Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Twins.


__ADS_3

Gak ada adegan hot week end ini, bisa di imagine sendiri ya genk...


Si sableng nih, calon papi baru.



Alex, si asisten durjana. 👇🏻



Zack Montano,si pengintai. 👇🏻



Leo, si apatis bermulut ketus. 👇🏻



Naah, kaaan pada syuka kaaan.....


yuk ah, berhalu ria


****


Happy Reading...


Setelah berputar-putar dengan rayuan dan bujukan yang tak mudah, akhirnya Dewa berhasil membawa Cintya pergi ke rumah sakit.


Dan di sinilah mereka berada. di lorong rumah sakit, berjalan beriringan masih dengan sisa perdebatan.


Hal yang seharusnya sangat mudah untuk di lakukan, namun nyatanya menjadi hal yang paling sulit untuk Dewa lakukan.


Demi untuk memastikan jika memang ada janin keturunan keluarga Herlambang dalam perut istrinya, Dewa harus benar-benar merelakan hari kerjanya.


Dengan berbalut mini dress berwarna peach berbahan Sifon yang Dewa pesan langsung pagi itu dari butik langganan istrinya, Cintya telah termakan oleh bujukan Dewa.


"Cantiknya, istri siapa sih ini?" rayu Dewa karena Cintya masih tampak cemberut.


"Bukan istri siapa-siapa!" ketusnya menimpali candaan Dewa.


"Jadi, boleh dong pepetin?"


"Emangnya angkot?"


"Kalau eneng angkotnya, abang boleh deh jadi aspalnya." Dewa terkekeh.


"Kenapa gitu?"


"Karena abang suka kalo si eneng bergerak-gerak di atas abang."


Cintya cemberut, tapi masih tak mampu untuk menyembunyikan senyumnya.


"Gombal deh."


Dewa menautkan jari-jarinya di antara jemari Lembut Cintya . menggandeng dengan mesra. dan sesekali melabuhkan kecupan di punggung tangan Cintya. menelusuri koridor rumah sakit yang lumayan ramai.

__ADS_1


Cintya tak bisa menahan untuk tidak tersenyum. perlakuan Dewa sangat manis hanya demi mengajaknya untuk cek kesehatan.


"Ngapain sih kita musti repot ke rumah sakit segala." untuk beberapa menit berlalu, si ceriwis itu berhenti protes. tapi itu tidak lama karena saat ini Dewa kembali pendengar gerutuan yang sama dari mulut yang sama.


"Kata kakak juga apa, kamu gemukan jadi kita musti timbang berat badan kamu. berat tau kalo kakak gendong kamu." bohong Dewa dengan sempurna.


"Isssh, siapa juga yang minta gendong, orang kaki ini masih kuat buat jalan."


"Semalem siapa yang males jalan katanya? terus tadi pagi siapa yang ngeluh capek?"


"Udah ih, gak usah di ungkit-ungkit."


Eh, siapa yang barusan ngomong?


"Perasaan tadi kakak cuma ngingetin."


"Udah diem."


"Cerewet."


"Nyebelin!"


"Sayang kamu."


"issh, kok bisa sih aku punya laki nyebelin kayak gini?"


"kok bisa sih aku dapet istri gemesin kayak gini."


Seperti itulah, perdebatan masih berlangsung hingga kaki mereka telah sampai ke ruang dokter spesialis obgyn.


Sebelum mereka sampai di sana, Dewa terlebih dahulu melobi dokter kandungan itu untuk tidak menyebut apapun tentang kehamilan. karena Dewa tahu jika Cintya akan langsung menolak perihal tentang pemeriksaan.


"Selamat pagi Bapak, Ibu." sapa dokter dengan name tag Arini itu.


"Selamat pagi." balas Cintya.


"Silahkan duduk." Dokter Arini mempersilahkan. "Apa ada yang di keluhkan?" tanya Dokter itu setelah melirik sebentar ke arah Dewa.


"Tidak ada keluhan apapun dari saya karena yang mengeluh tubuh saya semakin berat saat di gendong adalah dia." Cintya melirik tajam pada Dewa.


Dokter berhijab itu tersenyum mengerti karena Dewa lebih dulu menceritakan keadaan Cintya.


"Jika keluhan bapak seperti itu, itu artinya ibu mengalami peningkatan berat badan. ada beberapa hal yang mempengaruhi peningkatan berat badan. apa akhir-akhir ini ibu makan berlebihan, sering lapar atau yabg lainnya." tanya Dokter, meski itu sedikit ada hubungannya dari niat Dewa membawa Cintya ke sana. namun ungkapan dokter itu terdengar sangat ambigu.


