
Happy Reading....
"Jadi benar ada kisah seperti itu?" Isabel bergumam, "baiklah, kita buat cerita ini semakin menarik." wanita muda tersenyum smirk, menunjukkan wajah membenci dengan mengepalkan tangannya.
Tubuhnya yang membelakangi Graciella tak tampak oleh siapapun jika saat ini ia sedang memasang wajah iblisnya. tak ada yang mengetahui jika dalam otaknya, ia telah menyusun rencana jahat. termasuk Graciella yang telah memberitahukan semuanya.
"Isabel" Graciella membangunkan Isabel dari lamunan jahatnya hingga membuat wanita itu sedikit berjingkit.
"Ah, iya tante." sedikit tergagap, Isabel lantas membalikkan badan dengan memasang wajah bidadari yang selalu ia tampilkan di depan Graciella dan Rendra.
"Apa yang kau pikirkan?" seolah tahu dengan isi pikiran Isabel, Graciella menatap lamat-lamat wanita muda yang ia besarkan itu.
Selama ini, Isabel selalu melakonkan diri sebagai gadis berperilaku baik dan sopan karena Graciella pernah menjanjikan bahwa Dewa akan ia jodohkan dengannya. meski Graciella tahu, mungkin saja Rendra maupun Eyang Herlambang tidak akan menerima idenya mengingat jika dirinya tak pernah berperan sebagai ibu yang baik untuk Dewa.
"Tak ada tante, aku hanya sedikit terkejut, bagaimana bisa Dewa menyembunyikan rahasia sebesar ini pada Cintya." ujarnya menyembunyikan rencana jahat dalam otaknya.
"Tentunya Dewa takut dengan resiko kemarahan istrinya." Graciella menjawab.
"Tapi harusnya Dewa jujur saja." wajah kepura-puraan nya tertutupi oleh sikap manis dan anggun yang tak terlihat oleh siapapun.
"Entahlah, tante tidak peduli soal itu. tante juga tak pernah tahu jika Dewa terlibat dalam kecelakaan Adhit," ujarnya santai. tak ada raut sedih maupun kecewa di wajah Graciella saat ia menyampaikan isi pikirannya. "tapi sudahlah, kau tak perlu memikirkannya. kita akan pergi dari sini. tante sudah tidak tahan." Graciella melenggang dari kamar Isabel, di iringi seringai licik di bibir wanita muda itu.
"Jangan khawatir tante, kita akan pergi dengan senyum kemenangan. sakit hatimu sebentar lagi akan terbayarkan," Isabel bermonolog di depan kaca besar dalam kamarnya seolah bayangannya adalah manusia yang bisa membantunya untuk melakukan rencana jahatnya. "begitu juga diriku. jika aku tak mampu merebut Dewa, maka kau pun tak akan ku biarkan memilikinya." Isabel mengepalkan tangan penuh dendam. wajahnya mengeras di susul sorot matanya yang memerah menahan amarah.
***
Matahari telah beranjak ke sisi sebelah barat. udara sore hari setelah hujan menusuk kulit hingga lapisan terdalam. tak ada tanda-tanda kepulangan Dewa karena hari masih menampakkan cahaya siang. hingga akhirnya petang menjemput, menggantikan sang surya yang menyinari bagian bumi yang lain.
Rembulan dengan cantiknya tersembunyi di balik gumpalan awan putih yang bergelung indah. suasana mendung, menggambarkan isi hati wanita cantik dengan perut membuncit itu, bermuram durja.
Angin malam melambaikan helaian surai-surai panjang yang berkilau keemasan tercium semburat sang rembulan. berkali kali ia menghalau rambutnya yang menutupi pandangannya pada jalanan panjang dan gelap yang mengantarkannya pada persinggahan sang suami. ada rasa tak nyaman yang menghinggapi hatinya saat ini.
Gelisah yang Cintya rasakan bukan tanpa alasan, selain rindu yang semakin mengakar seiring dengan hari yang semakin menua, ada perasaan khawatir yang menyelimuti hatinya. bayangan Dewa yang tersenyum lebar dan pelukan sekilas seolah memberikan pesan untuk tak mengkhawatirkannya. dan hari ini, adalah hari ke tiga Dewa meninggalkannya untuk urusan bisnis tanpa kabar ke luar pulau.
__ADS_1
Perasaan nya semakin tak nyaman saat ia tak menerima kabar ataupun telpon dari Dewa sejak semalam.
Dengan langkah pelan, Cintya menapaki lantai marmer yang dingin, menuruni anak tangga dan menuju dapur. ia membutuhkan air, bahkan Cintya melupakan vitamin karena Dewa tak menyiapkannya saat sarapan.
