Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Penyempurna hidup.


__ADS_3

Happy Reading ..


"Mampus gue," Umpat Dewa dalam hati.


"Kenapa? tidak sanggup?" Cintya telah siap dengan segudang cercaan di mulutnya.


"Apakah tidak ada hukuman yang lebih keren lagi sayang?" Dewa meminta keringanan sebenarnya.


"Tidak ada!" Jawab Cintya cepat dan ketus.


Dewa mendesah berat, entah ini karma atau ujian. yang pasti dirinya tak sanggup melawan keinginan sang nona di depannya.


"Kenapa?" melihat Raut muka Dewa yang seperti itu, Cintya tak tahan untuk bertanya.


Dalam hati gadis itu ingin mentertawakan, tapi untuk mengetahui keseriusan pria itu, bolehlah sedikit kejam.


Cintya bukanlah gadis menye-menye yang gila belanja ataupun sejenisnya. ia hanya tidak ingin jatuh ke dalam pilihan yang salah.


Cintya pun juga bukan gadis bodoh yang menutup mata terhadap masa lalu pria yang ingin mengambil langkah serius di dalam hidupnya. namun memberikan kesempatan bukanlah ide yang buruk.


Malam itu,


"Seperti yang di inginkan Cintya dan juga permintaan Leo, saya akan membatalkan perjodohan ini."


"Apa?"


Kakek terkesiap mendengar penuturan pemuda yang tak lain adalah satu-satunya cucu dari sahabat karibnya.


Sama halnya dengan kakek, Leo pun juga terkejut. lebih tepatnya sangat tak mempercayai pendengarannya.


Bukankah pria itu jelas-jelas menolak saat dirinya meminta untuk meninggalkan adiknya, tapi kenapa sekarang pria itu sendiri yang mencetuskan ide gila itu.


Berbeda dengan Cintya, gadis itu yakin bahwa pria sableng yang sedang berbicara itu memiliki rencana lain.


"Seperti yang kakek dengar, saya akan memutuskan perjodohan yang eyang paksakan ini. tapi saya tidak akan memutuskan hubungan ini." ujar Dewa sangat tenang.

__ADS_1


Seluruh yang hadir di ruang tamu itu terdiam, mencerna apa yang mereka dengar dari mulut pria yang mereka tahu adalah pria yang jauh dari kata baik.


"Kau memutuskan perjodohan tapi kau tak memutuskan hubungan, apa kau sedang ingin berteka-teki dengan kami anak muda?" begitu tenangnya kakek berbicara. aura kewibawaannya terpancar dalan setiap intonasi kata yang keluar dari bibir tuanya.


Leo mengepalkan tangannya hatinya masih menanas, egonya memaksa untuk menghajar namun nalarnya mencegah agar tidak melakukannya.


Dewa sangat mengerti arti tatapan kedua pria di hadapannya, apalagi melihat wajah wanita tua yang sejak tadi tak bersuara itu.


Dewa berdiri dari posisinya yang semula duduk di sofa berhadapan dengan Leo dsn kakek. sedangkan di sisi kanan ada Cintya yang bersanding dengan ibunya.


Dewa maju selangkah lebih dekat ke hadapan kakek, sejurus kemudian pria jangkung itu menekuk lutut, duduk bersimpuh di hadapan pria tua yang sangat ia hormati sambil menunduk.


Leo dan kakek sontak berdiri. terkejut dengan apa yang di lakukan Dewa.


"Drama apa lagi ini?" tanya Leo dengan suara meninggi.


Kakek mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat agar Leo berhenti berucap.


"Hari ini saya Dewa Herlambang memutuskan perjodohan ini dan membebaskan kakek dan keluarga dari hutang janji atas ikatan di antara kami." Dewa berucap tegas.


"Apa kau sadar dengan membatalkan perjodohan ini, kau terancam keluar dari keluarga Herlambang?"


"Saya sangat tahu, dan saya tak akan menyesalinya." Masih dengan tenangnya Dewa menjawab. aura kepemimpinannya tak dapat di ragukan.


Cintya tersentak. seketika ia mengangkat wajah menelisik wajah pria yang tengah menoleh ke arahnya. lalu kembali menatap ke arah kedua lelaki yang menjadi wali nya.


Leo mengangkat sebelah alisnya, tersenyum miring meremehkan.


"Dan hari ini saya berbicara sebagai seorang laki-laki yang ingin mengikat Puteri dari keluarga ini untuk saya pinang secara pribadi." Dewa berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Di sini, saat ini juga saya ingin melamar putri anda untuk menyempurnakan hidup saya." ucapan Dewa berakhir dengan kelegaan di wajahnya.


Cintya trenyuh, ternyata pria sableng yang ia juluki sebagai buaya cap cicak tak hanya mampu menggombal dan merayu, namun juga bisa berkata serius.


Ibu tersenyum begitu juga dengan kakek. Dewa sudah menunjukkan keseriusannya. tapi tidak dengan Leo, wajah pria itu tetap dingin dan datar.

__ADS_1


"Apa yang bisa Lo berikan ke adek gue tanpa status sosial dan harta yang elo miliki?" Pertanyaan Leo menggores harga dirinya. tapi ada benarnya juga dalam ucapan pria itu.


Dewa menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya. keseriusannya di pertaruhkan, ia tak boleh salah menjawab.


"Saya hanya mampu menjanjikan kebahagiaan yang berdasar pada cinta yang saya miliki. dan dengan kemampuan saya, Cintya akan memiliki apapun yang menjadi keinginannya."


Dewa beralih menghadap ke arah Cintya, lalu merogoh kantong celananya, mengambil kotak bludru berwarna hitam lalu membukanya.


"Jika kau menerima pinangan pria yang mungkin tak kaya lagi ini, maka izinkan saya untuk menyematkan cincin terakhir yang mampu saya beli, dan saya akan berjanji untuk menempatkan mu di atas segala yang ada pada diriku."


***


"Kenapa?" Cintya mengulang pertanyaannya.


"Gue takut salah jalur." jawaban tak masuk akal yang Dewa berikan membuat Cintya melongo.


"Ada rambu-rambunya kali bang, gak akan masuk Empang juga," nada Cintya meninggi hampir emosi.


"iya Cil, gue tau gue ngerti tapi masalahnya gue gak bisa goes," Alamak ternyata itu alasannya.


"Ya udah deh, kita beli dasternya di Mesir saja," ucap Cintya asal.


"Gak bisa,,, gak bisa,,," Cepat-cepat Dewa menolak.


"Kenapa emang?" Cintya merengut.


"Gue cuma takut elu minta jubahnya Anck Suk Namun."


***


Dasar sableng...



00

__ADS_1



jejaknya gengs...


__ADS_2