Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Aku tidak lemah hanya lelah.


__ADS_3

Happy Reading...


Cintya tertegun karena melihat Dewa seperti yang di buru waktu. ia bahkan tak sabar menunggunya mandi dan lebih memilih untuk mandi di kamar mandi di kamar Twins.


Seperti biasa Cintya akan menjadi istri yang sempurna, yang menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan suaminya.


Seperti pagi ini misalnya, ia tahu jika Dewa akan ke kantor. tapi masalahnya jam kantor masih empat jam lagi. dengan hati seperti di remas dan menahan agar air matanya tak jatuh, Cintya menyiapkan pakaian Dewa.


Cintya tak akan menanyakan apapun ia akan membiarkan Dewa bertindak seperti yang pria itu inginkan. memilih diam bukan berarti ia akan benar-benar diam. ada strategi yang harus di gunakan. dan bukan Cintya namanya jika ia kan membiarkan dirinya si injak dan si permainkan.


Dewa keluar dari kamar Twins melalui pintu penghubung. ia masih setampan biasanya. dengan hanya memakai lilitan handuk sebatas pinggang dan lelehan air di permukaan kulitnya


rambut basahnya membuatnya semakin mempesona.


Tak seharusnya Cintya mengagumi Dewa saat ini. belum waktunya karena ada satu hal yang harus ia lakukan yaitu mencari tahu dari mana asal wangi parfum itu.


"Apa Twins masih tidur?" tanya Dewa yang sedang mengancingkan lengan kemejanya. sedangkan kancing depan adalah tugas Cintya untuk melakukannya.


Ini bahkan baru lepas subuh. dan bayi-bayi itu sedang nyenyak-nyenyaknya tidur season kedua setelah Cintya memberikan mereka susu.


"Ini masih terlalu pagi jika kakak akna berangkat ke kantor," alih-alih protes, Cintya lebih tertarik untuk melayang kan protes.


"Ya, kakak harus keluar kota pagi ini dan mungkin nanti akan pulang terlambat."


"Seperti biasanya, asal jangan bawa kemarahan ke dalam kamar ini

__ADS_1


jika tidak, aku sendiri yang akan membuat kamar ini menjadi tak berguna."


"Cinta, kita tidak akan bertengkar sepagi ini kan?"


"Tergantung bagaimana kakak akan membawa diri."


"A_apa makdudmu?"


"Aku akan pulang ke rumah ibu." tukasnya.


"A_Apa?"


"Aku akan pulang ke rumh ibu." ulang Cintya.


Sebenarnya Cintya masih dingin mendebat. namun telinganya pendengar bay,inya menangis. ia lebih memilih untuk menyenangkan bayinya terlebih dahulu dari pada meladeni Dewa yang tiba-tiba menjadi sangat menyebalkan.


Dewa berjalan keluar kamar dengan sedikit. terburu-buru. kaki panjangnya menapaki tangga dengan sedikit berlari.


Terlihat sekali jika urusan di luar rumah lebih membutuhkan perhatian nya.


Dari bayangan yang terpantul di kaca mobilnya, ia melihat Cintya sedang menggendong Akky di balkon kamar tidur nya. menatap padanya penuh tuduhan. ia tidak akan menyalahkan Cintya karena hal itu. salahnya sendiri karena pulang dengan membawa kemarahan dan bentak kan yang menyakitkan hati.


"Shi*t!"


Dewa kembali menutup pintu mobilnya dan berbalik. ia kembali ke kamarnya. ia tidak akan bisa tenang pergi keluar rumah dengan membawa kemarahan istrinya. keselatamatan dari tiap langkahnya tak luput dari Do'a istrinya.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu. jika tidak, maka diri ini akan hancur hanya dengan melihat kesedihanmu." Dewa memeluk Cintya dan bayinya dalam rengkuhan tangan panjangnya.


Cintya hanya terdiam. selama ini Dewa selalu bisa menebak semua yang ada di hatinya. sesempurna itu memang cinta Dewa padanya.dan sekarang ini pun masih sama. ia masih merasakan cinta yang sama. cinta yang besar dan luar biasa.


"Kita akan membicarakan ini nanti, dan kakak mau kamu tak melakukan apapun. kakak akan meminta seseorang untuk membantumu. jangan terlalu lelah. kakak akan lebih sakit jika kamu sakit. kau bisa bersenang-senang hari ini, kau bisa menghamburkan uang kakak. kau bisa menambah koleksimu. kakak harus pergi sekarang."


Dewa memberikan cium an di kening dan kecupan lembut di bibir Cintya setiap kali mereka akan berpisah. dan Cintya masih merasakan rasa yang sama. tak ada yang berbeda. tapi kenapa hatinya merasakan hal lain. tak pernah ia merasakan hal semacam ini. membuatnya sedak dan juga sedih.


Dewa mengemudikan mobilnya sendiri. mobil sport kesayangan nya. Buggati La voitu Noire. ia pernah mengatakan jika ia hanya memakai mobil itu saat sedang bersama orang yang di cintai ya. dan lihatlah, sekarang bahkan ia meninggal kan Cintya dengan kesedihan yang menyesakkan. apakah ada orang lain yang di Cintai suaminya selain dirinya. mengingat itu, kembali air matanya tak terbendung lagi. ia menangis tanpa suara yang membuatnya semakin sesak.


Seperti pesan Dewa padanya, Cintya akan menunggu. menunggu pria berstatus suami itu menjelaskan semuanya. termasuk aroma parfum yang membuatnya muak itu.


Sepuluh jam dari sekarang jika Dewa tidak terlambat. waktu yang tak terlalu panjang jika suaminya itu menempati janjinya. Cintya hanya harus bersabar sedikit lagi.


***


Cuplikan bonchap selanjutnya.


"Bagaimana keadaan janinnya dokter?" Dewa bertanya dengan wajah paling panik. di samping nya ada seorang gadis terbaring lemah di atas brankar dengan wajah pucat dan sembab. perutnya terlihat sedikit membuncit karena tubuhnya yang tampak lebih kurus. yang terbalut oleh kulitnya yang pucat.


jeng... jeng.. jeng...


Dewaaa! ngapain lu. emak gebukin lu kalo macem-macem.


habis ini pasti mak yang di teror mak-mak nopeltun.

__ADS_1


__ADS_2