja. tak peduli bagaimana nanti ia harus membayar hutangnya pada Dewa.


"Berapa om?"

__ADS_1


"Maksimal lima ratus." ucap Dewa tanpa meneruskan kata belakangnya membuat Cintya bertanya-tanya dalam hati.


"Lima ratus apa om? lima ratus ribu? ya elah pelit amat, malu dong kartunya doang item. tapi kosong. malu deh?" Cerca Cintya.


"Lima Ratus juta cil, emang apaan lima ratus ribu." Dewa tak lagi menanggapi Cintya. secepatnya ia harus sampai ketempat dimana ia membuat janji dengan orang di belakang telpon


"Makasih Om!" Dewa hanya mengacungkan jempol tangannya tanpa menoleh.


"Cintya tertawa riang, dengan semangat menggebu dan langkah ringan serta senyum terkembang ia berjalan menuju tempat dimana para pengunjungnya kebanyakan kaum Adam. sepertinya hanya dirinya lah manusia berjenis kelamin wanita yang ada di tempat tersebut.


Dewa telah sampai tempat yang di jadikannya tempat untuk pertemuannya. dan yang lebih mengherankan lagi, ia juga kembali duduk di kursi yang beberapa menit lalu ia tinggalkan.


"Maaf membuatmu menunggu." ucap Dewa sopan. namun gemuruh dalam dadanya tak dapat ia hindari.


Ia begitu penasaran kenapa orang sesibuk dia mengajaknya bertemu di tempat seperti ini.


"Tak apa, aku juga baru nyampe." ucap orang di belakang meja menjawab ucapan basa-basinya.


"Ada apa kamu sampai memintaku untuk bertemu di saat jam kantor seperti ini." tanya Dewa to the poin.


"Tinggalin Cintya". singkat padat jelas dan tanpa basa-basi. Pria di hadapannya memintanya untuk meninggalkan orang yang akhir-akhir ini memberi warna dalam hidupnya.


"Never!" jawab dewa tak kalah tegas dengan pancaran mata yang tak kalah tajam.


***


Siapa hayoo...

__ADS_1


__ADS_2