Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Hormon kehamilan 2.


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah puas memanjakan mata dengan melihat-lihat perlengkapan bayi yang lucu, yang sebenarnya sangat ingin Cintya borong, Dewa membawa Cintya keluar dari sana. berjalan dengan bergandengan tangan sambil sesekali ia tertawa. membuat siapa pun yang melihat kebahagiaan mereka akan merasa iri.


Dewa mengajak Cintya masuk ke dalam Restoran, hari sudah semakin sore dan Cintya mengeluh capek dan kram di perut nya.


"Masih sakit?" Dewa mengusap perut membuncit yang terlihat lebih besar dari ukuran biasanya itu.


"Udah enggak." Jawab Cintya yang juga mengusap perutnya perlahan. "mereka nendang, om ngerasa gak." Dewa mengangguk antusias.


"Dek, seneng ya di ajak jalan-jalan sama papi," tak peduli meski di mana mereka berada, Dewa selalu mengajak bayi kembarnya itu berbicara. masa bodo orang berkata apa, Dewa hanya tak ingin melewatkan tiap detik moment dalam masa kehamilan Cintya.


"Papi sih terlalu sibuk kerja ya dek," tak kalah absurd, Cintya menimpali candaan Dewa.


Dan Saat adegan manis itu masih berlangsung, sesosok langsing berdiri di depan meja mereka. seorang wanita yang mengikuti Cintya dan Dewa sejak dari store perlengkapan bayi.


"Hai Dewa," sapanya yang sontak membuat Cintya dan Dewa mengangkat wajah secara bersama. "apa kabar?" wanita berpenampilan anggun itu tersenyum sangat manis.


"Hai, Da_vi na," bala Dewa canggung. ini pertama kalinya mereka bertemu sejak tujuh tahun terakhir.


"Dia istri kamu?" todong wanita itu tanpa basa-basi, memusatkan perhatiannya pada Cintya yang menatapnya datar.


"I_iya." sahut Dewa, sedikit gugup. tentu saja karena aura mencekam yang tiba-tiba melingkupi atsmosfer di tempat itu. "Cinta, kenalin ini Davina, teman ka_kakak dulu." Dewa tiba-tiba saja tampak bodoh hingga susunan kata yang seharusnya mudah itu pun sulit ia ucapkan.


"Cintya," Cintya mengulurkan tangan yang di sambut oleh Davina. bahkan wanita itu tak berkedip melihat kecantikan Cintya yang lebih seperti gadis remaja. imut dan periang.


"Cantik banget," puji Davina jujur. "kamu yakin ini istri kamu Dewa, kamu tidak paksa atau culik dia kan?" canda Davina membuat Cintya sedikit melebarkan matanya.


"Apaan sih lo, Vin!"


Eh, apa tadi itu, lo gue gitu loh, curiga ini sih. batin Cintya memprovokasi, melihat interaksi antara wanita yang Dewa kenalkan dengan nama Davina itu.


"Ya kaget aja sih, kamu nemunya yang ginian amat."

__ADS_1


Apa lagi ini, apa maksudnya dengan kata ginian amat, sialan, ngajak gelud apa ya. batin Cintya semakin terprovokasi.


"Emang kenapa?" tanya Dewa tenang, seolah ia lupa jika sang singa betina secang memasang kuda-kuda untuk menyerangnya.


"Gimana ya, kamu bukan pedofil kan wa?"


Anjiiir, gue di kata anak kecil, bentar lagi gue ngasih dua anak kecil beb, asal anda tau. semakin kecut saja Cintya di kacangi.


Dewa terkekeh mendengar kata pedofil membuat Cintya semakin meradang di balik senyumnya yang mengawal perbincangan hangat mantan teman atau apalah, Cintya tak mengerti.


"Enggak lah, gue normal. lagian siapa yang bakal nolak di jodohin sama gadis semanis ini, iya kan Dek?" Dewa mencium pipi Cintya tanpa malu hingga membuat Davina melotot dan tertawa geli.


"Kamu masih semanis dulu ya Wa?"


Whaaat? semanis dulu. wah beneran ngajak perang sih ini buaya cap cicak. kobaran api dalam hati si calon ibu muda semakin membesar.


"Gak ada ya, gue udah berubah ya kan Cinta?" Dewa mengerling nakal membuat wanita bergaun soft pink itu menggeleng takjub.