Tubuhnya lelah namun lebih capek hatinya. bolehkah jika Cintya mengamuk saat nanti Dewa pulang. atau dia memilih mogok bicara saja. biarkan saja Dewa dengan segala kepanikannya.
Hendak kembali ke kamar, namun langkahnya terhenti pada satu buah foto yang bertengger di atas meja hias di sudut ruangan. berbulan-bulan ia menempati rumah besar itu, tapi tak pernah sekalipun ia melihat benda berbentuk kotak tersebut.atau mungkin dirinya yang kurang memperhatikan.
Mendekat ke arah meja, Cintya mengambil bingkai itu dan menajamkan penglihatannya. ingatannya tertuju pada foto yang tersimpan dalam laptop Dewa yang sekarang tak pernah ia temukan.
Jantung Cintya berdentum, antara percaya dan tidak, hatinya ragu tapi ia meyakini. ia ingat wajah itu, wajah remaja yang melempar botol kaca ke arah mobil yang membawanya malam itu.
Seketika itu kepalanya berdenyut nyeri. Cintya mengingat semuanya. remaja itu adalah Dewa dalam tampilan lain.
Dengan sedikit berlari hingga ia lupa bahwa saat ini tubuhnya tak seringan dulu. Cintya hendak kembali ke kamar, namun satu suara menghentikan langkahnya.
"Sedang apa sang ratu berlari-lari?"
Ck, suara yang sangat menyebalkan dan tak Cintya harapakan.
Isabel tengah berdiri dengan bersandar pada pinggiran tangga. tangannya berlipat di dada dengan senyum terburuknya.
Ah, andai saja ia tak memikirkan perutnya yang telah membuncit, mungkin saja saat ini Cintya lebih memilih berguling di atas lantai dengan jambakan di tangannya.
Tak hirau, Cintya kembali melanjutkan langkah, kepalanya yang masih merasakan nyeri membuatnya memilih mengabaikan Isabel dan ocehan tak pentingnya.
"Kau pikir kau sudah di atas angin karena berhasil memiliki Dewa?" cibirnya lagi.
Cintya mengepalkan tangan nya berusaha meredam emosi yang mulai menguap. bagaimanapun ia tak boleh abai dengan dua nyawa dalam perutnya. akan sangat bahaya jika tekanan darahnya naik.
"Sangat lucu jika wanita cerdas sepertimu di tipu mentah-mentah oleh orang yang mengaku sangat mencintai."
Cintya menghentikan langkah dan berbalik menatap nyalang ke arah isabel. tepat pada iris matanya. "apa maksudmu?"
__ADS_1
Isabel tertawa menang, umpannya masuk jebakan. "Maksudku seperti yang ada di dalam hatimu."
Kebingungan Cintya semakin memperburuk rasa sakit di kepalanya. semua perkataan Isabel bagai ribuan jarum yang menusuk semakin menyakitkan.
Butiran keringat sudah menghias di kening Cintya, apakah ini ada hubungannya dengan surat kaleng yang pernah ia terima dulu?
'Jawaban atas pertanyaanmu ada pada suamimu.'
Kata-kata dalam secarik kertas itu melintas di kepala Cintya.
"Apa maksudmu?" Cintya menahan lengan Isabel yang hendak meninggalkannya.
"Lepas!" Isabel menepis kasar tangan Cintya namun tak berhasil.
"Tidak! sampai kau menjelaskan maksud ucapanmu." Cintya menatap tajam ke arah Isabel yang tiba-tiba gelisah seperti orang ketakutan.
"Lepaskan tanganku!" Seru isabel dengan raut semakin ketakutan.
"Jelaskan dulu!" Cintya mencengkeram semakin erat.
"Lepas Cintya!"
Sekuat tenaga Isabel melepaskan cengkeraman tangan Cintya yang semakin erat hingga kuku-kuku cantiknya menancap di kulit isabel yang putih.
Wajah ketakutan isabel semakin tampak jelas, matanya bergerak liar antara wajah Cintya dan satu titik arah lain. dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Cintya yang tampak seperti orang kesurupan.
Dorongan yang kuat membuat Cintya terhuyung dan bajunya yang menjuntai terinjak di pinggiran anak tangga. posisi yang sangat tak menguntungkan bagi Cintya hingga ia kehilangan keseimbangan. Cintya merasakan tubuhnya melayang sebelum ia mendengar suara dari sebuah benturan keras, ia terlebih dulu menutup matanya. hingga ia merasakan gelap.. gelap..dan gelap.
***
Tegang aku tuh, Dewa mana sih kelayapan aja.
Kangen Dewa??? Nih, emak kasih
__ADS_1