
Hai.. hai... aku balik lagi ,,,
Buat kalian yang masih mengikuti dan kasih jempol, semoga bahagia, panjang umur, banyak rejeki, dan semoga tahun depan yang kurang dari satu bulan, kalian dapat hadiah mobil dari suami masing-masing, ha..ha..ha..
***
Happy Reading...
"Jangankan cuma tubuh kamu yang gendut, kakak bahkan rela menanggung semua beban kamu. rasa sakit kamu dan semua rasa yang membuat kamu merasa tak nyaman."
Dengan sadar Dewa mengucapkannya. tapi sepertinya ia lupa jika apa yang kita ucapkan adalah Do'a. dan Dewa telah menyatakan bahwa ia akan menanggung semuanya sendirian. dan itu artinya Dewa pun telah bersiap untuk merasakan segala yang di rasakan ibu hamil.
"Tapi aku takut."
"Tak perlu takut, kakak akan selalu berada di samping kamu." ucapnya menenangkan.
"Kalau aku ngidam gimana?"
"Apapun yang kamu mau sayang, kakak akan memberikan nya."
"Bukan itu maksudku, apa kakak gak akan marah?"
"Kakak akan marah kalau kamu minta hal yang membahayakan kamu dan twins. jadi apa mau kamu sekarang"
"Emm" Cintya tampak berfikir jari telunjuk nya mengetuk-ngetuk keningnya.
"Nanti saja, biar aku pikirkan dulu sekarang aku mau makan, aku lapar."
Dewa mengusap rambut cintya yang tergerai. dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Baiklah, mau makan apa?"
"Aku kok dari tadi nyium aroma soto sih kak, apa di sekitar sini ada yang jual soto?"
"Mungkin ada di kantin rumah sakit, mau makan di sana?" tawarnya pada Cintya dan langsung di angguki dengan mata berbinar.
Tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan kecuali bisa menuruti dan membuat orang yang di cintai bahagia.
__ADS_1
Seperti saat ini, Dewa tak melepas kan pandangan dan senyumnya melihat Cintya memakan sotonya dengan lahab. meski ia tak ikut memakannya, tapi hanya dengan melihat Cintya makan, rasanya Dewa yang merasa kenyang.
"Kakak mau?" Cintya mendekat kan sesendok nasi ke mulut Dewa, aroma gurih menyeruak menyapa indra penciuman Dewa. seketika itu perutnya bergejolak. mual tak tertahan.
Dewa menolak secara halus dengan menggelengkan kepala. bukan karena ia tak lapar, tapi itu karena tiba-tiba perut nya kram dan kaku.
Mungkin itu efek dirinya yang kelelahan. nafsu makannya menurun drastis. berbeda dengan Cintya yang meningkat pesat sejak drama ia meminta seblak Lucia.
Makin di tahan, semakin tak nyaman. keringat dingin di pelipisnya mulai mengembun. rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi bersamaan dengan Cintya yang menelungkupkan sendok dan garpunya. satu mangkuk soto ia tandaskan hanya dalam waktu sepuluh menit.
Berpura-pura nyaman itu tak enak, pening di kepala dan mual di perut yang ia rasakan seperti orang mabuk. membuatnya tersiksa.
"Cinta, tunggu di sini, kakak ke toilet sebentar." pamitnya pada Cintya. dan tanpa menunggu persetujuan, Dewa melesat pergi.
Tak peduli jika ia menjadi pusat perhatian, Dewa pergi ke toilet dekat kantin dengan sedikit berlari.
"Huekk,,, Huekk,, "
Dewa tak mengeluarkan apapun kecuali rasa panas di tenggorokannya. di abaikannya keringat yang menetes-netes. ia tetap ingin mengeluarkan apapun dari perutnya. tapi ia tak berhasil hingga ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan kakinya seperti habis berlari puluhan kilo meter.
Dewa terduduk lemas. rambut lepek setengah basah dengan nafas terengah.
Sejenak Dewa menenangkan diri. barang kali ia akan merasakan mual yang ketiga kali, ia akan langsung melakukan medical ceck up.
Setelah beberapa menit, ia kembali ke dalam kantin dan di dapatinya istrinya sedang pasang muka cemberut.
"Lama banget sih!" Cintya cemberut sebal.
"Maaf Cinta, tadi kakak mual." ujarnya lirih.
"Siapa yang hamil siapa yang mual coba." sengitnya mencibir.
"Tak apa jika kakak harus menggantikan kamu mual, tapi itu tidak mungkin semendadak ini sayang."
"Mungkin saja, siapa tahu."
"Ya baiklah.. baiklah.. terserah, ayo kita pulang. kita beri tahu eyang soal ini. eyang pasti senang."
__ADS_1
Keluar dari rumah sakit, Dewa masih merasakan nyeri di ulu hatinya dan panas di tenggorokannya pun masih meninggal kan rasa tak nyaman. tapi ia tak akan mengeluh. dan belum tentu juga itu adalah Syndrome kehamilan simpatik.
Wajah Dewa masih menyisakan pucat, dan Cintya melihat itu. aroma jalanan yang bercampur debu siang itu semakin menyiksanya. apalagi jalanan macet di saat jam makan siang. Dewa lupa jika ia telah melewatkan jam makan siangnya. dan Dewa merasa sedikit lapar.
"Kakak kok pucet sih?" tanya Cintya dengan raut khawatir yang terlambat.
Tadi meledek sekarang khawatir. apa-apaan dia ini.
"Tak apa, mungkin karena mual tadi."
"Oh!" Cintya hanya ber Oh ria. tanpa simpati sedikitpun.
Apa itu bisa di sebut egois?
Di liriknya Cintya yang bersandar di pundaknya. ada rasa bahagia yang tak dapat di ungkapkan. seperti kupu-kupu berterbangan dalam perutnya. Dewa merasakan jatuh Cinta berkali-kali lipat.
Ia merasa Tuhan begitu baik padanya. bagaimana tidak, selama ini ia telah menjadi manusia yang jauh dari kata baik. bergelimang dosa dan melalaikan kewajibannya sebagai umat manusia. dan sekarang Tuhan menghadiahkan kebahagiaan yang luar biasa padanya.Mendapatkan wanita yang di damba yang sekarang sedang membawa dua nyawa dalam rahimnya.
Jalanan siang sangat terik, matahari seolah berusaha untuk membuat kapok para manusia di bumi. dan di saat ini Dewa kembali merasakan keanehan
Hidungnya menangkap aroma tak biasa. sesuatu yang hampir sepanjang hidupnya tak pernah menyentuh lidahnya. dan sekarang ia menginginkannya.
Aneh, bahkan saat ini ia sedang berada di tengah jalan raya, dalam mobil dengan pengharum beraroma kopi. dan entah mengapa ia mencium aroma lain.
Ubi bakar dengan aroma pembakaran arang sepertinya enak.
Kata hatinya meluncur begitu saja melalui bibirnya setengah bergumam.
"Kakak bilang apa?" Cintya menoleh, merasa ada yang bersuara.
"Gak apa, kamu tiduran aja." ujarnya, lalu meraih kepala Cintya agar bersandar kembali di pundaknya.
Mungkin Dewa kesurupan setan penghuni toilet kantin rumah sakit.
****
Ndesooo...
__ADS_1
wkkk....
Jejaaak..