Fix, Dewa Herlambang kamu benar-benar mengibarkan bendera perang. kepala Cintya sudah di penuhi oleh kepulan asap tak kasat mata karena menahan amarah.


"Tapi beneran loh Wa, dia ini terlalu imut buat kamu," sekali lagi Davina memindai Cintya tanpa berkedip. "Kamu gak di paksa kan sam dia?" tanya-nya pada Cintya.


"Iya kak, sebenarnya Cintya males nikah sama nih aki-aki," Cintya melirik Dewa yang tiba-tiba mencebik. "tapi dia kerumah mohon-mohon sampe sujud pula." lapor Cintya penuh semangat. membuat Dewa merasa terpukul oleh harga dirinya yang terjatuh.


"Benarkah?" Davina sungguh sangat antusias mendengar Cintya hingga ia mendudukkan dirinya tanpa di persilahkan.


"Iya kak, tanya saja orangnya.?" Cintya melirik Dewa sinis. namun ia harus menahan kesal karena Dewa seperti biasa tak dapat menangkap sinyal jika bumil itu sedang merajuk.


"Benar Dewa?" Dewa mengangguk tanpa malu."Wah, gue harus bikin reuni nih biar semua mantan kamu tahu, kalau si Dewa udah ketemu pawangnya." Davina tergelak tanpa malu di tempat umum mengingat penampilannya yang begitu anggun.


"Gak perlu, Leo kali udah nyebarin." Dewa mendengus.


"Apa_ siapa? Leo? Leo siapa?" Davina melihat ke arah Cintya dan Dewa bergantian.

__ADS_1


"Emang ada berapa Leo di kampus?" Dewa mencecap lemon tea nya. melihat ke arah Davina yang tampak berpikir, "Nooh adeknya." Dewa melirik Cintya "Sama-sama galak."


Whaaat?? Cintya yang cantik ini di bilang galak! terlalu!


"Leonard siapa, Leonard aditya yang pendiem itu?" Davina menganga tak percaya, kembali menelisik Cintya yang dengan tenang menyuap ice cream yang baru saja di antar pelayan. "beneran?" Cintya mengangguk, sementara Davina semakin terpaku menggali ingatan tentang teman kampus mereka yang bernama Leo.


"Pelan sayang," Dewa menyeka lelehan ice cream di sudut bibir Cintya dengan jarinya lalu menjilatinya tanpa malu. membuat Davina terpaku oleh pemandangan manis di depannya.


"Dari Cowok playboy kamu banting setir jadi Cowok manis ternyata." Davina terkekeh. "Padahal aku dulu harus bersaing dengan setengah isi kampus buat dapetin kamu."


Huk!


Dewa tersedak, kenapa juga harus bahas masa lalu, bikin mati gue lo, Vina sialaaan. umpatnya dalam hati.


oh, jadi beneran ada cerita nih, nanti kita sidang ya sayang. Cintya tersenyum penuh arti.


"Dewa aku pergi dulu ya, suamiku nunggu di bawah." pamitnya yang langsung di cegah oleh Dewa.


"Lo nikah gue gak di undang ya? lo beneran nikah sama anak Militer?"


"Iya, suami aku angkatan laut, jadi kita LDR an mulu," Davina mengambil kantong belanjaannya yang ia letakkan di sebelahnya, berniat pergi. "Bye Cintya," Davina memeluk singkat tubuh Cintya meski tak menjawab salam perpisahannya. "Bye Dewa." lalu wanita anggun itu melenggang pergi setelah melambaikan tangan.


"Jadi itu tadi mantan yang ke berapa?" tanya Cintya datar. ada aura-aura merajuk dalam intonasi suaranya. tiba-tiba Dewa merasakan mules di perutnya bukan karena ingin ke kamar kecil atau sakit, melainkan pasti akan drama yang membutuhkan adegan rayuan.


"Gak gitu cinta,"


"Gak gitu apanya, senang ya ketemu mantan sampai Tya di cuekin?"


Hormon kehamilan sialan, bikin gue susah aja.


"Besok Cintya mau babymoon, tanpa bantahan!" Cintya mendahului Dewa melangkah keluar dari restoran dengan membawa aura kemarahan.


"Baiklah nyonya." ujar Dewa pasrah mengikuti langkah cepat Cintya.

__ADS_1


__ADS_2