Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Aku akan mati


__ADS_3

Happy Reading...


"Lepas! jangan sentuh aku!" Cintya menepis tangan Dewa yang ingin menyentuh tangannya.


"Cinta, tolong dengarkan kakak sebentar sayang." Dewa dengan suara serak manahan perih di hatinya masih berusaha untuk meraih tangan Cintya ke dalam genggamannya.


"Kau tak perlu menjelaskan apapun dan aku pun tak ingin mendengarkanmu lagi, pergi!" hardik Cintya lantang dengan suara meninggi.


"Sayang, kakak mohon. dengarkan sebentar saja. setelah ini kakak tak akan bicara apapun lagi. tapi tolong, beri kakak kesempatan." mohon Dewa Lagi.


"Tak ada lagi kesempatan untukmu Dewa Herlambang. aku membencimu. sangat membencimu."


"Sayang, kakak mohon dengarkan sekali saja."


"Apa lagi!? kau telah menjadi penyebab kematian ayah. aku tak mau melihatmu."


"Cinta, please!"


"Pergi dari hadapanku atau kau akan menggali kuburku."


"Cinta"...


"Cinta"...


"Cinta"...


" Wa, bangun wa, kenapa lo?"


Dewa terlonjak karena Alex mengguncang tubuhnya.


"Kenapa lo?"


Dewa hanya menatap sekilas, setelah itu ia beranjak duduk. keringat masih membasah di kening dan pelipisnya.


Syukurlah cuma mimpi.


"Elo sakit?"


Mengabaikan pertanyaan Alex, Dewa tertunduk dengan kedua siku yang betumpu pada kedua pahanya. Tangan besarnya meremas rambutnya penuh kefrustasian.


"Gue panggilan dokter, lo pucet banget wa."


Masih membisu, Dewa hanya menarik nafas panjang. mengisi rongga dadanya yang sesak. kedua tangannya menangkup wajahnya yang tertunduk.


"Wa! lo denger gue gak sih!" Alex kesal. Dewa sama sekali tak mendengar ataupun menjawab pertanyaannya.


"Gue gak budek Lex." Jawab Dewa pelan nyaris tak terdengar. membuat Alex semakin khawatir. tak biasanya Dewa bicara pelan padanya.


Apa dia kesambet karena kelaparan, Oh Alex ngeri.


Di pandangnya Dewa dengan seksama. ada yang berbeda. tak pernah Alex melihat ekspresi Dewa yang seperti ini. raut kekhawatiran dan ketakutan. bahkan saat Bosnya itu bersaing memperebutkan tender pun tak pernah ia melihatnya seperti itu.


"Ya udah, nih gudeg lo. makan gih. gue udah susah nyariin buat elo sampai belah nangka segala.


"Belah buah nangka aja lo ribet, giliran belah duren lo malah ribut cerita."


Alex nyengir. tapi dia juga bersyukur, Dewa sudah kembali ke mode cerewet. mungkin ketularan Istrinya.


Dewa keluar dari naproomnya menuju meja kerja nya. masih banyak pekerjaan yang harus di selesai kan, ia malah tertidur.


Setelah kepergian Leo dua jam yang lalu, tiba-tiba ia merasa pusing. mungkin setelah berbaring sebentar ia akan merasa lebih baik. namun sayangnya ia malah mendapatkan mimpi yang membuat kepalanya makin pusing.


"Nohh gudeg spesial buat papi Dewa." Alex menyodorkan makanan itu tepat di hadapan Dewa. lengkap dengan sendok garpu dan teh manis.


Dewa melirik tanpa minat. perkataan Leo sudah mencabut nafsu makannya secara paksa.


Dewa harus memikirkan sesuatu. sebuah rencana ataupun alibi. agar yang ia takuti tak sampai terjadi.


Cintya tak boleh mengingat jika saat itu dirinya juga berada di sana. bersama teman-teman nakalnya.


Setidaknya sampai ia mengakui sendiri perbuatannya. Dewa hanya butuh waktu untuk mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kok bengong? ayo makan, gue udah susah cari itu, sampe pegel kaki gue. masuk angin juga."


Alex berkata penuh drama, dan sepertinya dia lupa jika Dewa adalah pemikir yang kritis.


