
Happy Reading...
"Dewa..."
"Daddy."
Sapa mereka bersama menerbitkan senyum di wajah Dewa. dan jangan lupakan dua orang yang seketika itu membeku dengan wajah memucat.
Suasana mendadak menjadi hening. meski dalam ruangan itu gema dari lantunan gending-gending yang mengiringi acara tersebut masih terdengar nyaring.
Leo menatap tajam kearah wanita yang sedang menggandeng tangan si kecil yang memanggil Dewa dengan sebutan Daddy.
Sedangkan wanita yang sedang di perhatikan sama sekali tak terganggu. masih dengan raut wajah tenang dan bahagia wanita itu berbicara.
Wajah Cintya mendadak kaku, namun ia paksakan untuk tersenyum. ribuan pertanyaan berkelebat dalam benaknya. namun ia terngiang ucapan Dewa.
"Lo cukup percaya sama gue."
Percaya?
Setelah ada kejadian ini?
Kenapa kata itu sangat meragukan.
Baiklah, Cintya hanya harus bersabar sebentar saja, tak akan memakan waktu lebih dari tiga jam sebelum pesta pertama berakhir.
Cintya akan bicara, empat mata dari hati ke hati. bahkan dari mulut ke mulut sekalipun.
Ia tak pernah lupa jika pria tampan yang sedang bersanding di pelaminan adalah mantan pemain. mungkin saja benihnya sudah tercecer di mana-mana. membayangkan itu ada rasa seperti tercubit di dasar hatinya.
Perlahan wajah tegang Cintya memudar berganti dengan senyum ceria seperti biasanya. tak menampakkan raut sedih ataupun kecewa.
__ADS_1
"Daddy," Panggil anak itu lagi dan beringsut memeluk kedua kaki Dewa dengan mata berbinar.
Senyum Dewa semakin melebar, tangannya terulur untuk membelai pucuk kepala pria kecil yang tengah memeluknya.
"Apa kabar nak?" tanpa canggung Dewa bertanya. dan sang ibu masih dengan senyum hangatnya.
Dengan lincahnya Dewa mengangkat anak itu dan menggendongnya. menciumnya gemes.
"Tampan juga anak lo Wa, sebelas dua belas lah sama lo."
Sang Asisten durjana memulai sesi iseng untuk mengobarkan api dalam dada sang ratu sehari.
Mendengar kata sebelas dua belas membuat Cintya kembali mengingat tentang Lucia berdaster. dan sumpah demi batu Zamrud yang Dewa berikan untuknya, Cintya ingin sekali menghajar pria jelmaan Ken barbie itu.
Menyebalkan.
Dewa menatap horor, ia tahu jika Alex sengaja membuatnya sulit. anggap saja Alex balas dendam karena Dewa memberinya banyak pekerjaan di saat dirinya juga memiliki banyak masalah.
Banyak masalah.
"Gak usah mancing-mancing deh lo." Alex nyengir di ikuti kekehan Zack di sampingnya.
Membayangkan Dewa gagal malam pertama adalah mood booster bagi dua pria sableng itu. tapi menjadi kejengkelan bagi para Readers.
Bagaimanapun malam pertama
ini adalah penantian panjang buat si Dewa Sableng. jadi tidak boleh sampai gagal.
"Kok baru muncul, mampir kemana?"
"Tadi sebelum kesini Delon sedikit demam, jadi gue harus turunin panasnya dulu."
__ADS_1
"Udah ketemu eyang? pasti eyang seneng lo bawa dia kesini."
"Tadi aku temuin eyang dulu, tapi Delon tak sabar pengen ketemu sama kamu."
Mereka masih terhanyut dalam reuni keluarga bahagia, dan melupakan satu orang dengan satu kalimat pertanyaan di benaknya. 'Anak siapa Dia'.
"Daddy, Delon kangen sama Daddy." ujar anak itu dengan cadel.
"Iya sekarang udah ketemu Daddy, jadi sini peluk Daddy nya.
Anak itu menurut, memeluk Dewa dengan sangat erat.
Leo yang melihatnya seperti tertampar oleh kenyataan. bukan pada interksi antara Dewa dan anak itu melainkan pada wajah sang anak.
"Aku temui mama sama papa dulu ya," Dewa mengangguk. "Ayo Delon, kita temui oma sama opa."
Pria kecil itu turun dari gendongan Dewa dengan meninggalkan satu kecupan di pipi si pria sableng.
Hati Leo terasa seperti di remas manakala wanita yang menggenggam tangan si kecil itu sama sekali tak melirik ke arahnya.
Lidahnya kelu suaranya tercekat di tenggorokan. bahkan untuk membasahi tenggorokannya pun ia tak sanggup.
Dengan tenaga yang tersisa dari keterkejutannya Leo memberanikan diri untuk bersuara. hanya untuk memanggil sebuah nama.
"Lilian."
***
Gak akan ada konflik berat dalam cerita ini.
NO pelakor no pembinor, hanya ada perusuh kecil. dan selanjutnya hanya ada kisah manis tentang Dewa dan Cintya yang entahlah...
__ADS_1
jejaknya genksss...