"Tentu saja saya makan banyak karena saya merasa baik-baik saja dan membutuhkan makanan." jawab Cintya.


Dokter itu kembali tersenyum. memang benar jawaban Cintya. tak ada yang salah dari setiap yang ia katakan.


"Tapi ada hal lain yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan secara mendadak. apa ibu mengkonsumsi obat tertentu atau mengalami insomnia berat?"


"Tentu saja saya sulit tidur karena ada seseorang yang sengaja membuat saya tidak tidur."


Cintya melirik sadis ke arah Dewa. bersamaan dengan Dewa yang terbatuk.


"Uhuk!" Dewa tersedak udara hingga wajahnya memerah dan juga malu.

__ADS_1


Dokter itu kembali tersenyum.


Pasangan yang aneh dan juga lucu.


"Dan tentunya ada perihal lain yang mempengaruhinya. mari ikut saya."


Dokter itu tak menjelaskan secara detail perihal pemeriksaan lanjutan. dan Cintya pun tak menolak saat ia di minta untuk tidur di atas ranjang pemeriksaan. dan saat suster mengoleskan gel pun Cintya tak banyak bertanya. karena memang Cintya tak pernah mengetahui apapun tentang prosedur pemeriksaan kehamilan.


Dewa berdiri di samping Cintya dengan jantung berdebar kencang. tangannya terus menggenggam jemari istrinya dan sesekali menciumnya.


Netranya awas melihat ke dalam layar monitor saat dokter mulai menjelajahi perut istrinya. mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter.


"Tepat seperti dugaan anda pak Dewa, ibu Cintya positif mengandung


dan usia kandungannya telah memasuki minggu ke delapan."


Dewa langsung memeluk Cintya yang masih tampak kebingungan. "Kau dengar sayang, kau hamil. kau mengandung buah cinta kita."


Mata Dewa berkaca-kaca. perasaan bahagia membuncah hingga ia nyaris menangis. Cintya masih terdiam, mencerna ucapan dokter. meski Dewa mencium seluruh bagian di wajahnya.


Ada rasa tak percaya dalam hatinya. bukan tanpa alasan ia tak mempercayai ucapan Dokter, itu karena ia merasa mendapatkan tamu bulanannya beberapa hari yang lalu.


"Tapi beberapa hari yang lalu saya masih mengalami haid, jadi mana mungkin saya hamil?" ujar Cintya menegaskan.


"Yang ibu alami itu bukanlah darah haid, itu merupakan pendarahan implantasi. dan itu lumrah terjadi di awal kehamilan."


Dewa membantu Cintya turun dari brankar dan menuntunnya duduk di hadapan dokter.


"Dan satu lagi," dokter menjeda ucapannya. seolah sengaja membuat pasangan yang itu penasaran.


"Ada apa Dokter." Dewa antusias bertanya. sepertinya hanya Dewa yang sangat bahagia mendengar berita kehamilan istrinya. karena Cintya masih terlihat tak percaya.


"Ada kemungkinan janin di rahim ibu Cintya kembar."


"Benarkah?"


"Kita akan mengetahuinya dengan pasti saat usia kandungan ibu Cintya memasuki usia dua belas minggu."


Dewa tak berkata apapun lagi. di peluknya tubuh Cintya semakin erat dan melabuhkan ciuman di pelipisnya.


"Sekali lagi selamat ya bu, sebentar lagi anda akan memilki bayi yang lucu. dan bapak, tolong di jaga istrinya, pastikan asupan makan harus terjaga dan vitaminnya jangan sampai lupa."


Dewa keluar dari ruangan Dokter. lalu pergi untuk menebus vitamin.


"Kak, nanti aku pasti sangat gendut dan kakak gak akan kuat gendong aku lagi." Keluhan pertama dari mulut si ibu hamil.


"Jangankan cuma tubuh kamu yang gendut, kakak bahkan rela menanggung semua beban kamu. rasa sakit kamu dan semua rasa yang membuat kamu merasa tak nyaman."


Dengan sadar Dewa mengucapkannya. tapi sepertinya ia lupa jika apa yang kita ucapkan adalah Do'a. dan Dewa telah menyatakan bahwa ia akan menanggung semuanya sendirian. dan itu artinya Dewa pun telah bersiap untuk merasakan segala yang di rasakan ibu hamil.


Selamat datang Cinta, selamat datang kutukan cinta dan selamat datang kesengsaraan morning sickness.


***


Dewaaaa, siap-siap ya, di do'ain ngidam aneh lo kamu sama para Readers.

__ADS_1


Wkkk


jejaak


__ADS_2