Di liriknye sebentar wajah Alex dan nama yang tertera di atas pemungkus gudegnya.


"Lo mau bohongi gue, mau tipu gue?" sarkas Dewa.


"Bohong apa sih Wa? enggak, gue gak bohongin lo." Alex berujar dengan gugup. bahkan matanya bergerak liar tak berani menatap Dewa.


"Lo itu cuma pergi tiga jam, emang lo sesakti apa bisa nyampe jogja Pe Pe tiga jam itu."


Alex nyengir ketauan bohong.


"Gue emang gak me jogja, males gue. palingan elo cuma mau nyusahin gue doang iya kan hak serius pengen makan itu." Alex mencebik.


"Sekarang gue mau makan, sekalian makan elo." Dewa melotot kesal.


"Serah elo, yang penting lo makan, biar kuat menghadapai kenyataan."


Dewa tersedak. cepat-cepat Alex menyodorkan air putih milik Dewa.


"Ya lo bener, gue harus kuat untuk menghadapai kenyataan dan kemarahan nyonya." Dewa melanjutkan makannya. entah benar atau terpaksa yang jelas Dewa tak mual saat memakannya. dan itu cukup membuat Alex senang. setidaknya ia akan lolos dari hukuman makan.


"Emang lo udah buat salah apa sama nyonya?"


Dewa menghentikan suapannya. Sendok yang di pegangnya masih menempel di mulutnya. " Gak ada, gue gak buat salah saat ini. setidaknya belom ketahuan."


"Berharap banget lo punya salah."


Ya emang gue udah salah Lex, fatal lagi. mungkin tak termaafkan.


Dewa menghela nafas. mendadak nafsu makannya lenyap entah ke mana. di ambilnya secangkir secangkir teh manis yang di buat oleh Alex dan meminumnya sedikit.


"Lo dari mana Lex lama bener?" disandarkannya punggung lebar itu seolah mencari sandaran hatinya yang sedang risau.


"Gue?" tunjuk Alex ke arah dadanya." Gue kan nyari makan buat elo. gimana sih?" Alex berdecak.


"Gue gak ngelayap, cuma mojok sebentar sama.. temen gue. iya temen gue." ada nada kebohongan yang kentara.


"Mojok di pojokan kamar hotel? sama siapa?"


Mampus gue kalo Dewa tau gue masukin Cewek ke apartemen.


"Gak, gue tadi ngobrol bentar di kafe" Alex kembali nyengir menutupi kebohongannya. tapi bukan Dewa jika tak dapat mengendus kebohongan anak buahnya.


"Gue gak peduli lo mojok di mana tapi kalo lo sampe masukin perempuan ke apartemen gue, habis lo sama nyonya."


"Apartemen gue kali Wa." ujar Alex tak terima.


"Yang berkuasa kan nyonya Lex sekarang, gue mah babu. sama kayak elo." Dewa terkekeh samar. tapi hatinya tak perlu di tanya.


"Elah, Wa nasib lo." Alex geleng-geleng. meski ia tahu yang Dewa katakan tidaklah benar.


"Lex, sebentar lagi lo gak bakalan gue susahin lagi. jadi jangan ngeluh dari sekarang. kalo gue suruh apa-apa lo nurut aja."


Alex tak menyadari jika nada bicara Dewa sudah berganti.


"Emang dari dulu gue bisa ngeluh gitu."


"Mungkin nanti lo gak bakalan susah lagi. tapi sayangnya lo harus cari majikan baru."


"Lo ngomong apa sih wa, lo mau pecat gue?"


"Gue gak akan pecat lo sampe mati."


"Berarti lo mau mati?"


"Mungkin sebentar lagi."


"Eh, lo ngomong apa sih Wa? aneh banget gak suka gue. ngeri gue dengernya."

__ADS_1


Dewa hanya mengedik dengan senyum miris. bahkan Dewa tak pernah menduga jika masalah ini akhirnya akan mencuat ke permukaan


bahkan Cintya yang menjadi korbannya.


Sudah dapat di bayangkan jika Cintya sampai tahu bahwa Dewa adalah salah satu dari mereka, pastilah mimpi yang Dewa alami akan menjadi kenyataan.


Dewa akan mati jika Cintya membencinya. mati perlahan karena rasa bersalahnya dan juga rasa cintanya.


Beresin meja gue, gue mau balik jemput nyonya.


Matahari telah tenggelam di kaki langit. senja yang begitu berkilau tampak angkuh menerpa awan yang menggumpal.


Dinginnya udara sore setelah hujan menghantarkan kerinduan dari cinta yang begitu besar untuk jantung hatinya.


Dewa bergegas mengendarai mobilnya. membelah jalanan yang mulai menggelap. secepatnya ia ingin memeluk tubuh mungil istrinya yang mulai membuncit. beberapa bulan lagi ia akan menjadi pria sempurna. tapi Dewa ragu akankah masa itu akan datang.


Cintya bukanlah gadis bodoh yang dapat terus-terusan di bohongi. ataupun gadis yang mudah menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan.


"Kak, ini foto siapa? kok aku seperti pernah lihat dimana gitu. rambutnya sama gaya pakaiannya aku familiar banget."


Sore itu, ketika pertama kali Dewa mengajaknya masuk ke dalam apartemen nya. Cintya tak sengaja membuka file lama dalam laptop Dewa.


Tak ada apapun yang di pikirkan Dewa saat itu. karena itu hanyalah foto lama. dan Dewa pun tak tertarik untuk menceritakannya. jika saja Cintya tak pernah menemukan foto itu, mungkin Dewa tak akan serisau ini.


Hari sudah petang saat ia sampai di kediaman keluarga Mahendra. pemandangan pertama yang tertangkap netranya adalah istrinya yang sedang duduk sendirian di serambi rumahnya.


Wajah Cantik itu yang sejak empat bulan lalu menjadi pemandangan yang paling ia kagumi tengah tersenyum ke arahnya. menyambutnya dengan binar bahagia dan penuh cinta.


Seketika itu Dewa merasakan nyeri di dadanya. ada luka yang tak sengaja ia torehkan di sana.


Membayangkan Cintya menatapnya tajam penuh kebencian seperti melumpuhkan otot-ototnya. Dewa tak akan sanggup. tapi menyembunyikan kebohongan juga bukan pilihannya.


Dengan langkah di buat ringan Dewa menghampiri gadisnya yang telah ia buat perutnya membuncit. senyumnya yang menawan menghujam, Dewa semakin sakit saat melihatnya.


"Cantik banget istri orang." Dewa merengkuh Cintya kedalam pelukannya. mencium pucuk kepala dan menghirupnya kuat. seolah aroma itulah yang membuatnya hidup. menggantikan oksigen yang memenuhi paru-parunya.


"Wangi banget?" mendusel berpotongan lehernya dengan rakus.


Mungkin tak akan lama lagi aroma ini akan menjauh dari gue. Batin Dewa berteriak nelangsa.


"Ini pipi kok makin mirip bakpao, pengen gigit." Di ciumnya dengan kuat pipi yang sedikit chubby itu. membuat Cintya terkekeh.


"Bibirnya mana sih, kok tenggelam gini." Di kecupnya bibir mungil berlipstik pink itu.


"Manis!"


Mungkin sebentar lagi bibir ini akan mencerca tanpa ampun. Hati Dewa sudah banjir bandang hanya dengan membayangkannya.


"Kangen kamu." ujar Dewa dengan senyum terukir indah di kedua sudut bibirnya.


"Kakak sapa ibu sama kakek dulu ya setelah itu kita balik." Dewa merangkul pundak Cintya dan membawanya masuk.


"Kakak gak lupa kan sekarang hari apa?" Cintya bertanya dalam rangkulan Dewa.


Bagaimana gue lupa kalo hari ini ulang tahun kamu, tepat di hari itu juga gue buat kesalahan terbesar.


Seperti badai topan yang menghantam, Dewa merasakan ketakutan luar biasa dalam hatinya.


Tidak, jangan sampai Cintya mengingat wajahnya.


"Mau kado apa?"


"Gak mau apa-apa. cuma mau ke tempat itu saja."


Mata Dewa terpejam. Leo membohonginya. Cintya tak pernah benar-benar lupa dengan kejadian itu.


***


Puanjaaaaang... seperti yang kalian mau.


Jejaaaak...

__ADS_1


biar jari-jari emak ini gak sia-sia ngetik ampe keriting.


__ADS_2